Mengapa Bias Hasil Survei dengan Hasil Nyata? ini Analisis Said Didu

Ngelmu.co, JAKARTA – Sejumlah lembaga survei di Indonesia telah memaparkan hasil analisis mereka terkait hitung cepat atau quick count Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 yang baru saja selesai digelar pada Rabu (27/8/2018).

Namun, sejumlah pihak nampaknya tidak terlalu mempercayai hasil dari sejumlah lembaga survei tersebut. Bahkan, ada yang menilai jika ada bias antara hasil survei dengan hasil nyata yang terlalu besar.

Terkait hal itu, Mantan staf khusus Menteri ESDM Muhammad Said Didu membeberkan penjelasan mengenai persoalan bias hasil survei. Hal itu dikatakan Said Didu melalui akun Twitter @saididu yang diunggah pada Sabtu (30/6/2018).

Menurutnya, bias hasil survei dengan hasil nyata yang terlalu besar bisa disebabkan karena kesalahan metodologi. Lebih lanjut, Said Didu mengatakan jika kesalahan metodologi disebabkan unsur ketidakmampuan dan kesengajaan.

Bahkan, dirinya menyebut jika alasan itu terjadi karena ada kebodohan dan kebohongan statistik. Menurutnya, kebohongan statistik itulah yang menjadi sebuah kejahatan. “Bias hasil survey dg hasil nyata yg terlalu besar bisa disebabkan krn kesalahan metodologi.

Kesalahan metodologi bisa karena :

1) ketidakmampuan membuat rancob atau 2) kesengajaan. Penyebab 1) itu KEBODOHAN, penyebab 2) itu KEBOHONGAN statistik dan KEBOHONGAN inilah yg kejahatan,” tulis Said Didu.

Sebelumnya diberitakan, Said Didu juga memberikan penjelasan mengenai survei di akun Twitternya.

Dirinya juga membahas mengenai potensi kesalahan hingga rekayasa sebuah survei demi kepentingan subyektif pelaku survei.

Dalam analisisnya, Said Didu memberikan contoh sampai penjelasan mengenai tahapan-tahapan sebuah survei.