Kisah Mereka yang Mengubah Penjara seperti Pesantren

  • Bagikan
Ubah Penjara Jadi Pesantren

Ngelmu.co – Pesantren memang bukan penjara. Namun, bukan tidak mungkin mereka yang ditahan justru mengubah penjara menjadi seperti pesantren.

Habib Rizieq Shihab

Teranyar adalah Habib Rizieq Shihab (HRS) yang sampai detik ini masih berada di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri.

Kehadirannya membawa begitu banyak pengaruh positif. Salah satu yang paling nampak adalah hidupnya kegiatan keagamaan.

“Suasana seperti pesantren. Masjid setiap hari makmur dengan sholat berjemaah, zikir, pengajian, buka puasa daud bersama, hingga Duha dan Tahajud.”

Demikian kata kuasa hukum HRS, Aziz Yanuar, mengutip Republika, Jumat (12/3).

Baca Juga: Pakar Nilai Proses Peradilan Terhadap HRS Diskriminatif

Begitu pun dengan keberadaan KH Shobri Lubis, Habib Hanif Alatas, dan lainnya yang ikut aktif berdakwah.

Mereka mengajarkan berbagai ilmu agama kepada para tahanan. Menggelar pengajian, sembari membekali kitab al-Munajat [berisi aneka zikir, doa, wirid, hizib, dan shalawat].

“Inilah agenda revolusi akhlak yang sedang digelorakan Imam Besar Habib Rizieq dan kawan-kawan,” tutur Aziz.

“Untuk menghijrahkan umat dari maksiat kepada taat,” sambungnya.

Jeruji penjara, lanjut Aziz, tidak menjadi penghalang bagi perjuangan HRS dan kawan-kawan, karena justru di dalam penjara, mereka telah membuktikan secara langsung.

“Dengan praktik, bahwa revolusi akhlak adalah solusi terbaik bagi problem bangsa dan negara,” ujarnya.

Bimbing Dua Orang Bersyahadat

HRS, Habib Hanif, dan Ustaz Shobri, bahkan membimbing seorang ayah dan anak di Rutan Narkoba Bareskrim Polri, bersyahadat.

“Hari Jumat, 26 Februari 2021, dua orang tahanan narkoba yang merupakan ayah dan anak, menjadi mualaf di Rutan Mabes Polri,” ungkap Aziz.

“Mereka kemudian diberi nama Muhammad Mika dan Ahmad Ridho,” imbuhnya, Jumat (5/3) lalu.

HRS, sebelum membimbing keduanya mengucapkan syahadat, memastikan bahwa ayah dan anak itu memutuskan untuk menjadi mualaf tanpa adanya paksaan.

“Sesaat sebelum masuk Islam, Habib Rizieq melakukan verifikasi, untuk memastikan bahwa kedua mualaf tersebut masuk Islam dengan kemauan sendiri,” kata Aziz.

“Tanpa paksaan, ancaman, atau bujuk rayu dari pihak mana pun,” pungkasnya.

Habib Bahar bin Smith

Gambaran senada juga muncul dari Habib Bahar bin Smith yang Oktober 2019 lalu, mendekam di Lapas Kelas II A Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Ia pun mengubah suasana di dalam penjara itu menjadi seperti pesantren. Bahkan, tidak sedikit warga binaan yang menjadi taat beragama.

Mereka melaksanakan sholat berjemaah. Habib Bahar juga kerap berceramah. Warga binaan pun nampak memakai kopiah hingga baju koko.

Ketika masih [ditahan] di ruang tahanan Polda Jabar, Habib Bahar juga telah membimbing enam narapidana untuk bersyahadat.

Maka tak heran, jika para penghuni lapas bersedih saat Habib Bahar hendak dipindahkan ke Lapas Pondok Rajeg, Cibinong, pada Kamis (8/8/2019).

“Jangan tinggalin, Bib, jangan tinggalin, Bib,” begitu teriakan napi di Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Jabar [terdengar hingga ke ruang Bid Humas yang bersebelahan langsung].

Mereka bukan hanya berteriak, tetapi juga menangis karena merasa kehilangan.

Para napi pun terdengar melantunkan shalawat, sembari bergantian memeluk pimpinan Ponpes Tajul Alawiyiin itu.

Kuasa hukum Habib Bahar, Hendi Noviandi juga mengatakan, “Sekarang, rata-rata [napi] hapal hingga puluhan hadits.”

“Tentunya karena sehari-hari mereka ini mendapatkan ceramah dari Habib Bahar, selain juga keahlian membaca Al-Qur’an,” imbuhnya, di Mapolda Jabar, Kamis (8/8/2019) lalu.

“Jadi, setiap malam saya ajarkan para tahanan ini. Mereka juga tadi semuannya menangis, saat saya akan meninggalkan tahanan,” kata Habib Bahar.

“Mudah-mudahkan mereka bisa istiqamah,” lanjutnya berharap.

