“Kalau Tak Setuju dengan Kebijakan Baru, Mereka Tidak Bisa Pakai WhatsApp”

  • Bagikan
Kebijakan Baru WhatsApp

Ngelmu.co – Direktur Komunikasi WhatsApp Asia Pasifik, Sravanthi Dev, menyatakan bahwa para pengguna yang tidak menyetujui kebijakan baru, tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut.

Kebijakan Baru WhatsApp

“Mereka enggak bisa [pakai sama sekali, kalau tidak menyetujui kebijakan baru]. Jadi, kalau mereka enggak setuju sama kebijakan itu, mereka enggak bisa pakai WhatsApp,” tuturnya, Rabu (17/2) lalu.

Mengutip Kumparan, WhatsApp, enggan mengubah keputusannya soal kebijakan baru, meski memicu kontroversi di awal tahun ini.

Sebelumnya, WhatsApp, memperkenalkan kebijakan baru, di mana pengguna harus menyetujuinya, sebelum 8 Februari 2021.

Namun, karena menuai banyak kecaman, ‘tuntutan’ kepada para pengguna itu mundur ke tanggal 15 Mei mendatang.

Meski demikian, kebijakan baru [meliputi bagaimana WhatsApp memproses data pengguna, bagaimana perusahaan dapat menggunakan layanan yang di-hosting Facebook untuk menyimpan dan mengelola obrolan WhatsApp, serta bagaimana WhatsApp akan segera bermitra dengan Facebook untuk menawarkan integrasi yang lebih dalam di semua produk perusahaan induk] pihaknya, tidak berubah.

WhatsApp Business API

Lebih lanjut, Dev mengeklaim, misinformasi yang membuat kebijakan baru memanen reaksi negatif para pengguna.

Ia pun menjelaskan, kebijakan baru itu memang membuat chat pengguna WhatsApp ke akun WhatsApp Business API, tidak terenkripsi lagi secara end-to-end.

Artinya, layanan hosting dapat menyimpan data percakapan pengguna dengan akun bisnis.

Tetapi Sravanthi mengatakan, bahwa kebijakan tersebut, hanya berdampak untuk sesi percakapan dengan akun bisnis–yang ada di layanan WhatsApp Business API.

Sebagai informasi, saat ini, WhatsApp punya tiga layanan chat:

  1. WhatsApp biasa;
  2. WhatsApp Business; dan
  3. WhatsApp Business API.

“Untuk WhatsApp, Business API adalah tentang bagaimana WhatsApp menghasilkan uang,” kata Dev.

“Kami memberikan biaya kepada brand, kebanyakan yang memakai Business API adalah perusahaan besar,” imbuhnya.

Baca Juga: WhatsApp, Aplikasi yang Belakangan Ini Kebijakan Privasinya Dipertanyakan

Pengguna yang mengirim chat ke akun personal pun WhatsApp Business, sambung Dev, tetap terenkripsi secara end-to-end.

Pengguna dapat melihat, apakah sesi chat mereka terenkripsi secara end-to-end atau tidak, lewat kotak kecil berwarna kuning–di awal chat.

Sementara sesi chat dengan akun WhatsApp Business API, pengguna tidak akan menemukan kotak penjelasan enkripsi end-to-end.

Pasalnya, informasi pada sesi chat tersebut akan dikumpulkan, serta bisa diolah oleh penyedia hosting.

Kebijakan baru tersebut, kata Dev, bertujuan untuk memudahkan perusahaan besar dalam mengakomodasi pelanggannya–lewat pemrosesan data pribadi.

“Pada enkripsi end-to-end, kalau saya berbicara dengan kamu dalam sebuah percakapan, hanya saya dan kamu yang bisa melihat pesan, jadi hanya di antara kita,” tuturnya.

“Ketika kamu punya bisnis yang pakai layanan host dan ngobrol dengan customer, percakapan itu dapat dilihat oleh [akun] Business [API] tersebut, di layanan host mereka,” sambung Dev.

“Karena mereka mau memberikan pelayanan ke customer, lebih baik lagi,” lanjutnya lagi.

Data Apa Saja yang Dikumpulkan?

Sayangnya, sampai detik ini, belum jelas data serta informasi apa saja yang akan layanan hosting Facebook kumpulkan, dari chat pengguna dengan akun WhatsApp Business API.

Dev hanya mengatakan, bahwa informasi yang dikumpulkan akan ‘spesifik’, tetapi tidak menjabarkan secara detail, informasi spesifik macam apa yang dimaksud.

“Dengan kebijakan ini, orang punya pilihan. Kamu bisa memilih untuk berbicara dengan [akun] Business [API], atau tidak. Pilihan itu terserah kamu,” ujarnya.

