BEM UI ke Asmat

BEM UI ke Asmat Bukan Karena Wacana Presiden

Jokowi berusaha membuat resah para ketua BEM UI dengan mengirimkan BEM UI ke Asmat, padahal Jokowi Telat mempunyai ide rencana tersebut. Ternyata Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memang sudah berencana jauh-jauh hari untuk berangkat ke Asmat sebelum Jokowi menyampaikan hal tersebut. Banyak netizen yang kontra dengan aksi kartu kuning menjadi terdiam karena ketegasan ini.

Mereka memang sudah membuat rencana ada konsentrasi BEM UI ke Asmat. Persiapan BEM UI ke Asmat  sudah dimulai sebelum ada wacana dari Presiden Jokowi. Sejatinya wacana jokowi telat, dan baru terfikir setelah ada aksi kartu kuning tersebut. Salah satu persiapan yang dilakukan dengan melakukan kerjasama dan penggalangan dana.

BEM UI memang bekerja sama dengan beberapa pihak, akan ada anggota BEM UI ke Asmat langsung, kemudian yang pasti mungkin ada penggalangan dana atau barang-barang. Tapi belum fix, pasti akan kami publikasikan dalam waktu dekat. BEM UI memang ingin melakukan tindakan langsung terkait permasalahan gizi buruk dan campak di Asmat. Masalah Asmat menjadi salah satu yang dipermasalahkan BEM UI terkait dengan kartu kuning yang diacungkan sang Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, saat Jokowi berpidato di UI.

Wacana Jokowi ingin mengirimkan Ketua BEM UI memang sudah basi, makanya mereka enggan mengomentari. “Mungkin nanti, mungkin nanti, mungkin nanti ya, saya akan kirim, mungkin ketua dan anggota-anggota di BEM ke Asmat. BEM UI ya,” ujar Jokowi kepada wartawan di Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jatim, Sabtu (3/2).

Benarkah Medan Menuju Asmat sangat Ganasnya? Banyak diberitakan bahwa medan menuju asmat sangat tidak manusiawi. Pihak yang kontra terhadap aksi kartu kuning pun memakai dongeng tersebut untuk memojokan BEM UI dan berusaha menakut-nakutinya. Menurut mereka Sulitnya moda transportasi untuk mencapai Kabupaten Asmat, Papua membuat siapa pun yang akan berkunjung ke Asmat harus mempertimbangkan dua kali. Ditambah lagi dengan cuaca di Papua yang selalu berubah-ubah tidak bisa diprediksi.

Memang ada dua pilihan untuk mencapai Asmat karena jalur darat masih belum baik. Belum ada infrastuktur jalan darat yang menghubungkan Kabupaten Asmat dengan Kabupaten-kabupaten lainnya. Pemerintah masih belum bisa membenahinya. Jalur udara hanya tersedia dalam tiga kali dalam seminggu yaitu Senin, Kamis dan Sabtu.  Menggunakan pesawat pilihan yang tepat dengan kelebihan penghematan waktu.

Pilihan lain yaitu melalui jalur laut yang harus ditempuh berjam-jam. Pilihan pertama kapal pelayaran milik Pelni dan pilihan kedua dengan menggunakan perahu speedboat dengan kapasitas 4-6 orang. Bagaimana rute kapal laut? Speedboat menembus pinggiran pantai hingga harus melintasi laut Arafura yang dikenal dengan ombaknya yang ganas. Gelombang laut Arafura bisa mencapai ketinggian 3 meter hingga 6 meter. Alhasil, nyawa pun taruhannya. Bika kondisi laut tenang, maka perjalanan bisa ditempuh 5 jam. Namun bila cuaca ekstrim, maka perjalanan menuju Asmat bisa ditempuh antara 6 jam hingga 7 jam.

Namun netizen yang merupakan alumni UI dan tinggal di papua menyangkalnya. Menurutnya itu tidaklah seburuk yang di dongengkan. “Ke asmat aman aman aja kok. Tidak ada yang perlu kita takuti. Akses transportasi sudah lengkap kok. Bisa naik pesawat atau kapal. Disana juga tidak ada yang ekstrim seperti yang di beritakan media. Paling costnya sih yang agak mahal.”

Selain itu, Netizen pemilik akun twitter Azzam M Izzulhaq pun membesarkan hati BEM UI. Sebelumnya dialah yang menawarkan umroh kepada ketua BEM UI tetapi ditolak karena masih banyak amanah BEM yang harus diselesaikan ketua BEM UI. menurutnya medan ke asmat tidaklah perlu ditakuti, bahkan dia bersedia menemani.

 

 

Tenang Dik Zaadit, sudah banyak juga alumni UI yang mengabdi disana. Jadi tak perlulah para pendukung setia presiden Jokowi takut kalo nanti BEM UI tidak berani datang ke asmat. Yang harus ditakutkan adalah Kalau ketua bem UI jadi ke asmat. Sepulang dari asmat pak presiden di kasih kartu merah. Kenapa dikasih kartu merah? Karena rakyat asmat hidup dengan kemewahan alam tapi miskin akan fasilitas. Kerumah sakit susah, sekolah tidak ada. Pergerakan kartu kuning ini semakin membesar, Mari kita kawal dan ikut donasi yang digalang oleh Zaadit di Kitabisa.com.