Syahganda Nainggolan Ungkap Sosok Budi Santosa Purwokartiko

  • Bagikan

Ngelmu.co – Syahganda Nainggolan yang merupakan tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), buka suara.

Ia mengungkapkan, siapa sebenarnya Budi Santosa Purwokartiko; yang namanya tengah viral di media sosial.

Sedikit mengulas, melalui akun media sosial pribadinya, Budi bercerita, “Mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.”

Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), itu menyampaikan pernyataan tersebut melalui status Facebook-nya, pada Rabu (27/4/2022) lalu.

Syahganda bicara, karena menurutnya, Budi berhubungan dengan Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB).

Masih ingat dengan kelompok yang menyebut pihaknya sebagai GAR Alumni ITB?

Tahun lalu, mereka melaporkan Din Syamsuddin ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), dengan tudingan radikalisme.

Menurut Syahganda, Budi adalah salah satu anggota dari kelompok yang memiliki prinsip berseberangan terhadap nilai dan esoteris Islam, tersebut.

Sehingga mereka menampakkan sikap yang mengarah kepada Islamofobia.

Kelompok itu, di lain halnya bahkan terkesan rasis, jika menyikapi perbedaan yang muncul di kalangan umat muslim.

“Budi tercatat dalam kelompok GAR ITB. Sebuah kelompok bersemangat rasis dan Islamofobia, yang memfitnah Din Syamsuddin beberapa waktu lalu.”

Demikian penuturan Syahganda kepada wartawan, Rabu (4/05/2022) lalu, seperti Ngelmu kutip dari Pos Kota.

Baca Juga:

Pada 2021 lalu, mereka yang maju dengan nama GAR Alumni ITB, memang melaporkan Din Syamsuddin ke KASN.

Mereka menuding Din, telah bersikap konfrontatif dengan lembaga negara, dan juga kebijakannya.

Lebih lanjut, Syahganda juga menyoroti pernyataan Budi, atas pakaian muslimah yang disebutnya seperti manusia gurun.

Menurut Syahganda, ujaran Budi, jelas merendahkan posisi umat Islam, khususnya muslimah.

“Budi Santoso, menghina perempuan di akun media sosialnya. Ia juga menghina Islam.”

“Menurutnya perempuan berjilbab merupakan perempuan gurun yang tidak mempunyai value [nilai-nilai] yang universal.”

Dalam sebuah tulisan, Syahganda juga membongkar bagaimana negara, khususnya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), terlibat dalam semangat Islamofobia.

Tulisan itu berjudul ‘Cadar, Cingkrang, dan Kebangkitan Peradaban Islam’, yang beredar pada 2019 lalu.

Saat itu, menteri agama dan juga menteri PAN-RB, mempersoalkan, bahkan melarang pegawai mereka [wanita] memakai cadar, dan [pria] bercelana cingkrang.

“Hal ini membentuk opini terstruktur dalam lingkungan kekuasaan, bahwa Islam, atau Islam, dalam simbolistik budaya tertentu, perlu disingkirkan.”

“Dalam tulisan itu, saya menjelaskan bahwa jilbab adalah sebuah simbol perlindungan perempuan dalam Islam,” tegas Syahganda.

Dengan jilbab, lanjutnya, muslimah dapat memproteksi diri mereka dari interaksi sosial yang berpotensi melewati batas.

Misalnya ketika bertemu dengan laki-laki bukan mahram, di saat suami atau orang tua yang bersangkutan tidak melihatnya.

“Konsep ini, selain melindungi dan mendorong emansipasi perempuan Indonesia, tentu juga memberikan proteksi pada keluarga.”

“Sebagai institusi sosial yang paling penting dalam masyarakat,” jelas Syahganda.

Baca Juga:

Di akhir, ia juga menyebut bahwa terpilihnya Rektor ITK yang Islamofobia, adalah keberhasilan kelompok anti-Islam.

“Memanfaatkan struktur negara, untuk kepentingannya.”

  • Bagikan