Deqa Dhalac, Muslimah Pertama yang Jabat Wali Kota Portland Selatan

  • Bagikan
Deqa Dhalac Portland Selatan

Ngelmu.co – Deqa Dhalac (53), menjadi muslimah pertama yang menjabat wali kota di negara bagian Maine, Amerika Serikat (AS).

Kota bernama Portland Selatan itu merupakan yang terbesar ke-4 di Maine.

Sebelumnya, Deqa juga mendapat kepercayaan untuk menjadi anggota dewan di kota tersebut.

“Itu sangat indah, membuat saya meneteskan air mata,” tuturnya, seperti Ngelmu kutip dari The Portland Press Herald, Jumat (17/12/2021).

Deqa yang berdarah Somalia-Amerika itu resmi menjabat sebagai wali kota pada 6 Desember 2021.

Makin menyita perhatian, karena ia yang berkulit hitam, dipercaya menjadi wali kota yang 90 persen warganya berkulit putih.

Deqa memang telah meninggalkan Somalia di saat pecahnya perang saudara, 1992 silam.

Lalu, ia terpilih sebagai Wali Kota Portland Selatan, setelah tiga tahun menjabat sebagai anggota dewan kota District 5.

Komunitas muslim Maine pun menyambut kemenangan Deqa dengan baik.

Pihaknya menyebut ini sebagai tanda meningkatnya keterlibatan sipil komunitas muslim Amerika.

Abdullahi Ahmed yang merupakan kepala sekolah ‘Deering High School’ sekaligus pemimpin komunitas Somalia Maine, misalnya.

Di saat menyampaikan doa pembukaan pada upacara peresmian dewan, ia bilang:

“Anda di sini untuk membangun pekerjaan yang sedang berlangsung. Kami sangat bangga pada Anda, Deqa.”

Begitu juga dengan Direktur Eksekutif Greater Portland Immigrant Welcome Center Reza Jalali.

Ia yang turut hadir di antara banyak pemimpin komunitas imigran Maine, mengatakan:

“Kami semua anggota baru memiliki kebanggaan pribadi dalam hal ini.”

Dewan Hubungan Amerika-Islam, organisasi hak-hak sipil muslim terbesar dan organisasi advokasi, memuji potret ini.

Pihaknya menilai terpilihnya Deqa adalah tanda keterlibatan sipil komunitas muslim Amerika, meningkat.

Sebagaimana kata juru bicara, Ibrahim Hooper. “Kami berharap Wali Kota Deqa, akan membantu menginspirasi generasi baru muslim Amerika.”

“Di saat mereka mengambil peran yang meningkat dalam membangun masyarakat lebih baik,” sambung Ibrahim.

Sementara Deqa, dalam pidato pelantikannya berjanji akan tetap berpikiran terbuka sebagai wali kota.

Ia juga siap mendengar semua saran serta kritik, dengan pengertian, empati, dan kasih sayang.

Baca Juga:

Deqa juga membahas, bagaimana beberapa tahun terakhir banyak imigran Somalia—dan negara lain–yang berpartisipasi dalam pemilu.

Walaupun di masa lalu, mereka ragu untuk maju dan bersaing.

Namun, kini mereka berupaya, agar dapat ‘mengambil’ posisi kepemimpinan di Maine.

“Saya pikir, kami selalu agak takut untuk terlibat. Kami menunggu orang [lain] untuk melalukan sesuatu,” kenang Deqa.

Ini berlangsung, sebelum akhirnya pada 2018, ia memberanikan diri untuk berpartisipasi dalam pemilu dewan kota Portland Selatan.

Deqa juga sadar, keputusannya maju berhasil mengejutkan sebagian pihak.

Alasannya tak lain karena 90 persen warga Kota Portland Selatan, berkulit putih. Mayoritas mereka juga beragama Kristen.

Namun, hal itu tidak membuat Deqa mundur dan ragu.

Salah satu faktor yang justru meyakinkannya adalah komentar bekas presiden AS, Donald Trump.

Trump, sebelumnya secara jelas telah merendahkan imigran Somalia.

Pada 2016, Deqa pun bergabung dalam demonstrasi mengecam pernyataan Trump.

Setelah rentetan momen itu, beberapa kalangan mendorong Deqa, maju dalam pemilu dewan kota.

Meski lawan Deqa pada 2018 adalah pemilik bisnis lokal, tetapi ia tetap berhasil memenangkan pemilu.

Deqa, menjadi penoreh sejarah; warga Afrika-Amerika sekaligus muslimah pertama yang dipercaya menjadi Wali Kota Portland Selatan.

  • Bagikan