“Terus Dibatasi, tapi Tak Diberi Nasi”

  • Bagikan
Terus Dibatasi, tapi Tak Diberi Nasi
Foto: Instagram/ngwawur

Ngelmu.co“Dihapus satu, tumbuh seribu”, kurang lebih begitu dukungan masyarakat umum kepada para pemural, belakangan ini.

Mengingat sudah cukup banyak mural yang viral, dan tak lama kemudian menghilang, alias dihapus oleh aparat.

Para pengguna media sosial Twitter hingga Instagram pun masih ramai membahas soal mural.

Setelah berbagai lukisan pada dinding [seperti ‘Tuhan, Aku Lapar!!’, ‘404: Not Found’, ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit’, dan ‘Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan’] dihapus, terus muncul karya-karya baru.

Terlebih ‘Gejayan Memanggil‘, juga mengadakan lomba mural, yang tak hanya [digelar] di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berikut beberapa yang coba Ngelmu muat dalam tulisan kali ini:

Terus Dibatasi, tapi Tak Diberi Nasi

“Negara ini membatasi warganya agar tak berkegiatan, negara peduli pada pandemi, tapi tak peduli pada perut lapar warganya.”

“PPKM Level 666 bakal berlanjut? ‘Terus dibatasi, tapi tak diberi NASI’,” tulis akun Instagram @ngwawur, 6 Agustus lalu.

Menurut akun tersebut, mural itu hanya bertahan beberapa jam, karena setelahnya sudah tertutup oleh cat.

Akun itu juga menjelaskan gerakan #WargaBantuWarga, yakni seruan agar kita semua memiliki kesadaran untuk membantu sesama, dalam masa sulit ini.

“Pemerintah sama sekali tak peduli pada perut lapar warganya,” tulis @ngwawur.

“Jadi bagaimana? Ini sebuah bentuk vandalisme atau penyadaran? Anda sendiri yang harus menilai,” tutupnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by NGWAWUR!Art (@ngwawur)

Agustusan Kali Ini…

Akun Instagram @bonse._.xy, mengunggah potret mural seorang anak, nampak sedang menjahit.

“Agustusan kali ini lombanya bertahan hidup? Tetap ku-rayakan dengan caraku.”

Ia juga melengkapi unggahannya dengan puisi, berikut ini:

Ibu Fatmawati,
Bendera kami semua masih ada, ‘kan?
Yang merahnya berani
Dan putihnya suci

Bendera yang kau jahit
Dengan segala rupa yang pahit
Sang merah putih
Kini sedang merasa perih, Bu

Keberaniannya habis
Ditelan para cukong
Kesuciannya diperkosa
Oleh para penjahat Bagong

Ibu Fatmawati,
Bendera kami semua masih ada, ‘kan?
Bendera yang Bung Besar kibarkan pada tujuh belasan di hari kemerdekaan

Kini kemerdekaan itu telah punah
Garuda berkelana entah ke mana
Ibu Pertiwi terus merasakan lara
Indonesia kini kembali menderita

Ibu Fatmawati,
Bendera kami semua masih ada, ‘kan?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by hanya curhatan biasa (@bonse._.xy)

Baca Juga:

Hanya Ada Satu Kata: Mural!

Seniman Bram Kusuma, melukis wajah mendiang aktivis Wiji Thukul, dan melengkapi muralnya dengan kutipan puisi yang bersangkutan.

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam, kritik dilarang, tanpa alasan. Dituduh subversif dan mengganggu keamanan.”

Di akhir, Bram, mengganti kata lawan, dengan mural. “Maka hanya ada satu kata: Mural!”

Sementara pada takarir, ia menulis, “Hapus dihapus! Hapus, ya, gambar lagi. Dihapus lagi, ya, gambar lagi.”

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bram Kusuma (@brambotkusuma)

Halaman selanjutnya >>>

Jangan Berharap pada Negara

  • Bagikan
ngelmu.co