Mengenang Buya…

Ngelmu.co – Belajar ilmu agama dari Buya Yunahar Ilyas, sangatlah menyenangkan. Tahun 1988, titik awal pertemuan saya dengan Buya, di Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Beliau mengisi acara Pengkajian Aqidah Islam (PAI), di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saya peserta, sekaligus panitia.

Dari forum itu, kami minta ada kajian yang lebih mendalam dan serius.

Maka beliau, memfasilitasi panitia PAI untuk memperdalam ilmu agama melalui kajian kitab.

Saya ikut forum itu, di rumah kontrakan beliau, di Karangkajen Yogyakarta.

Sepekan sekali, kami mengaji kitab di rumah beliau. Saya masih kuliah di UGM waktu itu, dan masih lajang.

Dari forum inilah, kedekatan saya dengan Buya terbentuk.

Forum ini berjalan cukup lama, sekitar 4 tahun. Saya sangat senang dengan model pemahaman Islam yang beliau ajarkan.

Saya mengidolakan Buya, maka saya ikuti semangat dakwahnya.

Tentu, saya tidak bisa menyamai ilmunya. Namun, saya tak mau kalah dalam semangat dakwahnya.

Kami sering ketemu di bandara, tanpa sengaja. Beliau berangkat agenda dakwah ke satu kota, dan saya ke kota lainnya. Ketemunya di bandara.

Jika cukup lama tak bertemu, beliau akan mengontak kami, minta ketemuan.

“Kangen kalian,” kata beliau.

Lalu kami bertemu, kadang di rumah beliau, di Jalan Kaliurang, kadang di Rumah Makan Padang.

“Ajak teman-teman,” pesan beliau.

Yang beliau maksud ‘teman-teman’ adalah para peserta kajian kitab di rumah kontrakan beliau tahun 1988 itu.

Baca Juga: Innalillahi, Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas Meninggal Dunia

Beliau tak pernah menghapus kenangan tentang kami, walau beliau telah menjadi tokoh penting tingkat Indonesia, bahkan dunia.

Setiap kali ketemu kami, bak bendungan jebol, semua cerita Buya mengalir ke kami. Tentang apa saja.

Beliau sangat lancar bercerita, dengan leluasa. Kami melihat, beliau sangat bahagia.

Ada saat beliau pengin menjadi ‘manusia biasa’, yang bebas berekspresi tanpa beban citra diri.

“Di semua tempat, kita diperlakukan istimewa. Terutama oleh para panitia acara,” ujar beliau.

“Bersama kalian, saya bebas merdeka,” lanjut beliau dengan tertawa.

Ini yang membuat kami selalu kangen dan selalu dekat dengan Buya.

Ada resep bahagia dari Buya: Bahagiakan orang lain, kamu akan bahagia.

Pesan ini yang selalu saya coba laksanakan.

Doa kami mengiringi kepergianmu, Buya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah Buya Yunahar. Bebaskanlah dan maafkanlah dia. Luaskanlah kuburnya dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan embun.

Sucikan ia dari seluruh kesalahan, seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran.

Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya.

Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari siksa kubur dan azab neraka.

Aamiin.

Oleh: Cahyadi Takariawan