Nussa Jawab Tudingan Eko dan Denny dengan Penghargaan FFI

  • Bagikan
Nussa Jawab Tudingan Eko Denny

Ngelmu.co – Kita bisa belajar dari Nussa, untuk tak repot-repot menanggapi tudingan yang tidak jelas juntrungannya.

Meski merespons, tim yang ada di belakang Nussa, tetap santai menghadapi gonjang-ganjing yang ada.

Huru-hara yang dua di antaranya berasal dari Eko Kuntadhi dan Denny Siregar.

Sejak awal karya animasi ini muncul, keduanya sibuk ‘mengarang’ narasi.

Namun, tim Nussa, fokus menyelesaikan karya, sampai akhirnya berhasil memenangkan kategori Film Animasi Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2021.

“Terima kasih banyak, ya, Sahabat, atas dukungan dan kepercayaannya untuk Film Nussa, serta tentunya, terima kasih sudah #KembalikeBioskop untuk mendukung film animasi karya anak bangsa, dan menonton #FilmNussa.”

CEO Visinema Pictures Angga Sasongko juga bicara.

“Untuk ratusan orang yang terlibat dalam proyek ini, baik yang bekerja di @thelittlegiantz dan @visinema.animation, saya mewakili Visinema Group, menghaturkan terima kasih, dan selamat atas apresiasi ini.”

“Kerja keras, kerja sama, visi dan mimpi kalian telah menjadi kebanggaan dan inspirasi kami semua,” kata Angga.

“Nussa bisa. Mari kita menatap masa depan animasi Indonesia, dengan penuh percaya diri dan keyakinan,” sambungnya.

Ulah Denny

Pada Januari 2021 lalu, melalui akun Twitter pribadinya, Denny Siregar, menuding Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendalangi Nussa.

Ia pun coba bicara kepada Angga, dengan nada tanya. “Mas @anggasasongko, kenapa enggak meniru Upin Ipin?”

“Mereka tidak bicara agama, mereka tidak berpakaian agama, kecuali pas hari besar saja,” sambung Denny.

“Tokoh-tokohnya beragam, dari ras Melayu, China, sampai India. Ada usaha keras untuk menyatukan ras-ras di Malaysia.”

“Bukannya malah besarkan film eksklusif binaan HTI,” begitu cuitnya melalui akun Twitter @Dennysiregar7, Senin (11/1/2021).

Sejak itu, Angga, sudah menjawab. Tanggapannya selalu santai, karena tudingan yang tertuju pada Nussa, memang isapan jempol belaka.

“Karena saya enggak suka meniru sih. Saya suka karya yang otentik,” balasnya.

“Bahwa asimilasi budaya terjadi di Nusantara. Arab, Cina, Eropa, India, bahkan Mongol,” sambung Angga.

“Bahwa berpenampilan Islami pun anak-anak bisa tetap toleran, bahagia, dan jadi anak-anak sesungguhnya,” imbuhnya lagi.

“Kami bikin film untuk melawan prejudice [prasangka],” tegas Angga.

Baca Juga:

Meski demikian, Denny, tetap kekeh menilai, kalau film animasi Nussa, berkaitan dengan HTI.

“Mas @anggasasongko, apa enggak paham ya, kalau pilem Nusa ini yang bidani Felix Siaw?”

“Liat aja bajunya si Nusa, emang anak muslim Indonesia bajunya model gurun pasir gitu?”

“Setau saya, dari dulu kita sarungan deh. Hati-hati, Mas, jangan jadi jembatan propaganda mereka,” cuit Denny, lagi-lagi.

Angga tetap meresponsnya dengan santai. Ia menjelaskan, bahwa pada proses kreatif dan produksi, tidak ada keterlibatan pemuka agama.

“Cerita dan skenario film ini digarap Skriptura, divisi IP Development Visinema Group,” tuturnya.

“Produksi animasinya oleh The Little Giantz, dan distribusi serta promosinya oleh Visinema Pictures,” sambung Angga.

Ia juga mengaku, tidak paham, apa alasan Denny, sampai menyeret nama Ustaz Felix Siauw.

“Produsernya istri saya, @anggiakharisma. Penulis skenarionya dua, penulis saya di Visinema. Pendanaan juga dari Visinema dan The Little Giantz,” bebernya.

Meski tak memungkiri kemungkinan Ustaz Felix, berteman dengan tim pembuat film Nussa, Angga menegaskan, “Bukan berarti mengintervensi pekerjaan kami.”

