Soal Uighur, RI Bergantung Investasi dan Ekonomi pada China?

Diposting pada 257 views

Ngelmu.co – Sampai saat ini, Indonesia masih bungkam tentang muslim Uighur. Bungkamnya pemerintah RI dinilai karena bergantung kepada China terkait investasi dan ekonomi.

Ketergantungan Indonesia terhadap China terkait atas ekonomi dan investasi dianggap menjadi salah satu alasan Jakarta tak bisa berbuat banyak untuk menekan Beijing soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap suku muslim Uighur di Xinjiang. Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah.

“Ketergantungan ekonomi yang tinggi atas China di bidang perdagangan dan investasi, dalam konteks bilateral dan CAFTA, memaksa RI berpikir amat panjang dan mendalam sebelum membuat sebuah kebijakan atas praktik pelanggaran HAM yang terjadi di Xinjiang,” ucap Teuku, Selasa (18/12), dikutip oleh CNNIndonesia.

Diketahui juga bahwa Indonesia juga telah menyepakati perjanjian kemitraan komperhensif strategis bersama China pada 2008 lalu.

Baca juga: Jokowi Tokoh Muslim Berpengaruh Dunia, Tapi Mengapa Diam soal Uighur?

Teuku menagtakan bahwa perjanjian itu mensyaratkan hubungan bilateral di berbagai bidang harus terpelihara dan tidak boleh terganggu akibat peristiwa baru di masa depan yang mengganjal kedua negara, termasuk kasus dugaan pelanggaran HAM ini. Menurut Teuku, berbeda dengan penanganan kasus Rohingya di Myanmar, dugaan pelanggaran terhadap etnis Uighur cukup kompleks.

Ketika Indonesia menyinggung China terkait hal ini dengan cara yang tidak tepat, Teuku khawatir langkah pemerintah RI tak hanya mempengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga merusak prospek kerja sama ASEAN-China.

“RI tidak memiliki kapabilitas untuk menekan China di level regional karena China yang tersudutkan berpotensi merusak kerja sama dengan ASEAN dan ASEAN centrality melalui tiga negara yang amat tergantung pada bantuan pembangunan Beijing yakni, Kamboja, Laos, Myanmar,” papar Teuku.

Diketahui bahwa etnis Uighur kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah pemerintah China dikabarkan menahan satu juta suku minoritas tersebut di kamp penahanan indoktrinasi. Di kamp penahanan, para etnis Uighur itu dilaporkan dipaksa mencintai ideologi komunis.