Kunjungi Desa Terpencil di Sumbawa, Gubernur NTB Jalan Kaki 7 Jam untuk Tempuh 27 Km

  • Bagikan
Gubernur NTB Jalan Kaki 27 Kilometer

Ngelmu.co – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah, melakukan kunjung kerja ke daerah terpencil, Sumbawa. Mulai dari Desa Rarak Ronges, hingga Desa Marente.

Namun, untuk melewati jalan yang menghubungkan kedua desa tersebut, hanya bisa dengan berjalan kaki.

Pria yang akrab dengan sapaan Bang Zul, itu, bersama sejumlah kepala dinas lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun mereka memerlukan waktu hingga tujuh jam lamanya.

Penghasil Madu Hutan Terbaik

Desa Rarak Ronges, Kecamatan Brang Rae, Sumbawa Barat, berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sembari beristirahat, Zul, menikmati hawa sejuk dari desa penghasil kopi varietas robusta itu.

Ia, pun berbincang dengan masyarakat setempat, dengan pemandangan hutan sekitaran yang masih lestari.

Sebagai informasi, sampai hari ini, Desa Rarak Ronges, masih menjadi wilayah penghasil madu hutan terbaik.

Zul, berbincang tentang upaya pelestarian hutan bersama masyarakat. Ia, juga membahas usaha, guna mendorong nilai tambah produk kopi dan madu hutan dari sana.

Jalan Kaki 7 Jam untuk Tempuh 27 Km

Mengutip Kompas, dari hasil dialog itulah, Zul, mendapat informasi soal potensi yang Desa Marente, miliki.

Agar dapat sampai ke desa yang ada di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, itu, mereka pun menempuh perjalanan sejauh 27 kilometer dengan berjalan kaki, sejak Selasa (27/10) pagi.

Setelah berjalan sekitar tujuh jam lamanya, Zul, tiba di Desa Marente.

Selama perjalanan, Zul, mengaku terenyuh dengan kondisi masyarakat kedua desa tersebut.

Lelah mereka semua terobati, begitu tiba di Matemega, sebuah dusun ujung rimba yang masuk dalam kawasan Desa Marente.

Zul, bahkan mengaku bersyukur dapat menempuh perjalanan, sekaligus membuktikan keindahan alam Provinsi NTB, yang masih terjaga.

“Berjalan kaki tujuh jam, dari Desa Ronges ke Matemega, memberikan banyak pelajaran. Bahwa betapa indahnya alam kita, kalau hutan kita terjaga,” tuturnya, Rabu (28/10).

Baca Juga: “Wali Kota Termiskin di Dunia, Tapi Amat Kaya Jiwa dan Nuraninya”

Dalam perjalanan menuju lokasi, Zul, harus naik turun lembah. Bersama rombongan, ia, juga menyeberangi sungai yang jernih.

“Naik turun lembah, menyeberangi banyak sungai dengan air yang demikian jernih dan dingin, membuat diri serasa di surga.”

“Tapi setelah tujuh jam jalan kaki, yang paling melegakan adalah melihat ada kampung di ujung rimba,” akuan Zul.

Masyarakat Dusun Matemega, pun menyambut rombongan Zul, dengan penuh suka cita.

Kawasan mereka yang merupakan ada pada ketinggian 560 mdpl, juga terkenal sebagai kawasan penghasil kopi dan madu hutan.

Sayangnya, masyarakat setempat, masih harus hidup dengan keterbatasan infrastruktur.

Bahkan, Desa Marente, tak memiliki penerangan saat malam hari, karena belum terjangkau listrik.

Mendengar Aspirasi Warga

Maka saat menyambut kedatangan Zul, Kepala Desa Marente, Khairuddin, pun menyampaikan sejumlah aspirasi masyarakat.

“Ada 18 usulan kepada Pak Gubernur, salah satunya masalah listrik, yang sangat kita butuhkan,” ujarnya.

Menurut Khairuddin, listrik, menjadi kebutuhan paling mendesak bagi warga, “Mohon secepatnya ditindaklanjuti, Pak Gubernur,” imbuhnya.

Zul, pun merespons permintaan itu. Ia, akan mendorong pembangunan infrastruktur, agar Desa Marente, dapat penerangan selama 24 jam.

“Insya Allah, tahun 2021, listrik di Matemega dan sekitarnya, akan menyala 24 jam. Mohon doa Bapak Ibu semua,” pungkasnya.

  • Bagikan
ngelmu.co