Antara Moeldoko, Wiranto, dan PKS

Diposting pada 1.175 views

Ngelmu.co – Antara Moeldoko, Wiranto, dan PKS. Tulisan ini tak perlu berpanjang kalam. Hanya sekadar mengkomparasikan penyikapan ketiga pihak, ketika bencana menimpa wilayah Indonesia. Kemudian, silakan pembaca mengambil kesimpulan.

Moeldoko

Beberapa buah kicauan ditulis pada hari Jum’at, 13 September 2019, di akun twitter milik Kepala Staf Kepresidenan, @Dr_Moeldoko. Begini:

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala musibah datangnya dari Allah SWT dan diperuntukkan untuk hamba-Nya yang Ia percayai dengan porsi-Nya masing-masing. Musibah bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan di mana saja.

Dan yang perlu kita lakukan bukannya mengeluh, tapi berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan berdoa meminta pertolongan Allah SWT.

Termasuk musibah yang menimpa Pekanbaru, Riau, yang sedang terjadi, juga datangnya pun dari Allah SWT.

Al Fatihah untuk seluruh saudara-saudara yang terkena musibah disana, semoga selalu diberi ketabahan dan keselamatan.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alaamiin.”

Moeldoko adalah bagian dari pemerintah yang punya tanggung jawab atas kebakaran hutan di beberapa daerah di Indonesia.

Di Riau, sudah sejak Januari 2019, api besar melahap ranting-ranting kering. Dan sejak Agustus, birunya langit tak tampak di bumi lancang kuning itu.

Sementara nyawa-nyawa manusia melayang, balita menjadi korban, dan ribuan orang terserang penyakit.

Ketika rakyat menagih penyelesaian karena sampai September tak kunjung tuntas, dengan ringan ia menasihati agar ikhlas.

Pengertian ikhlas sendiri adalah memurnikan ibadah kepada Allah SWT, untuk musibah, lebih tepat disikapi dengan ridho (rela) dan sabar.

Imbauan Moeldoko ini tentu baik. Hanya saja, karena disampaikan oleh pihak yang bertanggung jawab, jadi terkesan lari dari masalah.

Misalnya, bila bis yang Anda tumpangi berjalan sangat lambat, lalu ketika Anda menegur supir, meminta jalannya lebih cepat, ia malah menyuruh bersabar, bagaimana perasaan Anda? Tambah kesal?

Begitulah. Jawaban-jawaban warganet atas status Moeldoko, lumayan ketus. Nasihat yang tidak pada tempatnya, mendatangkan resistensi, bahkan celaan.

Wiranto

Lain-lagi dengan Wiranto. Kini beliau diprotes oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat Maluku.

Media memuat pernyataannya yang meminta korban bencana gempa kembali ke rumah dan tidak mengungsi, karena akan membebani pemerintah.

Anggota DPR dari Maluku yang baru dilantik, Saadia Uluputty mengecam Menko Polhukam.

“Seharusnya tidak boleh disampaikan saat masyarakat sedang berduka. Korban dan bencana tidak pernah diinginkan oleh masyarakat,” tegas anggota F-PKS ini.

Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy ikut mengungkapkan kekecewaannya.

“Selaku Wali Kota, saya merasa malu. Karena memang pemerintah pusat itu memberikan perhatian, bahwa ternyata pungungsi yang banyak dan ada itu, bukan karena dampak dari pada gempa secara langsung, tapi ini karena ketakutan dan trauma,” ujarnya.

Yang mengkhawatirkan, Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (KKBMM), meminta agar wilayah Maluku, dihapus dari peta Indonesia, bahkan dikeluarkan dari NKRI. Papua belum selesai, sudah datang lagi masalah lain.

Terakhir, Wiranto mengklarifikasi kepada media, katanya, pernyataannya disalah-artikan.

PKS

Lantas, bagaimana dengan PKS? Saya yakin, masyarakat belum lupa dengan pujian bertubi-tubi oleh seorang pengungsi di posko bencana asap Riau, kala diwawancari langsung oleh TVOne, di acara Indonesia Lawyer Club (ILC).

Ayang Nurmika namanya. Ada 16 kali ia menyebut partai dakwah itu.

“Saya berterima kasih sekali, karena ada relawan PKS yang mau peduli dengan kami. Dengan rakyat kecil seperti saya ini, Pak. Punya hati nurani. Dia selalu menyentuh, Pak,” katanya.

PKS tidak sedang memerintah negara ini. Tak ‘kan bisa ditagih tanggung jawab menangani bencana.

Namun, kader-kadernya tetap memperlihatkan kepedulian. Posko kesehatan, dibuka di Riau. Korban kabut asap Karhutla, mengantri oksigen di sana, serta diobati berbagai penyakit, yang bisa ditangani.

Terbebani kah mereka? Memanggul sebutan relawan, rasanya tidak.

Mereka lakukan, karena pembinaan di partai itu memang mengajarkan untuk menjadi “nafiā€™un lighoirih” (bermanfaat bagi sesama).

Warga berterima kasih. Meski Pemilu masih jauh, tapi PKS tetap bekerja melayani. Tak terdengar imbauan “Ayo coblos PKS” di posko itu. Apalagi ditanyakan dulu kemarin memilih apa di Pemilu.

Maka, bila dua tokoh sebelumnya dikecam masyarakat atas pernyataan mereka, PKS justru merebut hati rakyat karena kerja nyata. Itu lah perbedaannya.

Oleh: Zico Alviandri