Satrio Pencoret Musholla Tangerang

Pencoret Musala Darussalam Depresi? Ini Kata Kapolres Kota Tangerang

Diposting pada 993 views

Ngelmu.co – Apakah Satrio (18), pencoret Musholla Darussalam, Perum Villa Tangerang Elok, Kelurahan Kutajaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, mengalami depresi?

Kapolres Kota Tangerang, Kombes Pol Ade Ary Sam Indardi, membantah kabar tersebut.

Ia, mengatakan Satrio, dalam keadaan sehat. Tidak sedang depresi.

“Normal, ngobrol, bisa menjawab, dan bisa diskusi,” tuturnya, Selasa (29/9) malam, seperti dilansir Tempo.

“Sehat, saya ajak ngobrol bisa. Saya tanya sehat, dia bilang sehat,” sambung Ade.

Pihaknya, sedang menyelidiki kemungkinan adanya orang lain yang terlibat dalam vandalisme tersebut.

Pelaku ditangkap, kata Ade, berdasarkan keterangan para saksi yang melihat Satrio, keluar dari Musholla.

Pelaku, juga mengakui apa yang sudah diperbuatnya saat diperiksa penyidik.

“Kami menerima laporan warga pukul 16.00 WIB, dan pukul 19.30 WIB, pelaku ditangkap,” jelas Ade.

Satrio, diamankan beberapa jam setelah mencoret dinding, sajadah, hingga lantai Mushola, dengan kalimat ‘Saya Kafir’, ‘Anti Islam’, Anti Khilafah’, Islam Tidak Diridhoi’.

Selain itu, Satrio, juga menggunting sajadah, serta kitab suci Al-Qur’an.

Sampai saat ini, polisi masih memeriksa pelaku secara intensif.

Baca Juga: Ini Dia Pencoret ‘Anti Islam’ di Musholla Darussalam Tangerang

Kapolsek Pasar Kemis, Ajun Komisaris Fikri Ardiansyah, mengatakan pelaku merupakan mahasiswa di sebuah universitas swasta, di Jakarta.

Keluarga Satrio, yang beragama Islam, menyatakan, “Perangai dan tingkah laku S, mulai berubah sejak beberapa bulan terakhir ini.”

Demikian Fikri, menyampaikan informasi dari keluarga pelaku, kepada para wartawan, Rabu (30/9) kemarin.

“(Berdasarkan keterangan orang tua pelaku) Anaknya intovert. Dulu, sewaktu SMA, sering di-bully,” sambung Fikri.

Baca Juga: Resmi Jadi Tersangka, Pencoret Musholla Terancam 5 Tahun Penjara

Namun, beberapa bulan terakhir, tingkah laku serta perkataan mahasiswa semester 1 Fakultas Psikologi, itu mengalami perubahan.

“Lebih reaktif, berbuat negatif, nada bicaranya tinggi,” jelas Fikri.

Satrio, juga mengaku pernah ingin berhenti kuliah, karena merasa lelah di-usik.

Beberapa bulan terakhir, pelaku mengaku belajar agama dari YouTube dan aplikasi.

Polisi, pun masih menyelidiki konten yang dipelajari oleh Satrio.