Bela Diri, Rasmus Paludan: Polisi Mengizinkan Pembakaran Al-Qur’an

  • Bagikan
Rasmus Paludan Pembakaran Al-Qur'an

Ngelmu.co – Politikus Denmark, Rasmus Paludan, menyampaikan pembelaan, usai melakukan aksi keparat; membakar kitab suci Al-Qur’an di Linkoping, Swedia, Kamis (15/4/2022).

Melalui akun Instagram pribadinya, @lawlordofdenmark, ia mengeklaim, telah memberikan penjelasan terkait aksinya, ketika hendak memohon izin kepada pihak kepolisian.

“Saya selalu menyatakan dalam permohonan izin saya untuk demonstrasi, bahwa Al-Qur’an harus dibakar,” tuturnya, seperti Ngelmu kutip pada Kamis (21/4/2022).

“Dari polisi, izin tertulis resmi itu, diketahui bahwa Al-Qur’an akan dibakar selama demonstrasi,” sambung Paludan.

“Maka saya harus berasumsi, bahwa membakar Al-Qur’an adalah sah, jika polisi sendiri yang memberikan izin tertulis untuk itu,” imbuhnya lagi.

Baca Juga:

Paludan juga menyebut aksi keparatnya; membakar kitab suci Al-Qur’an, adalah bentuk kritiknya terhadap Islam.

“Pembakaran Al-Qur’an merupakan kritik terhadap agama Islam,” ujarnya.

“Kritik terhadap agama, diperbolehkan di Swedia,” lanjutnya.

“Pada awal 2020, seorang jaksa menyatakan bahwa membakar Al-Qur’an bukanlah tindakan ilegal,” sambungnya lagi.

Lagi-lagi, Paludan bilang, “Saya tidak melakukan sesuatu yang ilegal.”

“Saya juga tidak bermaksud melakukan sesuatu yang ilegal. Polisi telah memberikan izin tertulis untuk pembakaran Al-Qur’an,” klaimnya lagi.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Ngelmu.co (@ngelmuco)

Sebagai informasi, Paludan, mengulangi aksi keparatnya; membakar kitab suci Al-Qur’an, pada Kamis (15/4/2022) lalu.

Aksi keparatnya bersama kelompok anti-muslim garis keras di Swedia, berujung demonstrasi, hingga melukai sembilan polisi.

Paludan dan partainya, Stram Kurs, yang membakar Al-Qur’an di area terbuka, memancing ratusan orang turun ke jalan.

Tegas, mereka menentang aksi yang dilakukan oleh Paludan dan kelompoknya.

Namun, Paludan tetap meneruskan aksi keparatnya.

Dua hari setelah membakar Al-Qur’an di Linkoping, Swedia; kota dengan mayoritas penduduk muslim, Paludan malah mengeluh soal kaki.

“Seorang penjahat melempari saya dengan batu, dan memukul kaki saya, saat saya ‘dilindungi’ oleh polisi Swedia di luar Kota Malmö, hari ini [re: Ahad, 17 April 2022].”

“Saya akan dengan senang hati, jika Anda mau menyumbangkan koin $$$ untuk perlindungan kaki dan tambalan. Lalu, saya bisa melanjutkan [aksi].”

Demikian tulis Paludan pada takarir unggahannya, seperti Ngelmu kutip dari akun Instagram-nya, @lawlordofdenmark, Senin (18/4/2022).

Namun, alih-alih mendapat simpati, Paludan justru menjadi tertawaan.

Selengkapnya, baca di:

  • Bagikan