Said Didu vs Mahfud Md soal Islamofobia

  • Bagikan
Said Didu Mahfud Md

Ngelmu.co – Menko Polhukam Mahfud Md, saling sahut dengan mantan sekretaris BUMN, M Said Didu; soal Islamofobia.

Keduanya bersuara melalui akun Twitter pribadi masing-masing, @msaid_didu dan @mohmahfudmd, sebagaimana Ngelmu kutip pada Rabu (27/7/2022) ini.

Berawal dari Didu yang menanggapi artikel berjudul ‘Mahfud soal Islamofobia: yang Bilang Itu Abu Janda, Bukan Pemerintah’, dengan mengatakan:

“Sudah terbantahkan, bahwa Islamofobia memang ada di Indonesia, dan sepertinya yang melakukan hal tersebut dibiarkan oleh pemerintah.”

Mendapati cuitan tersebut, Mahfud pun kembali merespons, hingga berlanjut saling sahut antara dirinya dengan Didu.

Mahfud: Pak Didu, kalau mau komentar, baca dulu, ya. Anda selalu salah.

Saya bilang, kalau yang dimaksud Islamofobia itu kebencian dan ketakutan pemerintah terhadap Islam, maka itu tdk ada.

Wong umat Islam di Indonesia sudah bebas masuk dalam berbagai lapangan politik, sosial, budaya, dan institusi-institusi Islam tumbuh pesat.

Didu: Pak Mahfud yang terhormat, sebaiknya juga baca dulu mention saya.

Saya tidak menyatakan bahwa pemerintah Islamofobia, tapi menggarisbawahi pernyataan Prof, bahwa ada individu yang pernyataannya dicap Islamofobia.

Artinya, pengakuan bahwa Islamofobia ada di Indonesia, dan memang ada. Semoga jelas.

Terima kasih juga atas julukannya, bahwa ‘saya selalu salah’.

Pertama, jika pernyataan bapak tersebut pernyataan sebagai profesor, sepertinya tidak sesuai dengan etika ilmuwan.

Kedua, jika pernyataan bapak tersebut sebagai Menko, sepertinya pernyataan tersebut hanya cocok bagi pejabat di negara otoriter.

Mahfud melanjutkan cuitan pertamanya: Kalau orang bilang celana cingkrang, cadar, itu ke-Arab-an dan kadrun, itu yang bilang bukan pemerintah.

Tapi kelompok orang, terhadap kelompok lain. Kalau itu dianggap Islamofobia, maka ada juga dong Kristenfobia, Hindufobia, Katolikfobia.

Ada ‘orang’ yang mengejek ritual Hindu, ada isu Kristenisasi.

Didu: Prof Mahfud, bapak sepertinya terlalu defensif, padahal saya tidak menyatakan bahwa pemerintah Islamofobia.

Tapi mention saya, menyatakan bahwa individu yang melakukan Islamofobia seperti yang bapak jelaskan, dibiarkan oleh pemerintah.

Baca Juga:

Mahfud: Itu salahnya. Saya juga blang, yang banyak fobia itu individu.

Soal ditindak, siapa bilang dibiarkan? Kalau tidak melanggar hukum, seperti beda pendapat tentang model hijab, ya, biar saja.

Itu polemik, dua-duanya boleh berdebat, tapi kalau menista agama seperti Kece dan Saifuddin Ibrahim, ya, ditindak. Anda tidak lihat?

Ada yang bilang, di salib ada jin kafir. Itu bukan fobia negara, tapi pernyataan orang.

Yang bilang kadrun, cadar, Arab, itu misalnya Abu Janda, bukan pemerintah.

Jadi kalau dari orang ke orang secara privat, fobia itu tertuju terhadap semua agama.

Tapi pemerintah tidak benci, tidak takut, tidak fobia terhadap Islam.

Didu: Prof Mahfud yang terhormat, bukan berarti kalau sikap resmi pemerintah tidak Islamofobia, bisa disimpulkan bahwa Islamofobia tidak ada di Indonesia.

Kalau ada sikap pejabat, organisasi, tokoh, atau individu yang bersikap Islamofobia, artinya Islamofobia ada di Indonesia.

Mahfud: Memang itu ‘kan kata saya. Kalau personal, ya, ada Islamofobia.

Tapi juga ada Katolikfobia, Kristenfobia, Hindufobia, Buddhafobia. Banyaklah. Itu semua musuh kebersatuan kita.

Tapi tidak ada Islamofobia negara, karena orang Islam bebas berkontestasi dan memilih posisi secara demokratis dan konstitusional.

Didu: Siapa yang mengatakan Islamofobia negara? Pertama, saya sepaham dengan pernyataan bapak.

Bahwa, di Indonesia ada personal pejabat atau organisasi yang Islamofobia, artinya di Indonesia ada Islamofobia.

Kedua, jika pemerintah membiarkan atau melindungi fobia tersebut, apakah pemerintah bukan [pendukung] Islamofobia?

Baca Juga:

Sebelum menjawab Didu, Mahfud melanjutkan cuitan sebelumnya: Catat ini. Institusi-institusi Islam seperti UIN, pondok pesantren, terus berkembang.

Politisi bebas bersaing tanpa diskriminasi, pejabat-pejabat muslim bangga pergi ke masjid, menyandang sajadah, bikin pengajian, intelektual muslim berjibun.

Kontestasi politik selalu menghitung umat Islam. Di mana fobianya terhadap Islam?

Pak Didu, sekarang ini negara sudah punya UU Ponpes, lahan dan dana abadi ponpes.

Eksekutorial pengadilan agama disejajarkan dengan pengadilan umum.

Jujur, ya, yang menuduh ada Islamofobia itu adalah mereka yang kalah dalam kontestasi demokrasi.

Lalu, menuding Islamofobia kepada yang menang, yang adalah juga Islam.

Terima kasih, ya, Pak Didu. Saya selalu senang merujuk cuitan Anda yang sering salah. Sehingga saya punya ruang untuk menjelaskan.

Sekarang, orang Islam seperti kita ini, sudah bebas berdebat tentang Islam, tanpa takut atau malu.

Sebab, tidak ada lagi Islamofobia. Dulu banyak intelektual yang berislam dengan sembunyi-sembunyi.

Baca Juga:

Sebelumnya, pada Selasa (26/7/2022) kemarin, Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan dialog bertajuk ‘Imaji Satu Abad Indonesia‘.

Mahfud yang hadir dalam dialog itu pun tampak memberi sambutan.

Pada kesempatan itulah, ia menekankan bahwa pemerintah tidak pernah menebar narasi Islamofobia.

“Yang mengatakan itu bukan pemerintah, [tapi] rakyat, terhadap rakyat lain. Itu bukan fobia namanya, bukan Islamofobia… yang mengatakan itu Abu Janda, bilang ke ini, lalu dibilang Islamofobia, [Abu Janda] yang fobia. Pemerintah ‘kan tidak…”

  • Bagikan