UAS Hingga UAH Berduka atas Wafatnya Ustadz Tengku Zulkarnain

  • Bagikan
Duka Ustadz Tengku Zulkarnain Meninggal

Ngelmu.co – Wafatnya Ustadz Tengku Zulkarnain menjadi duka bagi umat Muslim, khususnya para ulama Indonesia.

Ustadz Abdul Somad (UAS), Aa Gym, KH Anwar Abbas, Ustadz Oemar Mita, Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Hilmi Firdausi, hingga Ustadz Adi Hidayat (UAH), turut kehilangan.

UAS

Melalui akun Instagram pribadinya, @ustadzabdulsomad_official, UAS menuliskan, “Senin, malam 29 Ramadan 1442 H/10 Mei 2021. Jam 18.25.”

“Guru kita, al-Mukarram Ustadz Tengku Zulkarnain, sudah mendahului kita,” kata UAS.

Selama mengenal, UAS menilai Ustadz Tengku Zul, sebagai sosok yang mengenal rasa takut.

“Takutmu, engkau habiskan hanya untuk Allah.”

Bulan lalu adalah pertemuan terakhir antara UAS dengan Ustadz Tengku Zul, “Di Diniyah Putri Padang Panjang.”

“Engkau bercerita tentang pondok Tahfizh Qur’an yang engkau bangun di Medan,” kenang UAS.

“Entah apa amal engkau guru, hingga doa kami kalah ingin berhari raya denganmu,” imbuhnya.

“Allah dan para malaikat-Nya, lebih memilihmu untuk berada di tengah mereka pada hari besar itu,” sambungnya lagi.

Ustadz Tengku Zul, kata UAS, benar-benar kembali ke fitrah. “Doakan kami supaya istiqomah.”

“Makin sunyi jalan ini aku rasa,” tutupnya.

Aa Gym

KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) juga berduka, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Aa dan Keluarga besar Daarut Tauhiid, mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya ulama, guru, sahabat kita, almarhum KH Ustadz Tengku Zulkarnain.”

“Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fu’anhu,” sambung Aa Gym mendoakan.

“Semoga Allah menerima segala amal kebaikannya, diberikan tempat yang terbaik oleh Allah Ta’ala,” imbuhnya lagi.

“Dan juga diberikan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan, Aamiin Ya Robbal ‘alamin.”

KH Anwar Abbas

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Abbas, bahkan membuat sebuah tulisan berjudul, ‘Tengku Zulkarnain, Adikku dan Harapanku’.

Berikut selengkapnya:

Tengku Zulkarnain, adikku. Kini engkau telah pergi, tanpa memberi tahu, dan itu jelas-jelas sangat mengejutkan serta meninggalkan duka yang dalam di hatiku.

Aku masih ingat, bagaimana engkau masuk ke ruanganku, kemudian kita ngobrol tentang berbagai persoalan menyangkut umat dan agama, serta bangsa ini.

Masih terbayang olehku, bagaimana sopan dan santunnya engkau kepadaku.

Tapi semua itu, kini hanya akan menjadi kenangan dan cerita yang telah berlalu, karena engkau sudah pergi dan sudah menuntaskan tugasmu ke dunia yang diembankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepadamu.

Pak Tengku, begitu aku suka dan biasa memanggilmu.

Aku juga masih ingat tentang sikap dan pandangan-pandangmu dalam masalah-masalah tertentu.

Terkadang, untuk tidak menyakitkan dan menyinggung perasaan orang lain, engkau hiasi penyampaian sikap dan pandanganmu itu dengan canda-candamu yang bermutu.

Sehingga aku sangat sering engkau buat menjadi tersipu-sipu.

Karena di samping kata-katamu banyak menyentuh dan mengaduk-aduk otak dan hatiku, engkau juga telah mengimbanginya dengan membuat aku tertawa yang benar-benar mengocok perutku.

Pak Tengku, engkau adalah adik dan sekaligus sahabatku.

Aku tidak hanya akan mendengar dan mengingat kata-katamu, karena engkau aku lihat adalah juga orang yang sangat suka membantu.

Saya lihat, engkau sangat suka meringankan hidup orang lain, tidak hanya dengan ilmumu, tapi juga dengan tangan dan hartamu.

Hal ini tentu saja sangat patut untuk ditiru, tidak hanya oleh anak-anak dan handai taulanmu, tapi juga oleh semua orang yang percaya, bahwa mereka juga akan pergi untuk menghadap Tuhanku dan Tuhanmu.

Pak Tengku, selamat jalan, semoga nanti kita bisa kembali bertemu.

