Rekam Jejak Gerindra-Demokrat Lima Tahun Terakhir

  • Bagikan
Gerindra-Demokrat

Ngelmu.co – Usai melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, SBY mengaku bahwa berkoalisi dengan Presiden Joko Widodo hampir tak mungkin terjadi karena adanya kendala dan kemungkinan berkoalisi dengan Prabowo terbuka lebar. SBY menyampaikan bahwa kemungkinan koalisi Gerindra-Demokrat akan terlaksana walaupun belum ada keputusan bulat terkait dengan koalisi tersebut.

Dilansir dari Viva, setelah melakukan pertemuan dengan Prabowo, SBY mengisyaratkan terbuka lebar membangun koalisi Gerindra-Demokrat. Ditambah lagi, setelah mengisyaratkan koalisi Gerindra-Demokrat, SBY mengatakan bahwa langkah selanjutnya, SBY siap menjalin komunikasi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Namun, beberapa pihak mencoba menganalisis langkah selanjutnya yang akan terjadi setelah pertemuan SBY-Prabowo tersebut. Salah satunya adalah Enjang Anwar Sanusi. Enjang Anwar Sanusi mencoba untuk memberikan rekam jejak hubungan antara Gerindra-Demokrat selama ini.

Baca juga: Hasil Pertemuan Prabowo-SBY: Koalisi Terbuka Lebar

Rekam Jejak Hubungan Gerindra-Demokrat Lima Tahun Terakhir

Prabowo dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), keduanya berasal dari TNI dan keduanya juga pemimpin partai, Gerindra dan Demokrat. Yang membedakan adalah SBY pernah jadi presiden dua periode sedangkan Prabowo baru maju jadi cawapres dan capres dua periode. Keduanya bertemu Selasa (24/7/2018) kemarin untuk membahas kemungkinan berkoalisi di 2019.

“Saya katakan tersedia (berkoalisi). Koalisi yang efektif yang kokoh harus berangkat dari niat baik, good will. Harus saling menghormati, mutual respect, dan saling percaya, mutual trust dan memiliki chemistry yang baik,” ujar SBY seperti dikutip dari Kompas.

https://nasional.kompas.com/read/2018/07/24/21543111/sby-jalan-untuk-koalisi-demokrat-gerindra-terbuka-lebar

Namun, dalam pertemuan ini, keduanya belum bersepakat soal siapa yang akan menjadi pendamping Prabowo di kontestasi Pilpres 2019.

Tentang sikap politik yang diambil SBY dan Demokrat lima tahun ke belakang, berikut ini rekam jejak yang bisa jadi bahan masukan bagi Prabowo:

Partai Demokrat Memilih Netral di Pilpres 2014

Setelah kalah banyak di Pemilu legislatif tahun 2014, Partai Demokrat memilih langkah mutung di Pilpres 2014. SBY menyatakan partainya memilih netral, tak mau memihak kepada Jokowi maupun Prabowo.

“Sungguh pun tidak bergabung dengan formal, atau dalam istilah pers non-blok, tidak berarti kader Partai Demokrat menjadi golput,” kata Ketua Harian Partai Demokrat, Syarief Hasan, pada Selasa (20/5/2014) silam.

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/05/140520_demokrat_sikap_netral

Demokrat kukuh tidak mau mendukung Prabowo, padahal saat itu yang menjadi Cawapres adalah Hatta Rajasa, salah satu menteri terbaik yang juga besan SBY.

Padahal saat itu, Prabowo sudah sangat berharap dukungan resmi SBY. Prabowo mengatakan, dirinya yakin ajakan koalisinya akan diterima Partai Demokrat. “Dari bahasa tubuh, dan dari senyumannya,” kata Prabowo, Selasa (20/5/2014) siang di kantor KPU, sambil tersenyum, mengomentari sikap SBY saat ia temui sehari sebelumnya.

Partai Demokrat Ogah Dukung Anies-Sandi di Putaran Dua Pilgub DKI

Sikap netral atau abstain kembali ditempuh Partai Demokrat saat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) gagal melaju di putaran pertama PIlgub DKI 2017 dan dikalahkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Demokrat ogah menyatakan dukungan mendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang didukung penuh PKS dan Gerindra.

“Seperti bagaimana yang sudah kita prediksikan, kita mengikuti apa yang sudah disampaikan mas Agus (AHY-red). Mas Agus menyerahkan kepada pilihan hati nurani masing-masing dan dipersilakan karena menurut mas Agus, beliau berterima kasih atas semua bantuannya selama ini. Jadi mulai saat ini, sah-sah saja kalau ada elemen yang menyatakan dukungannya untuk paslon nomor 2 atau 3 karena selama ini kita tahu tetap harus memilih,” kata Wakil Ketua Partai Demokrat Roy Suryo di acara di Jakarta (15/3/2017).

https://www.merdeka.com/politik/ahy-bebaskan-timses-kader-demokrat-tentukan-pilihan-di-pilgub-dki.html

Partai Demokrat Tak Mau Dukung Cagub Jabar Pilihan Prabowo

Saat itu sudah muncul bakal pasangan calon gubernur Jawa Barat periode 2018-2023 Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu yang diusung Partai Demokrat, PKS dan PAN. Lantas Partai Gerindra tidak mau mendukung pasangan ini dan lebih menginginkan orang dekat Prabowo yang juga berasal dari TNI, Sudrajat yang maju menjadi calon gubernur Jabar.

“Jabar sudah selesai. Sudah kami rapatkan sehingga mari siapkan untuk bertanding,” ucap Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171215042955-32-262553/demokrat-pastikan-tak-dukung-calon-gerindra-di-pilgub-jabar

PKS lantas menarik dukungan dari Deddy Mizwar dan komitmen mengikuti keputusan Gerindra yang menghendaki pasangan Sudrajat-Syaikhu. Namun demikian tidak dengan Demokrat, partai ini tak mau mengikuti keinginan Gerindra dan tetap memajukan Deddy Mizwar.

Enjang Anwar Sanusi

  • Bagikan