Populisme Islam

Tangkap Gelombang Populisme Islam, Prabowo Harus Gandeng Salim Segaf

Diposting pada 187 views

Ngelmu.co – Hasil pertemuan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional beberapa waktu lalu adalah merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres dan Habib Salim Segaf Aljufri serta Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres. Terkait rekomendasi itu, banyak yang meminta Prabowo untuk menggandeng Habib Salim untuk dapat menangkap populisme Islam.

Diketahui bahwa sentimen publik dan tren ‎politik negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di dunia saat ini, termasuk salah satunya Indonesia, adalah menguatnya semangat gelombang populisme Islam.

Di Indonesia, populisme Islam telah dirasakan merambah dinamika politik, serta mengkristal menjadi kekuatan politik baru yang dahsyat. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseracrh and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago.

‎”Populisme Islam telah menjelma menjadi salah satu kekuatan politik, kini juga ikut memainkan peranan yang cukup strategis dalam rangka menggalang kekuatan‎, menemui momentumnya dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu,” kata Pangi, dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/8), dikutip dari Tribunnews.

Baca juga: Diunggulkan PKS Jadi Cawapres Prabowo, Begini Kekuatan Habib Salim Segaf

Pangi menyatakan bahwa poros koalisi Gerindra – Demokrat – PKS – PAN harus memperhitungkan populisme Islam jika ingin meraup suara elektoral signifikan dan memenangkan pertarunan pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. ‎Oleh karena itu, Ijtima Ulama GNPF 212 tak bisa dipisahkan sebagai bagian dari aksi nyata gerakan ini.

“Rekomendasi yang dikeluarkan oleh gerakan ini menjadi pertimbangan penting, menjadikan sebagai daya tawar dan lobi (bergaining position) politik di kubu Prabowo yang semakin dinamis,” ujar Pangi.

Menurut Pangi, untuk dapat mengimbangi elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini masih unggul, kubu koalisi Gerindra harus bisa membaca arah sentiment publik. Maka, untuk mempertimbangkan sentiment publik dan gelombang populisme Islam saat ini, Prabowo harus mempertimbangkan matang-matang rekomendasi Ijtima Ulama GNPF 212.

Diberitakan sebelumnya bahwa paket yang rekomendasi dikeluarkan dari Ijtima ulama GNPF yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS). Salim Segaf Al-Jufri adalah Ketua Majelis Syura PKS, mantan menteri Sosial era SBY dan juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi dan Oman. ‎

Diketahui bahwa UAS telah secara tegas menolak untuk dijadikan calon wakil presiden (Cawapres).‎ Oelh sebab itu, untuk bisa mengimbangi Jokowi, Pangi menyatakan bahwa Prabowo sudah seharusnya menggandeng Salim Segaf Al-Jufri sebagai Cawapresnya.

Pangi menilai Habib Salim Segaf yang merupakan keturunan Ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan nama ‘Guru Tua’ pendiri yayasan Al-Khairaat dan juga masih punya garis hubungan sangat dekat dengan Habaib dan juga dekat dengan kiyai NU, dan tokoh Muhammadiyah serta cenderung lebih moderat dan mampu berkomunikasi dengan semua kelompok dan kekuatan Islam mana pun. Sehingga, kata Pangi, Habib Salim sangat bisa diterima pemilih ‎dari kalangan Islam.

Oleh karena penerimaan terhadap sosok ini cukup luas, sehingga upaya menyatukan kekuatan Islam yang menjadi agenda politik di kalangan umat Islam akan menemukan momentum yang tepat. Di sisi lain, Salim Segaf Al-Jufri juga sudah berpengalaman dalam urusan pemerintahan, punya jam terbang dengan berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai menteri sosial dan duta besar. Hal tersebut tentu saja menjadi modal yang sangat berharga untuk menjadi wakil presiden jika nanti Habib Salim berjodoh dipasangkan dengan sosok Prabowo.

Pangi juga menilai jika dengan sesama dari Kalangan Militer, Prabowo Kurang Cocok Dipasangkan dengan AHY‎. Pangi menandaskan, jika ingin memenangkan pilpres 2019 dengan dukungan kuat dari kalangan Islam, maka Salim Segaf harus didahulukan ketimbang figur lain.

Selanjutnya, pasangan Prabowo – AHY kombinasi yang kurang menjual dan kurang tepat, karena sama-sama militer, sama-sama nasionalis.‎

“Ceruk segmen Prabowo – AHY juga sama irisannya. Kita bisa bayangkan dan mudah memprediksi (forecast) simulasi pertarungan peta lama misalnya Prabowo-AHY berhadapan dengan Jokowi-Mahfud MD. Sebaliknya akan keras benturan pertarungannya, dan sulit diprediksi apabila Prabowo-Salim Segaf head to head dengan Jokowi-Ma’ruf Amin,” papar Pangi.