Namanya Disebut, Abu Janda Jawab Mahfud

  • Bagikan
Abu Janda Mahfud

Ngelmu.co – Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan dialog bertajuk ‘Imaji Satu Abad Indonesia‘, pada Selasa (26/7/2022) kemarin.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md menjadi salah satu yang hadir dan bicara di acara tersebut.

Pada kesempatan itulah, ia turut menekankan bahwa pemerintah tidak pernah menebar narasi Islamofobia.

“Yang mengatakan itu bukan pemerintah, [tapi] rakyat, terhadap rakyat lain. Itu bukan fobia namanya, bukan Islamofobia… yang mengatakan itu Abu Janda, bilang ke ini, lalu dibilang Islamofobia, [Abu Janda] yang fobia. Pemerintah ‘kan tidak…”

Mendapati namanya disebut oleh Mahfud, Permadi Arya alias Abu Janda pun menyahut.

Ia membantah dirinya Islamofobia, sembari mengatakan hanya orang tidak waras yang percaya ada Islamofobia di Indonesia.

“Pak Mahfud, cuma orang tidak waras yang percaya ada Islamofobia di Indonesia.”

Demikian penuturan Abu Janda, melalui pesan singkat, seperti Ngelmu kutip dari CNN Indonesia, Rabu (27/7).

Ia juga bilang, tidak ada orang yang fobia dengan Islam di Indonesia.

Menurut Abu Janda, masyarakat Indonesia, hanya takut terhadap intoleransi.

Lebih lanjut, ia menyindir Habib Rizieq Shihab (HRS), beserta Front Pembela Islam (FPI); ketika membahas intoleransi.

Menurut Abu Janda, tuduhan Islamofobia beberapa kali menghampiri, saat ia tengah mengkritik HRS pun FPI.

“Waktu kita kritik Rizieq dan FPI, kita disebut Islamofobia. Jadi, Islamofobia itu dipakai untuk membungkam kritik terhadap intoleransi,” klaimnya.

Terpisah, melalui akun Instagram-nya, Abu Janda juga bilang:

Yang lagi ibadah diusir: umat kristen, yang pembangunan ditolak di mana-mana: gereja, yang diharam-haramkan: selamat natal.

Yang ada di Indonesia itu Kristenphobia, Gerejaphobia, dan SelamatNatalphobia.

Cuma orang tidak waras yang percaya di Indonesia ada ‘Islamophobia’.

Baca Juga:

Sebelumnya, Mahfud bercerita tentang pengguna media sosial yang bertanya kepadanya soal Islamofobia di Indonesia.

Mahfud kemudian bilang, tidak ada Islamofobia di Indonesia. Menurutnya, istilah itu muncul, karena tudingan antarrakyat; bukan karena pemerintah.

“Ada yang nulis [di media sosial], ‘Apa Anda yakin tidak ada fobia di Indonesia? Di Indonesia banyak fobia. Contohnya sekarang kalau ada orang pakai cingkrang, dibilang ke-Arab-Arab-an. Kalau orang ngaji, dibilang radikal. Kalau orang pakai cadar, dibilang budaya Arab. Itu ‘kan buktinya fobia’,” tutur Mahfud, menceritakan.

Ia pun menjawab, “Lo, yang mengatakan itu bukan pemerintah, [tapi] rakyat, terhadap rakyat lain. Itu bukan fobia namanya, bukan Islamofobia.”

Menurut Mahfud, pemerintah tidak pernah menuding pihak tertentu Islamofobia, termasuk di tiap kebijakan negara yang telah dibuat.

“Yang mengatakan itu Abu Janda, bilang ke ini, lalu dibilang Islamofobia, [Abu Janda] yang fobia. Pemerintah ‘kan tidak,” ujar Mahfud.

“Kalau hanya orang mengatakan, ‘Hei, kamu kok bercadar, itu ke-Arab-Arab-an’, lalu dibilang fobia, lo, yang bilang bukan pemerintah. Bukan kebijakan negara,” jelasnya.

Mahfud juga menegaskan, bahwa di Indonesia tidak ada Islamofobia, seperti yang dikhawatirkan publik.

Menurutnya, kini umat Islam justru sudah bebas dalam berekspresi, baik di bidang politik, pemerintahan, maupun intelektual.

“Saya katakan enggak ada Islamofobia di Indonesia. Enggak ada.”

“Apa coba? Orang Islam sudah bebas bersaing di politik, di pemerintahan, intelektual,” sebut Mahfud.

“Pokoknya, semua-semua orang Islam, sudah bebas,” sambungnya lagi.

Jauh sebelum ini, Wakil Presiden Ma’ruf Amin pernah mengimbau, jika Islamofobia harus dilawan.

Namun, sekaligus menjadi sarana bagi umat Islam untuk introspeksi.

Menurut Ma’ruf, saat ini Islamofobia mulai meningkat di berbagai belahan dunia.

“Jika diteliti lebih dalam, sumber utama dari kebencian terhadap Islam adalah ketidaktahuan atau ketidakpahaman terhadap apa Islam itu…” ujarnya kala itu.

  • Bagikan