Ustaz Ahmad

Bergeser ke luar Indonesia, ada juga cerita di balik jeruji penjara Mesir dari Hasan Ibrahim.

Ia menceritakan tentang Ustaz Ahmad, ayah dari dua orang anak yang juga merupakan seorang insinyur dalam bidang teknologi informasi.

Mereka kerap bertemu, meski jarang berbincang. Beberapa kali, Ustaz Ahmad mengirim berbagai artikel tentang teknologi kepada Hasan.

“Masjid-lah yang setiap hari mempertemukan kami di waktu-waktu sholat,” kata Hasan.

Ustaz Ahmad adalah sosok yang ramah dan senantiasa menjaga sholat berjemaah di masjid.

“Kebetulan rumahnya persis di samping masjid tempat saya biasa sholat.”

“Menjelang jatuhnya Mubarak, ia termasuk orang yang sibuk mengoordinasi para pemuda untuk ronda di komplek tempat kami tinggal.”

Langkah yang ia pilih, setelah peristiwa pembataian massal oleh junta militer terhadap ribuan pendukung presiden pilihan rakyat di Rabeah Al-Adaweyah.

“Munculah gelombang demo besar-besaran yang merata di seluruh Mesir.”

Di antaranya adalah aksi demo damai, pada Jumat (16/8/2013) lalu, yang kembali memakan korban jiwa.

“Darah kembali tumpah, dan rumah Allah kembali dinistakan.”

Korban berjatuhan di Masjid Fatah Ramses [berisi ratusan orang]. Selain luka tembak, para Muslimah juga dikurung selama berjam-jam oleh para preman [di bawah pengawalan militer pengkhianat].

“Ratusan orang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.”

Namun, apa hubungannya Ustaz Ahmad dengan peristiwa Ramses ini?

“Saya pun tidak tahu… yang saya tahu, sejak saat itu, saya tidak pernah lagi melihatnya di masjid.”

Tiga pekan setelahnya, barulah Hasan kembali menatap Ustaz Ahmad di saf pertama, usai sholat Maghrib.

“Bapak-bapak dan para pemuda yang biasa sholat di masjid, mendekat, menyalami, dan memeluk Ustaz Ahmad.”

Mereka nampak begitu bahagia karena bisa kembali bertemu dengan Ustaz Ahmad.

“Akhirnya saya bertanya kepada seorang pemuda yang ada di situ, ‘Ada apa dengan Ustaz Ahmad? Kenapa orang ramai mengelilinginya?’.”

Tersentuhnya Hati Para Napi

Setelahnya, baru Hasan paham, bahwa Ustaz Ahmad, ditahan oleh pihak keamanan Mesir, di hari terjadinya peristiwa Ramses.

Ia ditahan di penjara Thurah yang terletak di selatan Kairo. Tempat yang memiliki sejarah cukup panjang.

“Penjara ini adalah penjara untuk tahanan politik dan pelaku kriminal.”

Penjara tersebut dibangun oleh menteri dalam negeri Musthafa Nuhas Basya, pada 1928.

“Dengan tujuan untuk meringankan beban penjara Abu Za’bal lama yang sudah sangat penuh.”

Beberapa tokoh Islam juga pernah melewati hari-hari mereka di dalam penjara tersebut.

“Syeikh Abdul Hamid Kisyk, Mohandis Khairat Syathir, Syekh Yusuf al Qardhawy, dan tokoh-tokoh Ikhwan Muslimin lainnya.”

Syukurnya, Ustaz Ahmad tak mengalami siksaan fisik selama di dalam penjara.

Namun, di hari-hari pertama, ia tetap menerima kata-kata kasar serta cacian.

“Beliau dimasukkan ke dalam sel yang berukuran lebih kurang 15 m x 15 m, yang dihuni oleh 80 orang.”

“Di setiap sel, diselipkan beberapa orang terpidana kasus-kasus kriminal, seperti pembunuhan, perampokan, dan pencurian.”

Lebih lanjut, Ustaz Ahmad, menceritakan bahwa orang-orang yang ditangkap bersamanya [di hari yang sama], berasal dari berbagai kalangan.

Ada yang sudah bergelar doktor, magister, dan insinyur. Bekerja sebagai guru, karyawan di perusahaan minyak, perusahaan telekomunikasi, dan lainnya.

“Secara umum, mereka adalah orang yang mengenyam pendidikan secara baik. Mereka inilah yang pada akhirnya membuat pemandangan baru di dalam penjara.”

Baca Juga: Kisah Mualaf Bos JNE dan Mimpinya Dirikan 99 Masjid

Mereka senantiasa mendirikan sholat secara berjemaah. Membaca Al-Qur’an. Berdoa, berzikir, qiyamullail, puasa Senin-Kamis, hingga bersih-bersih sel dan kamar mandi.

“Melihat ini, para penjahat kriminal mulai tersentuh dan tersadarkan.”

