Pasca Minyak Goreng, Kini BBM Jenis Solar Langka di Berbagai Daerah

  • Bagikan
Pasca Minyak Goreng, Kini BBM Jenis Solar Langka di Berbagai Daerah

Ngelmu.co – Beberapa waktu lalu, masyarakat dibuat pusing karena kelangkaan dan naiknya harga minyak goreng yang begitu drastis. Belum tuntas masalah tersebut, kini muncul masalah baru. Masyarakat kini dihadapkan dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Langka di Berbagai Daerah

Di sejumlah daerah, bahan bakar berjenis solar sulit sekali ditemukan. Sehingga beberapa SPBU mengalami antrean panjang selama berjam-jam. Sebenarnya, kelangkaan solar sudah terjadi sejak beberapa pekan. Namun, pihak Pertamina mengklaim bahwa distribusi penyaluran masih berjalan normal.

Karena sulitnya menemukan bahan bakar jenis solar, para sopir terpaksa harus berkeliling kota, demi mencari SPBU yang masih memiliki stok solar. Setelah itu, mereka pun harus mengantre cukup lama.

Kelangkaan solar sudah terjadi di sejumlah SPBU di Kota Bogor. Langkanya solar, diketahui terjadi sejak beberapa hari lalu. Salah satunya di SPBU Pertamina 34, Jalan Veteran Block Kepatihan Nomor 26, Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Hal ini pun dibenarkan oleh salah satu petugas SPBU tersebut, yakni Arief Hidayat. Ia mengatakan, meningkatnya permintaan dari pengendara, membuat stok solar habis.

“Sebenarnya ada, tapi solar ini banyak yang cari, jadinya jarang stoknya,” ujarnya.

Dikeluhkan Masyarakat Palembang

Antrean panjang juga dirasakan oleh sejumlah masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan. Kelangkaan membuat antrean menumpuk hingga dua jalur di pintu masuk SPBU.

Akibat antrean yang tak beraturan, mereka pun meminta pengelola SPBU agar menyiapkan petugas untuk mengatur kendaraan pembeli solar yang antre hingga ke jalan protokol.

Menurut kesaksian dari salah orang warga, Ali Rasyid, antrean tersebut terjadi di SPBU di kawasan Jalan Demang Lebar Daun Palembang selama sepekan terakhir.

Antrean mengular hingga ke jalan depan pintu masuk Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Khadijah. SPBU tersebut menjual yang menjual solar bersubsidi (bio solar).

“Pengelola SPBU jangan hanya fokus menyiapkan petugas untuk melakukan penjualan BBM dan mengabaikan pengaturan kendaraan pelanggan yang antrean panjang hingga jalan raya,” kata dia.

Dikutip dari Kompas.com, pada 2022, BPH Migas telah menugaskan PT Pertamina Patra Niaga dan PT AKR Corporindo untuk menyalurkan 15,1 juta kiloliter minyak solar. Penetapan kuota itu telah mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kemampuan keuangan negara.

Ketika terjadinya peningkatan kebutuhan atau gangguan distribusi di suatu daerah, maka Pertamina Patra Niaga dan AKR Corporindo dapat melakukan penyesuaian kuota antar penyalur di daerah yang sama sepanjang tidak mempengaruhi jumlah total kuota daerah tersebut.

Dalam perubahan kuota suatu daerah, Pertamina wajib melaporkan kepada BPH Migas paling lambat satu bulan setelah perubahan agar penyaluran tepat sasaran, sehingga kuota Jenis BBM Tertentu bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang berhak menerimanya.

Sementara itu, antrean panjang juga terjadi akibat melambungnya harga minyak goreng kemasaran yang mencapai Rp 25.000 per liter setelah HET dicabut. Akibatnya, para ibu rela mengantre untuk minyak goreng curah yang disubsidi dengan harga Rp 14.000 per liter.

Seperti yang terjadi di Rembang, Jawa Tengah. Ratusan warga rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan minyak goreng curah dengan harga Rp14 ribu per liter. Namun, agar tidak terjadi panic buying, pihak agen membatasi pembelian maksimal 18 liter.

Baca Juga: Ibu-Ibu, Mendag Lutfi Nanya soal Minyak Goreng nih

Antrean minyak goreng murah juga terlihat di Yogyakarta. Akibatnya, aparat polisi harus dikerahkan untuk mengatur antrean. Pembelian minyak goreng curah di Yogyakarta dibatas 5 liter per orang.

  • Bagikan