Jejak Digital Dede Budhyarto: dari Imigran Yaman, Anies, Hingga Kajian Ramadan

  • Bagikan
Dede Budhyarto Yaman Anies

Ngelmu.co – Publik tampak geram dengan jejak digital Komisaris Independen PT Pelni Kristia (Dede) Budhyarto.

Setidaknya, melalui akun Twitter pribadinya, @kangdede78, ia telah berulang kali memicu kegaduhan.

Mulai dari pernyataannya soal imigran Yaman, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hingga terkait kajian Ramadan.

Imigran Yaman

Pada Ahad (27/2/2022) lalu, @kangdede78, mengetwit, “Kenapa negara Yaman, hancur lebur digempur oleh Arab Saudi?”

“Lihat saja kelakuan keturunan imigran Yaman, yang ada di Indonesia, selalu bikin gaduh republik ini,” sambungnya.

“Dikit-dikit demo, dikit-dikit demo,” imbuhnya lagi.

Ulah Dede itulah yang kemudian membuat Komisi VI DPR RI, melayangkan desakan kepada Menteri BUMN Erick Thohir.

“Seorang komisaris BUMN, seharusnya mampu menjaga muruah perusahaan negara.”

“Bukan malah membuat pernyataan dengan diksi-diksi di media sosial yang memancing keresahan dan perpecahan antarkelompok masyarakat.”

Demikian kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Gerindra Mohamad Hekal, Senin (28/3/2022); melalui keterangan tertulis.

Dede, sambungnya, seharusnya fokus pada tugasnya sebagai komisaris BUMN, dan mengoptimalkan fungsi pengawasan.

“Tolong fokus saja pada tupoksinya sebagai komisaris, bagaimana mengawasi kinerja BUMN.”

“Bukan malah kerap melontarkan pernyataan provokatif di media sosial.”

Hekal juga berpesan, agar Erick Thohir dapat lebih selektif dalam memilih komisaris.

“Demi jalannya roda pemerintahan yang baik, dan menghentikan hancurnya perpecahan di masyarakat, maka saya meminta, agar Menteri BUMN Erick Thohir, menegur tegas komisaris dan direksi BUMN yang kerap membuat gaduh masyarakat.”

“Kita harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa saat ini, seperti apa yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi,” sebut Hekal.

“Kalau Dede Budhyarto tidak bisa menjaga persatuan bangsa, seperti apa yang diharapkan Presiden Jokowi, maka sebaiknya dievaluasi saja dari Komisaris Pelni,” tutupnya.

Kata Bakar Smith

Sebelumnya, Bakar Smith–melalui akun Twitter pribadinya–juga menegur Dede.

“Kang Dede, sebagai Komisaris BUMN PT Pelni, tulisan njenengan terbaca rasis,” tuturnya, yang langsung dibalas oleh Dede:

Iya, maaf yang sebesar-besarnya, dengan segala hormat, Bib.

Sebenarnya tidak maksud untuk rasis, dan berlaku tidak untuk semua 🙏.

Terkadang saya kurang kontrol, bahwa segala sesuatu saat ini, media bisa framing dari sudut pandang yang berbeda.

Tapi itu murni keteledoran saya. Sekali lagi mohon maaf.

Baca Juga:

Soal Anies

Usai pernyataannya mengenai imigran Yaman, menjadi persoalan, Dede kembali bikin gaduh media sosial.

Masih melalui beberapa twit di akun Twitter-nya, @kangdede78, ia bilang:

Untuk jualan ‘politik indentitas’ yang akan digunakan ketika Anies, copras capres, maka JIS, digunakan untuk Salah Id.

Karena kalau pakai area Monas, identik dengan gerombolan radikalis.

Padahal dari zaman bahela, Salat Id warga Jakarta, dipusatkan di Masjid Istiqlal.

Enggak mau dituding menggunakan politik identitas, tapi menggunakan sarana olahraga yang ‘diakui’ hasil kerjanya, untuk kegiatan keagamaan.

Gubernur paling pendusta sepanjang sejarah republik ini, ya, Anies Baswedan.

Tidak punya prestasi kerja, hanya ‘pembangunan untuk pemandangan mata’ di DKI Jakarta.

Jalan satu-satunya, jualan massa dengan memanfaatkan fasilitas olahraga. Gubernur DKI Terburuk sepanjang sejarah.

Dede bicara demikian, kala membalas twit Gubernur Anies, yang berbunyi:

“Hari ini sejarah kembali ditorehkan di Jakarta International Stadium. #LebarandiJIS.”

Loyalis Anies Baswedan, yakni Geisz Chalifah, pun langsung menjawab Dede:

Sebelumnya, JIS digunakan untuk perayaan Natal. Congor pecundang lu kagak ribut, tapi kalau untuk kegiatan Islam, berisiknya luar biasa.

Sebenarnya, lu itu dengki pada Anies, atau cuma saluran untuk mengekspresikan kebencian lu pada Islam?

Urusan Kajian Ramadan

Belum selesai. Sebab, jika mundur ke Ramadan tahun lalu, publik juga ramai-ramai memprotes Dede.

Bagaimana tidak, terkait acara kajian Ramadan online yang belum berizin, seorang pejabat PT Pelni, dipecat.

Sikap Pelni itu jelas mendapat kritik keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Jika melihat poster yang beredar, acara tersebut bertajuk ‘Kajian Online Zoom Meeting Ramadhan 1442 H’.

