Hati-Hati, 5 Obat Sirop Ini Tercemar Etilen Glikol

  • Bagikan
Obat Sirop Etilen Glikol

Ngelmu.co – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, telah mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel obat sirop.

Hasilnya, terdapat 5 produk yang terindikasi cemaran etilen glikol (EG), di atas ambang normal. Di antaranya:

1. Termorex Sirop

Obat demam produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1 ini berkemasan dus, botol, ukuran 60 ml.

2. Flurin DMP Sirop

Obat batuk dan flu produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1 ini berkemasan dus, botol, ukuran 60 ml.

3. Unibebi Cough Sirop

Obat batuk dan flu produksi PT Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1 ini berkemasan dus, botol, ukuran 60 ml.

4. Unibebi Demam Sirop

Obat demam produksi PT Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1 ini berkemasan dus, botol, ukuran 60 ml.

5. Unibebi Demam Drops

Obat demam produksi PT Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1 ini berkemasan dus, botol, ukuran 15 ml.

@ngelmuco Mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel #obatsirop, #BPOM RI menemukan 5 produk yang terindikasi cemaran #EtilenGlikol ♬ Don’t Watch Me Cry – Jorja Smith

Meski demikian, BPOM menekankan bahwa temuan ini tidak serta-merta mengartikan penggunaan obat-obat di atas sebagai pemicu gagal ginjal akut.

Pasalnya, faktor risiko lain masih dalam proses penelitian.

“Hasil sampling dan pengujian terhadap 39 bets dari 26 sirop obat, sampai dengan 19 Oktober 2022, menunjukkan adanya kandungan cemaran EG yang melebihi ambang batas aman pada 5 produk.”

Demikian keterangan tertulis dari BPOM, Kamis, 20 Oktober 2022.

Lebih lanjut, BPOM menjelaskan, cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG), kemungkinan berasal dari empat bahan tambahan:

  1. Propilen glikol
  2. Polietilen glikol
  3. Sorbitol
  4. Gliserin/gliserol

Keempat bahan tambahan tersebut, lanjut BPOM, sebenarnya bukan merupakan bahan yang berbahaya atau dilarang digunakan dalam pembuatan obat sirop.

Itu mengapa, proses penyelidikan terkait hubungan penyakit gagal ginjal akut dan senyawa EG yang terkandung dalam obat, masih terus dilanjutkan.

Sebelumnya, epidemiolog Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, mengingatkan bahwa dalam kondisi seperti ini, pemerintah–khususnya BPOM–perlu membuka data obat yang mungkin mengandung cemaran bahan berbahaya.

“Kita harus meminimalisir adanya ketidakpastian. Jadi, informasi, komunikasi risiko yang tepat ini menjadi sangat penting.”

“Antara lain adalah dengan menyampaikan, meskipun masih dalam dugaan.”

“Mana saja sih [obat] yang kira-kira tercemar atau ada paparan etilen glikol, dietilen glikol,” jelas Dicky, Kamis (20/10/2022), mengutip Detik.

Baca Juga:

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), juga menyuarakan pendapat senada; melalui sang ketua pengurus harian, Tulus Abadi.

Ia menegaskan, pihak Kemenkes RI dan BPOM RI, perlu memberikan kebijakan lebih tegas, terkait kaitan obat sirop dengan kasus gangguan ginjal akut misterius.

“Kemenkes dan Badan POM, tampak ambigu dengan langkah kebijakan yang diambil.”

“Sebab, sikap dan pernyataan Kemenkes, kurang tegas, karena hanya meminta masyarakat tidak mengonsumsi obat panas cair berupa sirop, yang diduga menjadi penyebab,” sebut Tulus.

Kemenkes, lanjutnya, harusnya juga menarik obat-obat cair atau sirop itu dari edaran.

“YLKI meminta pemerintah bergerak cepat dan sinergis, dalam menangani kasus ini.”

“Demi memberikan perlindungan yang menyeluruh pada masyarakat, khususnya anak-anak,” pungkas Tulus, tegas.

Ini jelas bukan masalah kecil, karena hingga Selasa (18/10/2022), sudah 99 dari 206 anak Indonesia yang mengalami gagal ginjal akut misterius, meninggal.

  • Bagikan