Sudirman Said tak Ingin Tambah Kepala Daerah yang Jadi Pasien KPK

Diposting pada 46 views

Ngelmu.co, SEMARANG– Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) Jawa Tengah adalah kesempatan emas untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. Pilkada adalah hajat rakyat semesta , dan harus menjadi ajang makmum mencari imamnya

Calon Gubermur Jawa Tengah Sudirman Said mengungkapkan hal itu pada acara pengambilan nomor urut psangan calon Pilgub Jateng 2018, Rabu (13/2) di Semarang.

Lebih lanjut Sudirman menyampaikan bahwa demokrasi dan politik harus dikembalikan harkat dan martabatnya. Saatnya orang baik, yang jujur dan memiliki integritas masuk ke jalur politik dan menjadi pemimpin di daerah-daerah.

“Dengan begitu KPK tidak akan lagi memiliki pasien dari kepala daerah,” lanjut Pak Dirman.

“Cukup 93 kepala daerah, 72 bupati/walikota dan 21 Gubernur berurusan dengan KPK. Cukup sudah 144 anggota DPR RI dan DPRD, 25 Menteri/Kepala Lembaga, dan 175 pejabat eselon satu menjadi pasien KPK. Cukup sudah lebih dari Rp 200 triliun uang negara tercuri. Uang ini setara dengan 10 APBD Jawa Tengah,” lanjut Sudirman.

Pak Dirman menegaskan, dirinya dan pasangannya berkomitmen tidak akan menambah jumlah kepala daerah yang tersandung kasus hukum. 

“Kami berjanji tidak ingin menambah jumlah kepala daerah yang tertangkap KPK. Kami berdua, Mbak Ida Fauziyah dan saya Sudirman Said, beserta seluruh Partai-partai koalisi dan barisan relawan berikrar ingin membangun pemerintahan yang bersih; yang dimulai dengan kepemimpinan yang bersih, yang benar benar bekerja hanya untuk rakyat,” tandas Dirman.

Sudirman menegaskan, ingin mengikuti, dan turut menjaga agar Pilkada Gubernur Jawa Tengah diselenggarakan dalam semangat demokrasi yang berkualitas, demokrasi yang menjujung tinggi nilai-nilai luhurnya.

Dalam kesempatan itu Sudirman juga menyampaikan, politik merupakan kegembiraan. Karena itu ajaklah warga bersuka cita menyongsong pembaharuan dan perubahan Jawa Tengah. Politik adalah jalan menuju pengabdian dan pelayanan, kerahkan segala akal budi, daya upaya, pikiran dan tenaga untuk memajukan, mensejahterakan, dan mencerdaskan warga, sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa.

“Kontestasi politik bukan permusuhan, tetapi perlombaan menawarkan kebajikan (Fastabikhul khoirot), mari kita jalankan dengan penuh kesantunan,”pungkasnya.