“Mereka yang selama ini tidak mengenal sholat dan tidak tahu cara berwudu, mulai belajar kepada ‘penghuni baru’ penjara.”

Keluarga Para Tahanan pun Bersyukur

Para tahanan mulai rajin sholat, bahkan mendirikan Tahajud. Setiap hari, selalu ada pelajaran yang mereka sampaikan secara bergantian.

“Mereka adalah da’i hakiki yang selalu menebar kebaikan. Di mana pun mereka berada.”

“Apakah orang-orang seperti ini yang disebut teroris, yang harus diperangi, dipenjara, bahkan dibunuh?” tanya Hasan.

“Sebenarnya yang hak dan batil itu sudah nyata di hadapan kita. Hanya saja, mata hati dan nurani kita telah buta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada,” (QS. Al-Hajj: 46).

Perubahan ini juga membuat para keluarga tahanan kasus kriminal yang datang menjenguk saudaranya, kaget sekaligus bersyukur.

Sebab, tak jarang di antara mereka, meminta untuk dibawakan Kitab Suci Al-Qur’an, agar dapat mengisi lebih banyak waktu dengan manfaat.

“Sepertinya, penjara itu tidak mampu memasung ambisi para da’i. Tidak mampu memadamkan semangat mereka.”

“Tidak mampu menyurutkan langkah mereka, dan tidak mampu menyiutkan nyali mereka.”

Ungkapan syair ini pun tak keliru:

Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau merdeka di balik tembok-tembok itu.

Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau merdeka di dalam ikatan belenggu itu.

Sebab, mereka yang biasa memakmurkan masjid, telah membuktikan, bahwa mereka juga mampu menghidupkan serta memakmurkan penjara.

“Insya Allah, orang-orang seperti mereka juga yang akan membangun dan memakmurkan negeri ini.”

“Negeri para nabi ini sangat tidak layak diurus oleh para pengkhianat, pembunuh, dan perampok.”

Hasan juga mengaku sempat bertanya kepada Ustaz Ahmad, tentang teman-temannya di penjara.

“Apakah mereka sudah dibebaskan?”

Ustaz Ahmad menjawab, bahwa sebagian sudah dibebaskan, tetapi ada juga orang-orang baru yang ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel.

“Pemerintah kudeta akan membangun tiga penjara baru, dan suatu saat nanti, insya Allah, mereka sendiri yang akan mengisi sel-sel penjara itu,” pungkas Ustaz Ahmad.

KPLP Lapas Amuntai Riyadi

Kembali ke dalam negeri. Riyadi yang menjabat sebagai KPLP [Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan] Lapas Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, juga mengubah suasana penjara.

Jika biasanya identik dengan kekerasan, di tangannya, berubah menjadi seperti pondok pesantren.

Beberapa tahun sebelum 2017, kata Riyadi, pihak LP Kelas II B Amuntai telah mengubah cara pembinaan terhadap napi.

“Melalui program pesantren di dalam LP ini, kami terbantu dengan berkurangnya perilaku kekerasan napi, karena adanya sentuhan pendidikan agama,” tuturnya.

Pihak LP, selain membekali napi dengan pendidikan agama, juga mengajarkan keterampilan tangan.

Baik dengan membuat aneka produk kerajinan, serta cendera mata. Begitu pun dengan menjahit, mengukir, dan keterampilan lainnya.

Menurut Riyadi, program tersebut berhasil mengubah pola pikir.

Sebab, kenyatannya, hidup napi memang belum berakhir. Mereka tetap bisa bermanfaat ketika bebas nanti.

Para pelaku kejahatan yang masuk LP itu seperti sedang mondok, karena menjadi santri di Ponpes Terpadu At-Taubah.

Ahmad Nawawi Abdurrauf adalah pengasuh Ponpes tersebut. Ia mengatakan, bahwa pembinaan lebih kepada aspek religius.

“Mereka tidak disebut sebagai napi di dalam LP ini, tetapi sebagai santri, karena mereka adalah murid yang tengah menimba ilmu agama,” ujar Nawawi.

Mereka setiap harinya dibekali pendidikan keagamaan. Membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah, dan menjalani kegiatan majelis taklim.

Bahkan, mereka juga belajar berceramah atau berpidato, dan menjalani kegiatan positif lainnya.

“Jangan terkejut jika napi yang sudah bebas dari penjara di Amuntai, mereka jago mengaji, ceramah, azan, dan sebagainya,” kata Nawawi.

“Karena memang, setiap hari mereka mendapat pendidikan agama di ponpes LP Amuntai ini,” tutupnya.

Pesan yang dapat dipetik dari empat kisah di atas adalah bagaimana mereka menjadi bukti.

Bahwa, “Berlian akan tetap menjadi berlian, meski tersembunyi dalam tumpukan lumpur.”

  • Bagikan
ngelmu.co