Dosen FUD IIQ Jadi Juara Internasional Hafalan Qur’an 30 Juz, Namanya Rifdah Farnidah

  • Bagikan
Rifdah Farnidah

Ngelmu.co – Rifdah Farnidah adalah dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Para pengguna media sosial terus menyebut namanya, usai yang bersangkutan berhasil mengharumkan nama Indonesia.

Publik turut bangga dengan pencapaian Rifdah; menjadi juara pertama Musabaqah Hifzh Al-Qur’an (MHQ), tingkat dunia.

Ia juara untuk kategori 30 juz, pada kompetisi yang berlangsung pada 8-26 April 2022, yakni 107’s Family Quranic Competition di Nigeria.

Rifdah berhasil mengalahkan 87 peserta lainnya yang berasal dari berbagai negara.

Seperti Ghana, Liberia, Amerika Serikat, India, Arab Saudi, hingga Turki.

“Alhamdulillah, saya bersyukur masih diberikan kesempatan mengikuti musabaqah di tingkat internasional, dan bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Indonesia.”

Demikian tutur Rifdah di Jakarta, Selasa (17/5/2022) lalu, seperti Ngelmu kutip dari laman resmi Kementerian Agama.

Ia mengatakan, pencapaian ini bukan karena usahanya seorang, tetapi juga berkat doa serta bantuan para guru.

“Tentunya, apa yang saya raih saat ini tidak lepas dari doa dan bimbingan,” ujar Rifdah.

“Dari guru-guru saya di pondok pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sumedang, dan Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta,” sambungnya.

Baca Juga:

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, turut mengapresiasi. “Ditjen Pendidikan Islam, tentu turut bangga dan berterima kasih atas capaian ini.”

“Musabaqah Hifzh Al-Qur’an 30 juz tingkat dunia, diraih oleh Indonesia, melalui perguruan tinggi di bawah binaan Kementerian Agama.”

“Meski secara teritori, Indonesia jauh dari pusat kelahiran Islam di Timur Tengah, tetapi secara faktual, Indonesia mampu menjadi peraih yang terbaik di ajang internasional.”

“Indonesia, tentu sangat bangga,” sebut Ali.

Begitu juga dengan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Amin Suyitno.

Ia menyampaikan apresiasi, dan menyatakan bahwa ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam, terus berkontribusi substantif di tingkat dunia; terlebih di bidang Studi Al-Qur’an.

“IIQ merupakan gudangnya para penghafal dan penafsir Al-Qur’an, yang menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan.”

“Dari rahim IIQ, telah banyak qari dan qariah, kian mengharumkan nama baik bangsa ini,” kata pria yang juga guru besar UIN Raden Fatah Palembang itu.

“IIQ tetap konsisten mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa dan negara,” sambung Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ, Muh Ulinnuha.

Ia juga berharap, ke depannya akan terus lahir dari rahim IIQ Jakarta, duta-duta Al-Qur’an yang menjuarai serta mengharumkan nama Indonesia; di kancah Internasional.

Baca Juga:

Ini bukan pertama kalinya Rifdah, membuat Indonesia, bangga.

Sebab, saat usianya masih 22 tahun, ia sukses menyabet gelar juara dua MHQ Internasional; tahun 2018 di Jordania.

Kala itu, Rifdah juga tidak lupa bersyukur, karena impiannya untuk menjadi hafizah, dapat terwujud. Bahkan, meraih prestasi di tingkat dunia.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa mewujudkan impian saya. Ini juga karena dukungan orang tua saya yang selalu berpuasa, tiap kali saya mengikuti musabaqah, agar diberikan kelancaran mengikuti MHQ.”

Begitu penuturan Rifdah pada Senin (2/4/2018); saat itu, ia merupakan mahasiswi IIQ Jakarta.

Proses menghafal Al-Qur’an, kata Rifdah, berlangsung tiap kali ia selesai salat Tahajud.

Sebab, waktu-waktu itulah yang menurutnya, turut mempermudah proses penghafalan.

“Tahap pertama, saya menghafal satu halaman dahulu. Tiap ayatnya dihafal berulang-ulang, hingga hafal betul.”

“Biasanya, satu hari dapat lima halaman Al-Quran,” jelas Rifdah.

Hafalannya untuk 30 juz Al-Qur’an, berjalan dalam kurun waktu 7 tahun.

Rifdah mulai menghafal saat usianya 10 tahun, dan menyelesaikannya ketika lulus Madrasah Aliyah.

Baca Juga:

Adapun kiat menjaga hafalan, Rifdah akan terus mengulang di tiap harinya, paling sedikit 5 juz.

“Saya biasanya tidak berurutan, misal, setelah salat Subuh mengulang hafalan [murojaah] juz 1, setelah Zuhur, juz 11, dan setelah Magrib, juz 21.”

“Mengapa tidak berurutan? Supaya tidak ada kecemburuan antara juz lain. Itu metode menghafal yang saya lakukan,” tutur Rifdah, tersenyum.

Rifdah yang mengaku prihatin dengan banyaknya generasi muda yang sudah pacaran saat masih sekolah, punya harapan.

Ia ingin menemukan generasi penghafal Al-Qur’an, khususnya generasi muda sekarang, yang telah terkontaminasi gawai, pun media sosial.

“Mudah-mudahan, selanjutnya banyak generasi muda yang menghafal Al-Qur’an.”

Kala itu, ia juga berpesan kepada generasi muda, agar tetap semangat membaca, menghafal, dan mengkaji Al-Qur’an.

“Karena sesungguhnya, bagi siapa yang membaca, menghafal, dan mengkaji Al-Qur’an, akan mendapat syafaat di hari kiamat.”

  • Bagikan