Bima Arya: Kalau Saja Lockdown Dilakukan 6 Bulan Lalu…

Bima Arya: Kalau Saja Lockdown Dilakukan 6 Bulan Lalu…

Diposting pada 319 views

Ngelmu.co – Melihat lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia yang semakin meningkat setiap harinya, Wali Kota Bogor, Bima Arya, menyesalkan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang tak mengambil langkah untuk lockdown sejak awal pandemi.

Menurutnya, penerapan lockdown di tengah lonjakan kasus yang tengah terjadi saat ini, hanya akan membuat kehidupan masyarakat kian kompleks.

“Kalau saja enam bulan lalu, lima bulan lalu, atau tiga bulan pertama serempak presiden sampaikan nomor satu kesehatan, kita lockdown semua, luar biasa itu,” kata Bima dalam diskusi bertajuk PSBB Lagi?, Sabtu (12/9).

Apabila pemerintah memutuskan saat ini untuk lockdown, maka harus ada perhitungan matang untuk membantu perekonomian rakyat.

“Data ekonomi di bawah sangat mengerikan,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, Bima beranggapan, bahwa pemerintah telah melewatkan momen emas untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Sebab, jika pemutusan segera dilakukan sejak awal pandemi, tentunya tidak akan serumit ketika penyebaran sudah semakin masif.

“Menurut saya begitu, tapi better late than never, artinya sekarang yang diperlukan adalah kewenangan protokol kesehatan,” tegasnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio. Bahwa sekal awal COVID-19 masuk ke Indonesia, dia mengaku sudah meminta Kementerian Perhubungan untuk menutup bandara dari penerbangan internasional khususnya Tiongkok.

Akan tetapi, usulan tersebut seolah tak digubris. Dengan alasan 40 persen turis yang datang berasal dari Tiongkok.

“Betul kata Pak Wali Kota (Bima Arya) tadi. Dulu itu saya setengah mati lockdown, sampai hari inipun mazhab saya masih lockdown,” tambahnya.

Agus juga menilai, akan lebih sulit melakukan tracing dan pengujian jika tidak dilakukan lockdown. Terlebih, pergerakan orang akan terus terjadi.

“Lalu bagaimana, biaya sudah dikeluarkan sangat besar dan hampir tidak bisa membereskan ini, kemudian tenaga juga sudah habis-habisan, akhirnya orang berargumentasi,” pungkasnya.