Wawancarai Mahasiswi, Prof Budi Santosa: Tidak Satu pun Menutup Kepala ala Manusia Gurun

  • Bagikan

Ngelmu.co – Prof Budi Santosa Purwokartiko adalah rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), yang berhasil menyita perhatian publik.

Namun, bukan karena sesuatu yang bermanfaat. Sebab, berbagai pihak menyebut namanya, lantaran ia sendiri yang menciptakan kegaduhan.

Budi menulis status di akun Facebook pribadinya pada 27 April 2022, dan kini viral.

Pasalnya, publik menilai tulisan Budi, mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Tulisannya tersebut berkaitan dengan program seleksi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud Ristek.

Dalam seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP); yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto juga bicara. Ia bilang, “Mohon minta klarifikasi ke Dirjen Dikti Kemendikbud, ya.”

“Kalau melihat tulisannya, beliau mewawancara untuk program Dikti,” tutur Andin, Sabtu (30/4/2022).

Berikut tulisan Budi, yang memicu kontroversi:

Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri.

Program Dikti yang dibiayai LPDP, ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa.

Mereka adalah anak-anak pintar yang punya kemampuan luar biasa.

Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo.

Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3,5. Bahkan, beberapa 3,8 dan 3,9.

Bahasa Inggris mereka cas cis cus, dengan nilai IELTS 8; 8,5; bahkan 9.

Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150, padahal syarat minimum 100. Luar biasa.

Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi:

  • Apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya;
  • Apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme, dan sebagainya.

Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati.

Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit:

  • Insya Allah,
  • Barakallah,
  • Syiar,
  • Qadarullah, dan sebagaianya.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta; beberapa tahun mendatang.

Dan kebetulan, dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok; sisanya cewek.

Dari 14, ada dua tidak hadir.

Jadi, 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.

Otaknya benar-benar open mind.

Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat, dan US.

Bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.

Baca Juga:

Tulisan itulah yang membuat banyak kepala geram. Menyayangkan seorang profesor, malah asyik dengan pilihan kata yang begitu memicu perpecahan.

Dari sekian banyak yang marah, Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menjadi salah satu yang memberikan tanggapan:

Tulisan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini bisa masuk kategori ‘rasis’ dan ‘xenophobic’.

Rasis: pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab). Xenophobic: benci pada orang asing (manusia gurun).

Saya kira beliau contoh korban ‘firehose of kadrunisasi’.

Jangan dicontoh, ya!

  • Bagikan