Duka Tumpah Membalas Cuitan Ndoro Kakung

  • Bagikan
Wicaksono Ndoro Kakung
Petugas pemakaman mengenakan pakaian pelindung, memakamkan jenazah pasien Covid-19 di Pemakaman Umum Bambu Apus, Jakarta, Indonesia, 10 Februari 2021. Foto: Anadolu Agency/Anton Raharjo

Ngelmu.co – Para pengguna media sosial Twitter, menumpahkan duka mereka, ketika membalas cuitan eks jurnalis, Wicaksono.

Sejak twit tersebut mengudara pada Sabtu (9/10) lalu, sampai hari ini, Senin, 11 Oktober 2021.

Semua berawal saat pria asal Yogyakarta yang juga pemilik akun Twitter @ndorokakung, itu bertanya.

“Hai kamu, bagaimana rasanya ditampar kenyataan ini?”

Demikian ia melempar tanya, sembari mengunggah data Nikkei terkait Indeks Pemulihan Covid-19.

Di sana tertera, Indonesia naik ke urutan 54–dari 121 negara yang diteliti–dari sebelumnya pada Juli 2021, berada di peringkat ke-92.

Peringkat itu juga menjadi yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Namun, utas yang Wicaksono tulis pada akun Twitter-nya, justru mencipta duka.

“Maksudnya, menikmati hasil anak kembar saya jadi yatim, karena bapaknya meninggal bulan Juli lalu, gitu, Ndor?” tanya @tsalisanadhira.

“Menikmati hasil, saya jadi single parent, gitu?” imbuhnya pilu. “Enteng banget ngomongnya, heran.”

“Enggak ngerasain ‘kan lo, dunia jungkir balik kehilangan pasangan hidup,” sambung Tsalisa, pada twit selanjutnya.

Ia bukan satu-satunya. Pengguna Twitter bernama Imam Lingga, juga demikian.

Ia pun melayangkan tanya pada Wicaksono. “Menikmati hasilnya sendiri?” tuturnya heran. “Istri gue mati,” sambung Imam.

“Anak dilahirkan sebelum waktunya. Di NICU dua pekan. Keluar NICU harus pakai inkubator,” lanjutnya menjelaskan.

“Baru keluar inkubator dua pekan lalu, sekarang dua anak jadi piatu. Coba rasain sendiri deh,” imbuhnya lagi.

Pemilik akun @kurtadit, juga menumpahkan duka saat membalas cuitan Wicaksono.

“Kalau mau egois, gue lebih milih kayak kemarin saja, waktu lagi parah-parahnya, tapi almarhum bokap sama mertua masih ada,” ujarnya.

“Senikmat-nikmatnya kondisi sekarang, enggak akan senikmat kalau mereka masih ada,” ucapnya.

Baca Juga:

Seorang konsultan, Lynda Ibrahim, juga menanggapi cuitan Wicaksono.

“Saya kenal, Ndoro, in real life. Bertegur-sapa baik. Saya juga tahu, Ndoro, diehard pemerintah ini sejak awal,” tuturnya.

“Itu hak politik pribadi, tapi cuitan mati rasa ini, sepenuhnya menafikan karier awal Ndoro sebagai jurnalis, yang pernah mampu imparsial,” imbuhnya.

“Enggak ngira saya, Ndoro, tega mengetikkan kata-kata ini. Mungkin Ndoro, memaksudkan cuitan ini untuk kritikus-kritikus pemerintah tentang pandemi,” sambungnya lagi.

“Saya, dan banyak orang, juga tidak selalu setuju dengan grup yang kerap dilabeli SJW pandemi itu,” jelas Lydia.

“Tapi cuitan ini, sukses menjadikan pemerintahan yang begitu dibela Ndoro, menjadi musuh bersama di timeline. Well done,” tutupnya.

Akun @arman_dhani, juga membalas twit Wicaksono. “Pandemi membuat kakakku meninggal. Keluarga kami berduka.”

“Keponakanku jadi yatim. Setiap hari, harus menjelaskan bahwa ibunya tak akan kembali lagi,” imbuhnya.

“Aku kehilangan pekerjaan tiga kali. Suicidal dan depresif. Masih di-guilt trip menikmati kondisi ini? Al-Fatihah,” kata Dhani.

Terakhir, balasan yang Ngelmu dapati pada cuitan Wicaksono, berasal dari seorang dokter paru, Irandi Putra Pratomo.

“Kalau berperan jadi baj*ngan tanpa empati di masa pandemi seperti sampean, siapa yang membutuhkan dan menikmati, Kang Mas?”

Terlepas dari pernyataan Wicaksono, sebelumnya, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir, juga memanen protes dari warganet.

Pasalnya, ia menyebut berkah, sebagai sisi positif dari pandemi Covid-19

Selengkapnya, Anda bisa baca di:

  • Bagikan
ngelmu.co