Di mana temanya adalah ‘Ramadhan Memperkuat dan Memperteguh Iman’.

Rencananya, pengisi acara itu adalah Ustaz Firanda Andirja, Ustaz Rizal Yuliar Putrananda, Ustaz Subhan Bawazier, KH Cholil Nafis (Ketua Bidang Pengurus MUI Pusat), dan Ustaz Syafiq Riza Basalamah.

Lalu, rencananya acara tersebut akan berlangsung secara live streaming di akun media sosial, @BakisPelni.

Namun, Dede bilang, dewan direksi Pelni, belum memberi izin pembicara yang didatangkan pada acara tersebut. Sehingga acara dibatalkan.

“Direksi belum memberi izin terkait dengan penunjukan pembicara,” ujarnya, Jumat, 9 April 2021 lalu.

“Direksi, sampai saat ini belum mendapat info pembicara yang akan diundang dalam kegiatan Ramadhan,” lanjut Dede.

“Sehubungan dengan hal tersebut, kami memutuskan meniadakan kegiatan ceramah dalam kegiatan Ramadan,” imbuhnya lagi.

“Sementara ini yang dimutasi level supervisor, dan dibebastugaskan sebagai VP,” sambung Dede.

Melalui akun @kangdede78 juga, ia mengatakan bahwa tindakan tegas dari direksi, sekaligus untuk mewaspadai penyebaran isu radikalisme di jajaran BUMN.

“Ini pelajaran sekaligus warning kepada seluruh BUMN. Jangan segan-segan mencopot ataupun memecat pegawainya yang terlibat radikalisme.”

“Jangan beri ruang sedikit pun, berangus,” kata Dede.

Pelni Minta Maaf

Bagaimana dengan manajemen PT Pelni? Pada Jumat (9/4/2021), mereka meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Pihaknya mengaku telah mengambil tindakan yang diperlukan, serta menjalankan upaya; sesuai nilai-nilai Pancasila dan NKRI.

Berikut pernyataan Pjs Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni Opik Taufik, melalui keterangan tertulis:

Kami telah melakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang terkait langsung.

Kami sekaligus meminta maaf kepada segenap stakeholder dan masyarakat, atas kegaduhan yang terjadi.

Ini akan menjadi evaluasi bagi kami untuk ke depannya.

Setelah dilakukan klarifikasi kepada penyelenggara kegiatan, kami mendapati terdapat kealpaan untuk melakukan komunikasi.

Sebagaimana yang biasa dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, kami segera merespons kekeliruan ini secara serius.

Bakis PT Pelni adalah badan keagamaan islam di bawah perusahaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Bakis PT Pelni merupakan bentuk fasilitasi untuk pegawai muslim di perusahaan.

Agar mereka dapat melakukan kegiatan rohani, seperti kegiatan Ramadan, Idulfitri, Iduladha, pengajian, dan juga menyalurkan zakat serta infak para pegawai.

Namun, tahun lalu rencana kegiatan Bakis PT Pelni justru dipermasalahkan, dan salah satu yang suaranya paling kencang adalah Dede.

MUI Mengkritik

Dua petinggi MUI juga mengkritik keputusan Pelni; terkait polemik daftar penceramah pengajian Ramadan.

“Pembatalan jadwal pengajian Ramadan oleh direksi PT Pelni, dan pencopotan petugas yang menangani masalah kerohanian di PT pelat merah itu adalah bentuk nyata arogansi kekuasaan.”

“Kebijakan tersebut melukai perasaan umat Islam, dan bertentangan dengan sila pertama Pancasila.”

Demikian tegas Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Muhyiddin Junaidi, Jumat (9/4/2021) lalu.

Ia juga menuturkan, pembinaan mental spiritual di kalangan pegawai sebuah perusahaan adalah bagian integral.

Dari agenda pengembangan SDM, yang punya integritas tinggi kepada bangsa dan negara.

Bahkan, ceramah agama sangat perlu, untuk mengembangkan rasa kepemilikan serta tanggung jawab kepada perusahaan.

“Dengan demikian, kerugian dan hilangnya aset negara bisa diatasi. Kasus penyalahgunaan dan penyimpangan juga bisa diatasi.”

“Seharusnya, pemerintah memberikan insentif kepada mereka yang aktif dan kreatif dalam membantu pemerintah di bidang pembinaan mental spiritual.”

“Bukan sebaliknya, diancam dan dikenai sanksi berat,” tegas MUI.

Pihaknya juga meminta, agar para petinggi negara sadar, dan berhenti mengaitkan tindak kekerasan dengan perilaku umat Islam.

Sekjen MUI Amirsyah Tambunan juga menyayangkan pembatalan kegiatan pengajian Ramadan 1442 H.

“Sekjen MUI menyesalkan pembatalan sejumlah ustaz di PT Pelni.”

“Ceramah lewat zoom, terkait pelaksanaan Ramadan, dengan tema ‘Ramadhan Memperkuat dan Memperteguhkan Iman’.”

“Tema yang menarik dan aktual kajian Ramadan 1442 H, telah diagendakan tanggal 8-29 April 2021.”

“Sangat kita sesalkan pembatalan tersebut,” tegas Amirsyah, kala itu.

“Mengapa ini terjadi di negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa?”

“Di negara yang toleran, justru tindakan pembatalan inilah yang menimbulkan intoleran!”

  • Bagikan