Ahli Ungkap Sejarah Polarisasi ‘Cebong, Kampret, Kadrun, dan BuzzeRp’

  • Bagikan
Cebong Kampret Kadrun BuzzeRp

Ngelmu.co – Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengungkap sejarah polarisasi warganet di Indonesia.

Ia juga membeberkan, bagaimana sebutan cebong, kampret, buzzeRp, hingga kadrun, menjadi tren dan makin populer di media sosial Twitter.

Hampir tujuh tahun, Drone Emprit, merekam pernyataan mereka yang menggunakan panggilan-panggilan tersebut.

Perekaman berlangsung sejak 1 Juli 2015, sampai detik ini.

Cebong

Pendukung Prabowo Subianto adalah pihak pertama yang melekatkan sebutan cebong kepada para pendukung Joko Widodo, yakni Agustus 2015.

Artinya, pelepasan kodok oleh Jokowi di Istana Bogor, bukan asal-usul sebutan cebong, lahir.

Pasalnya, Jokowi melepas kodok di Istana Bogor pada 3 Januari 2016, dan saat itu, sebutan cebong sudah populer.

Putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, juga membuat candaan tentang kecebong pada 1 Januari 2016.

Adapun akun Twitter yang paling populer terkait sebutan cebong adalah:

  1. @RestyCayah;
  2. @TanYoana;
  3. @RajaPurwa;
  4. @anonLokal; dan
  5. @ekowBoy.

Kampret

Membalas sebutan cebong, istilah kampret pun lahir. Tepatnya pada Oktober 2015.

Jika cebong hidup di air, maka kampret hidup bergantung terbalik di pepohonan.

Panggilan cebong dan kampret pun mencapai puncaknya pada saat pemilihan presiden, April 2019.

Adapun akun Twitter yang paling populer terkait sebutan kampret adalah:

  1. @CH_chotimah;
  2. @Dennysiregar7;
  3. @laskar_minang;
  4. @TheArieAir; dan
  5. @P3nj3l4j4h.

Kadrun

Pencetus istilah kadrun yang pertama adalah akun @kebo_mangkrak dan @Manuputty1101, yakni pada 2018.

Kadrun makin populer pasca-Pilpres 2019, setelah Denny Siregar menyebut ‘kadal gurun’ pada Agustus 2019.

Lalu, pendukungnya pun menyingkat sebutan kadal gurun itu dengan kadrun.

Adapun akun Twitter yang paling populer terkait sebutan kadrun adalah:

  1. @Dennysiregar7;
  2. @ChusnulCh__;
  3. @Ch_ChotImah;
  4. @AnakKolong_; dan
  5. @Candraasmara85.

BuzzeRp

Dandhy Laksono dan akun Twitter @HokGie_, adalah yang pertama kali memopulerkan istilah BuzzeRp, yakni pada 2 Agustus 2019.

Tepatnya ketika menyoroti serangan buzzeRp terhadap Sexy Killers.

Sejak saat itulah, berbagai pihak menggunakan istilah serta varian buzzeRp untuk memanggil para buzzer yang mereka anggap dibayar oleh oligarki.

Namun, akun Twitter yang paling populer terkait sebutan buzzeRp adalah:

  1. @msaid_didu;
  2. @podoradong;
  3. @Dandhy_Laksono;
  4. @RamliRizal; dan
  5. @PutraWadapi.

Baca Juga:

Dalam periode satu tahun terakhir; usai pilpres [Januari 2021-April 2021], tradisi saling menyebut kelompok warganet dengan panggilan tadi [cebong, kampret, kadrun, dan buzzeRp] terus berlangsung.

Polarisasi yang dilabeli dengan nama-nama tersebut pun berlanjut. Bahkan, seolah dipelihara.

Setelah Pilpres 2019, sebutan kadrun menjadi yang paling sering dilontarkan, yakni 54 persen.

Sisanya terbagi untuk sebutan kampret, buzzeRp, buzzerRp, dan cebong.

Makin sering panggilan-panggilan itu disebut, maka makin besar dan terjaga pula polarisasinya.

Usai mengungkap hasil penelitiannya, Ismail pun menyampaikan harapan.

Ia meminta para influencer, buzzer, penggemar, ataupun pendukung–yang kerap menggunakan sebutan-sebutan di atas–dapat mengurangi kebiasaan tersebut.

“Bersedia mengurangi volume suara panggilan yang berdampak negatif bagi persatuan NKRI kita tercinta ini.”

  • Bagikan