Ferdinand: Saya sedang Berdialog dengan Pikiran Saya yang Digoda Setan

  • Bagikan
Ferdinand Saya Digoda Setan
Foto: 22 Juli 2021, Instagram/ferdinand_hutahaean

Ngelmu.co – Ferdinand Hutahaean menepis kasus dugaan ujaran kebencian atau SARA, dalam cuitan ‘Allahmu lemah’ yang tertulis di akun Twitter-nya.

Iya. Pada Selasa (4/1/2022) lalu, melalui akun @FerdinandHaean3, yang bersangkutan membuat publik marah. Pasalnya, ia mengetwit:

“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela.”

Namun, Ferdinand bilang, cuitan itu adalah dialog imajiner antara hati dan pikirannya.

Tentang pemahamannya terkait Allah, sehingga tidak tepat masuk dan diproses secara pidana.

“Ketika saya menegaskan iman saya punya Allah yang kuat. Kalaupun ada makna lain di luar itu, ya, itu di luar keilmuan saya.”

“Saya menyampaikan apa yang saya pahami. Saya sedang berdialog dengan pikiran saya yang digoda setan,” akuan Ferdinand.

“Kalau kemudian itu dipidana, bahaya bangsa ini. Ribut bangsa ini, kacau kalau begini caranya,” sambungnya, mengutip Kumparan.

Menurut Ferdinand, terjadi kesalahpahaman dalam memaknai cuitannya, hingga ia dilaporkan ke polisi.

Bagaimanapun, Bareskrim telah menaikkan status laporan menjadi penyidikan.

Jika tidak ada kendala, hari ini, Senin (10/1/2022), Bareskrim akan memanggil Ferdinand untuk diminta keterangan.

“Penyidik Direktorat Tindak Pidana Cyber Bareskrim Polri tadi malam pada tanggal 6 Januari 2022, telah melayangkan surat tembusan SPDP, dan juga telah menyampaikan surat panggilan kepada terlapor FH.”

Demikian tutur Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan.

Baca Juga:

Kembali ke Ferdinand. Jelang pemanggilan, ia bilang, “Saya menyadari betul situasi yang terjadi dua hari terakhir ini.”

“Betapa riuhnya ruang publik membicarakan saya dan cuitan saya pada tanggal 4 [Januari 2022] lalu, soal Allah,” lanjutnya.

“Dalam hal ini, perlu saya jelaskan secara terang benderang, mengapa cuitan itu muncul,” ujar Ferdinand.

Munculnya cuitan itu, sambungnya, adalah akibat dari dan atas pergumulan pribadinya yang memang tengah menderita penyakit.

“[Penyakit] yang sudah menahun, dan tidak kunjung sembuh,” jelas Ferdinand.

Ia mengaku, sudah dua tahun mengalami gangguan penyakit yang jika kambuh, akan membuatnya jatuh, pingsan, dan kejang.

Hal itu yang menurut Ferdinand, memengaruhi kesadarannya.

Belum lama, ia juga mengaku sudah menjadi mualaf sejak tahun 2017.

“Orang yang tidak mengenal saya, bahwa saya adalah seorang Muslim, seorang Mualaf sejak 2017, telah menuduh saya dengan kalimat yang tidak tepat.”

“Terutama tentang identitas agama saya, akhirnya jadi ribut dan gaduh,” klaim Ferdinand.

Sementara soal berbagai kecaman yang muncul, ia mengatakan, penyebabnya adalah salah persepsi.

Ferdinand juga menilai, ada pihak yang melakukan provokasi dengan menambah narasi yang tidak sesuai dengan fakta, sehingga terkesan mengadu domba.

“Maka muncul opini, bahwa seolah ini menjadi adu domba antara Kristen dan Islam,” kata Ferdinand.

“Padahal ini tidak ada urusan dengan agama mana pun. Ini murni dialog pribadi saya dengan diri saya,” sambungnya.

“Dialog tentang saya dengan Tuhan saya, Allah Subhanahu wa Ta’ala,” imbuhnya lagi.

Baca Juga:

Lebih lanjut, Ferdinand membenarkan pemanggilannya hari ini oleh, dan memastikan akan hadir.

“Iya, betul. Polri sudah menjadwalkan untuk memintai keterangan dari saya besok [re: Senin, 10 Januari 2022] sebagai saksi. Saya akan hadir,” ucapnya.

“Tentu saya taat hukum. Pastikan akan menjelaskan semua apa sebenarnya,” sambungnya.

“Sehingga kesalahan persepsi yang timbul di publik, bisa menjadi terang benderang,” tutup Ferdinand.

Sebelumnya, melalui akun Twitter pribadinya, @cholilnafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis menyampaikan penegasan.

“Sebenarnya, kita tidak perlu menanyakan agamanya apa, mualaf atau tidak,” tuturnya di awal cuitan.

“Selama membandingkan Allah-nya dengan Allah lainnya, seraya merendahkan yang disembah orang lain, menurut keputusan Ijtima’ Ulama MUI 2021, [itu] adalah penodaan agama.”

“Karena sudah dianggap menghina dan melecehkan Tuhan yang disembah,” tegas Kiai Cholil.

Pada cuitan tersebut, ia juga melampirkan dlawabit dan kriteria penodaan agama berdasarkan keputusan Ijtima’ Ulama MUI 2021.

Di mana isinya mencakup pokok pikiran, rekomendasi, serta dasar hukum.

Kiai Cholil memang tidak menyebut nama siapa pun pada twit-nya.

Namun, kasus cuitan Ferdinand yang tengah bergulir saat ini, senada dengan apa yang dibahas oleh Kiai Cholil.

  • Bagikan