Mudah-mudahan, kita sama-sama dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ke dalam surga yang telah menjadi idamanku dan idamanmu, serta para sahabat dan jamaahmu. Aamiin.

Ustadz Oemar Mita

Melalui akun Instagram pribadinya, @oemar_mita, Ustadz Oemar Mita juga nampak berduka.

“Ya Rabb, di penghujung Ramadhan, sedih rasanya mendengar berita ini,” tuturnya.

“Semua pasti mudik ke kampung akhirat, yang membedakan adalah urutan yang menyapa,” sambung Ustadz Oemar.

“Kami mengenalmu [Ustadz Tengku Zul] dalam kebaikan serta balutan akhlaq yang mulia. Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu,” pungkasnya.

Ustadz Hanan Attaki

Ustadz Hanan Attaki bahkan membagikan sebuah tulisannya berjudul, ‘Karpet Merah di Langit’.

“Tidaklah beliau bersuara karena kedengkian dan kebencian, tetapi karena cinta kepada bangsa ini,” tegasnya.

“Karena [Ustadz Tengku Zul] membela umat yang lemah. Beliau bersuara saat kita diam. Itulah keberanian sejati,” sambung Ustadz Hanan.

“Tidak ada yang saya tahu tentang beliau, kecuali kebaikan. Wa laa nuzakki alallahi ahadan,” imbuhnya lagi.

Ketika Allah memanggilnya di bulan Ramadhan, lanjut Ustadz Hanan, itu cukup sebagai pertanda.

“Allah ingin memberikannya karpet merah di langit. Masya Allah Ustadz, cemburunya kami kepadamu,” ujarnya.

Ia juga berdoa kepada Allah, “Jangan biarkan kami menjadi umat tanpa lentera.”

“Jangan juga Engkau jadikan kami seperti orang-orang yang merusak lentera yang tersisa, karena iri dengki. Seperti Bani Israil,” tutupnya.

Ustadz Felix Siauw

Ustadz Felix Siauw juga kehilangan sosok Ustadz Tengku Zul, “Yaa Rabb.. Yaa Rabb.. Yaa Rabb..” tulisnya.

“Kami tahu betapa mulianya yang dipanggil di bulan Ramadhan, kami tahu ia lebih memilih bersama Engkau, ketimbang bersama kami,” sambung Ustadz Felix.

“Kami tahu ketentuan-Mu pasti baik, tapi semua ini terlalu cepat, terlalu banyak ilmu yang dicabut, terlalu sedikit yang tersisa dan istiqamah. Allahummaghfirlanaa,” lanjutnya yang menutup tulisan dengan doa.

Ustadz Hilmi Firdausi

انا لله و انا اليه راجعون

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

اللهم تقبل منه صالح الاعمال و تجاوز عنه و اجعله من اهل فردوسك الاعلى يا ربنا

“Yaa Robbana. Tuan Guru Ustadz Tengku Zulkarnain. Satu per satu ulama pejuang, Allah panggil,” tuturnya.

“In syaa Allah, beliau syahid dan husnul khotimah. Lahul faatihah,” pungkas Ustadz Hilmi.

UAH

Ustadz Adi Hidayat (UAH) juga mengungkap dukanya, “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un.”

“Segenap keluarga besar Quantum Akhyar Institute, turut beduka sedalam-dalamnya atas meninggalnya guru kita tercinta, KH Tengku Zulkarnain [Wasekjen MUI 2015-2020].”

Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala, kata UAH, menerima segala amal ibadah Ustadz Tengku Zul.

“Guru kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengampuni segala kekhilafan beliau, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan iman lahir batin. Aamiiin.”

Baca Juga: Ustadz Tengku Zulkarnain Wafat, Warganet Balas Ungkapan Duka Mahfud MD dengan Nasihat

Ustadz Tengku Zulkarnain, wafat, setelah berjuang melawan COVID-19, sejak 2 Mei lalu.

“Ia sudah pakai ventilator, napas buatan. Rencana habis Maghrib ini mau dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, di sana sudah siap.”

Demikian kata Direktur Corporate Communication RS Tabrani, Ian Machyar, Senin (10/5) kemarin.

Namun, Allah berkehendak lain. Ustadz Tengku Zul, mengembuskan napas terakhirnya, satu menit setelah azan Maghrib.

“Sebelum ke pemakaman, mau disholatkan ke Masjid Agung Annur,” jelas Ian.

“Beliau tokoh nasional. Jadi, kita sholatkan bersama, dengan protokol kesehatan, di dalam ambulans,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ngelmu.co