Terlepas dari itu, WhatsApp tetap tidak memberikan pilihan kepada pengguna untuk menolak aktivitas berbagi data dengan layanan hosting Facebook.

Secara terpisah, WhatsApp sempat menjelaskan jika aktivitas berbagi data dengan Facebook untuk tujuan ini, sudah berlangsung sejak Agustus 2016.

Namun, saat itu WhatsApp masih memberi pengguna pilihan untuk tidak ikut berbagi aktivitas data, sementara pada kebijakan baru, opsi menolak tak lagi ada.

Padahal, pilihan untuk mengizinkan atau menolak pengambilan serta pemrosesan data pribadi merupakan salah satu hak pengguna.

Pengguna Harus Tetap Pegang Kontrol Penuh

Sebagaimana yang disampaikan Direktur Eksekutif ELSAM, Wahyudi Djafar.

Kebijakan baru WhatsApp, belum mengakomodasi hak pengguna untuk memilih data apa saja yang boleh diproses.

Dalam menjalankan layanan, kata Wahyudi, platform digital memang memerlukan data pribadi penggunanya, tetapi pengguna harus tetap memegang kontrol penuh [atas data pribadi macam apa yang boleh diambil platform].

“Ada data-data dasar yang boleh diambil oleh penyedia layanan, dengan tetap kontrol penuh si pengguna layanan. Prinsip perlindungan data pribadi ‘kan demikian,” tegasnya.

“Cuma, masalahnya ‘kan terms of service hari ini belum secara keseluruhan mengakomodasi pilihan untuk opt in, opt out,” sambung Wahyudi.

“Ini yang ke depan, perlu diperbaiki dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP),” jelasnya lagi.

Wahyudi pun menekankan, bahwa platform digital, wajib menjelaskan data macam apa yang mereka koleksi dari pengguna.

Ia juga menambahkan, bahwa saat ini, belum ada regulasi di Indonesia yang mewadahi kewajiban platform digital–seperti WhatsApp–untuk menyediakan pilihan opt in atau opt out untuk pengguna [dalam terms of service].

Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan di Eropa dan Inggris.

Sebab, di sana, WhatsApp tidak dapat menerapkan kebijakan baru mereka, karena cukup ketatnya UU perlindungan data pribadi Eropa (GDPR) [yang mengatur bagaimana layanan digital, mengambil data pribadi pengguna].

Keengganan WhatsApp, menyediakan pilihan menolak untuk pengguna, juga menjadi bumerang bagi perusahaannya.

Publik Bicara soal Aplikasi Lain

Sebab, publik masih terus menanyakan risiko keamanan data mereka. Sebagian pengguna WhatsApp, bahkan telah beralih ke aplikasi perpesanan lain [demi melindungi privasi].

Di tengah perbincangan ini, muncul aplikasi chat dan telepon buatan anak bangsa yang menjanjikan keamanan data para penggunanya; QePon.

“Hari ini kamu pengin ngobrolin apa dan dengan siapa di aplikasi, tapi mulai was-was terganggu privasi? Daripada terjebak aplikasi pesan yang mulai ganggu privasi, masih ada lho aplikasi pesan yang mementingkan privasi pengguna.”

“QePon memiliki standar keamanan yang tinggi, sehingga Anda tidak perlu khawatir dengan pihak yang menyadap koneksi ponsel Anda melalui QePon.”

“Sekali lagi, data Anda aman, karena QePon selalu menjaga privasi Anda dari pihak lain,” demikian bunyi janji tersebut.

Mengulas lebih lanjut, QePon, dapat beroperasi di berbagai platform Android. Begitu pun untuk i-Phone yang akan segera hadir.

Sementara demi melindungi pesan serta telepon antara pengirim dan penerima, QePon, menggunakan kriptografi asimetrik.

Artinya, hanya pengirim serta penerima pesan pun telepon yang dapat berkomunikasi, “Bukan orang lain, bukan juga pihak QePon.”

QePon juga menyatakan, pihaknya menggunakan Firebase Cloud Messaging (FCM), sebagai mekanisme utama.

Kegunaannya adalah untuk membangkitkan ponsel dari mode sleep, ketika pesan masuk.

Dengan cara ini, aplikasi QePon, tidak harus selalu terkoneksi setiap saat dengan servernya.

Mengingat aplikasi ini buatan anak bangsa, tim Ngelmu pun langsung coba mengunduh dan menggunakannya.

Dari pengalaman–sejak akhir 2020 lalu–aplikasi ini memiliki sudut yang menarik, yakni bagaimana pengguna tidak dapat menangkap layar (screenshot).

“Kami paling peduli privasi kamu,” tegas pihak QePon.

  • Bagikan
ngelmu.co