Menuju 2019, Ketika PKS Dibenturkan dengan NU

 

Sejak tagar #2019GantiPresiden ramai diperbincangkan, dimana pencetusnya adalah kader PKS Mardani Ali Sera, tak lama setelah itu ramai pula tagar pesaingnya. Bukan tagar #2019OgahGantiPresiden yang ramai, tetapi yang diserang adalah PKS nya

Muncul #BubarkanPKS yang dimotori aktivis Faizal Assegaf, kemudian beberapa pekan ini muncul upaya-upaya membenturkan NU dengan PKS.

Terlebih pasca protes keras kader-kader PKS terhadap apa yang dilakukan KH Yahya Staquf di Israel. Ada yang mengambil kesempatan lalu membuat kesimpulan bahwa protes terhadap pibadi Gus Staquf itu sebagai langkah PKS melawan NU. Padahal, pihak PBNU pun sudah mengeluarkan pernyataan bahwa yang dilakukan Gus Staquf misi pribadi dan bukan organisasi.

Kemudian ramai lagi wacana Islam Nusantara. Diskusi tentang hal ini sepertinya akan memakan waktu panjang hingga 2019 nanti.

Beberapa pekan ini ramai serangan dari akun-akun Facebook yang baru lahir mengatasnamakan Nahdliyyin yang menyerang PKS di media sosial.

Menghadapi situasi seperti ini, saran saya sih kader-kader PKS tetap bersabar. Bisa mengendalikan diri dan menjelaskan dengan cara Rahmatan Lil Alamin.

Inilah ladang amal kalian. Monggo jelaskan kepada masyarakat bahwa PKS dan NU baik-baik saja.

Banyak masyarakat yang belum paham seperti apa sih PKS?

Masih ada yang beranggapan kalau PKS dan NU itu tak bisa disatukan seperti air dengan minyak. Padahal PKS itu partai politik, berbagai komponen ada di dalamnya. PKB tak melulu diisi kalangan Nahdliyyin, ada anggota yang non-nahdliyin juga, bahkan non muslim. Begitupun PAN, meski kader Muhammadiyah banyak disana tetapi sejak awal banyak juga yang bukan Muhamadiyah.

Begitu juga di PKS. Ada yang dari NU, Muhamadiyah, PERSIS, PUI, Sarekat Islam bahkan di belahan Indonesia Timur, ada pengurus partai dan anggota DPRD dari PKS yang beragama Nasrani.

Ah yang bener di PKS ada NU?

Di tingkat Provinsi Jawa Barat ada Gus Ahad alias Ustadz Abdul Hadi Wijaya. Keturunan Pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Gus Ahad yang berdarah NU, Jawa Timur pula justru mendapatkan posisi terhormat di tanah sunda. Ia adalah sekretaris DPW Jabar.

Di tempat saya tinggal, Bekasi Barat ada yang namanya Ustadz Kadarusman. Waktu 2014 sih dia jadi caleg, belum tahu 2019 nanti.

Ustadz Kadarusman adalah tokoh pendidikan. Salah satu penggerak sekolah Islam terpadu dari tahun 1990an. Darahnya Betawi. Dulu beliau ketua DPC PKS Bekasi Barat dan sekarang pun masih PKS.

Suatu ketika saya pernah silaturahim. Menunggu lama di depan rumahnya karena beliau sedang pergi.

Ketika dia sampai rumah, tangan kanannya membawa tentengan plastik hitam.

“Itu apaan tadz?” tanya saya.

“Oh ini. Ane abis mimpin tahlil. Ada warga meninggal,” katanya.

Enjang Anwar Sanusi