“Visinema sudah 12 tahun bikin film. Saya enggak butuh pembelaan lebih jauh. Film-film kami, secara historis memberikan gambaran visi dan independensi kami,” jelasnya.

Lebih lanjut, Angga mengaku menghargai, jika maksud Denny adalah mengingatkan.

“Hanya saja, menuduh dan mengaitkan Nussa dengan satu kelompok, sangat menyesatkan,” kritiknya.

“Nussa dikerjakan banyak orang; dari berbagai suku dan ras, dari berbagai pemeluk agama,” tegas Angga.

Namun, sampai 30 Mei 2021, Denny belum berhenti. Ia masih terus berupaya mengaitkan film animasi Nussa, dengan HTI.

“Gimana HTI, enggak berkembang pesat di negeri ini? Wong para pejabatnya aja enggak paham kalau film Nussa ini adalah produksi Felix Siaw, dalam melakukan cuci otak kepada generasi muda di Indonesia. HTI ngakak membaca berita ini,” tudingnya.

Ulah Eko

Denny tak sendiri. Ada Eko–kawan yang hampir selalu satu suara–yang ikut menuding film animasi Nussa.

Bedanya, karangan narasi yang coba ia bangun adalah menghubungkan Nussa, dengan taliban.

Melalui beberapa cuitan, ia menuding Nussa, mempromosikan Indonesia, sebagai cabang khilafah, atau bagian dari kekuasaan taliban.

“Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan,” tuduh Eko, Sabtu (19/6.2021).

“Tapi film Nusa Rara mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah,” sambungnya.

“Atau bagian dari kekuasaan Taliban. Promosi yang merusak!” kata Eko.

“Di film animasi, pakaian mewakili sebuah identitas. Film bahasa simbol. Pakaian adalah simbol,” lanjutnya.

“Jadi, menilai film animasi, ya, salah satunya dari pakaian,” klaim Eko. “Masa sih, enggak ngerti.”

Sebenarnya, para pencinta tokoh Nussa dan Rara, tidak terpengaruh. Mereka juga ikut mengkritik Eko dan Denny.

Namun, Angga tetap meluangkan waktu untuk menanggapi dua orang ini.

“Ah, elo ayam sayur, Eko. Diajak nonton dan diskusi langsung sama gue, enggak nongol idung lo. Mengonfirmasi untuk tidak datang,” bebernya.

“Ayam sayur kayak lo, cuma berani sembunyi di balik jempol. Gak cukup punya nyali dan intelektualitas buat berdebat,” sambung Angga.

“Bisanya cuma datang, isu identitas pakai jempol,” imbuhnya ‘menyentil’.

Di sisi lain, Ryan Adriandhy yang merupakan komika sekaligus penggarap Nussa, bersama Visinema Pictures, juga sempat buka suara.

Ia membeberkan, bagaimana Eko, mengelak, dan lebih memilih untuk melanjutkan kicauannya di media sosial.

“Kami undang resmi baik-baik. Kami ajak nonton private. Gratis. Disewain studio Premiere XXI di Plaza Senayan. Kursi enak; supaya lihat produknya dulu sebelum menuduh. Lihat ceritanya. Kualitas animasinya. Mau diajak diskusi santai sama kreator, enggak mau, maunya lanjut ngebacot.”

Eko dan Denny, gagal.

Alih-alih membuat publik mengurungkan niat menonton film Nussa, cuitan Eko, justru memicu tanya.

Penulis, komika, sekaligus sutradara, Ernest Prakasa, salah satunya yang menyindir.

“Belum kebagian jatah komisaris, ya, Mas? Semoga segera, amin!,” cuitnya, Ahad (20/6/2021).

Lebih lanjut, Ernest menilai film Nussa, bukan hanya mempromosikan nilai-nilai yang positif.

“Nussa juga salah satu lokomotif industri animasi dalam negeri. Semangat terus bawa Nussa ke tempat yang lebih tinggi bro @anggasasongko,” tegasnya.

Sebelum menggondol penghargaan di FFI 2021, film animasi Nussa juga tampil di BIFAN [Bucheon International Fantastic Film Festival] 2021, mewakili Indonesia; bersama dua film lainnya [Paranoia dari Miles Films dan Death Knot karya aktor peran Cornelio Sunny].

“Karya, pada akhirnya akan bicara dengan sendirinya. Memberikan perlawanan lebih lantang dari klarifikasi,” tutur Angga.

  • Bagikan