Tantangan pun Musuh itu Memecah Barisan

Ngelmu.co – Sejak Nabi Adam as, tantangan hidup dan perjuangan yang sumbernya itu-itu juga (Syetan), selalu bertujuan memecah shaf atau barisan para pejuang dan para da’i. Bentuk pemecahannya juga bervariasi, antara lain:

1. Lahirnya kelompok yang tetap konsisten dan komitmen terhadap ideologi perjuangan dan manhaj berdakwah, apa pun risikonya, walau tidak populis dan menarik secara mata lahir manusia.

Biasanya kelompok inilah yang akan tetap bertahan sampai-sampai syahif, atau Allah memenangkan perjuangan mereka.

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup,” (QS. Al-Jin: 16).

2. Lahir pula kelompok yang mengubah gaya dan manhaj perjuangannya, sesuai sikap mayoritas masyarakat, bahkan memodifikasi ideologinya, lebih cair, dan lambat laun kehilangan jati dirinya sebagai pejuang atau da’i.

Dengan alasan klasik, bahwa perjuangan mengikuti selera konsumen terbuka dan cair.

Kelompok ini terbukti dalam sejarah, mereka tenggelam bersama masyarakatnya dan akan hilang dengan munculnya masyarakat baru yang lebih baik dan konsisten.

“Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini),” (QS. Muhammad: 38).

3. Lahir kelompok permisivisme, kehilangan semua jati dirinya dan ideologinya, membolehkan semuanya, tidak ada lagi standar dan perbedaan antara halal dan haram, baik dan buruk.

Mengikuti orang kafir, sampai ke lobang biawak sekalipun. Dan kelompok ini terbukti dalam sejarah mereka lenyap dan menyatu bersama musuh, dan berbalik melawan kawan se-agama dan se-ideologinya.

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman,” (QS. Ibrahim: 28-29).

Baca Juga: Sindrom Abu Jahal, Penyakit Penghapus Berkah

Na’udzubillah, semoga kita tetap istiqomah dalam perjuangan panjang ini, apa pun yang terjadi.

Karena memang, masuk surga itu harganya mahal, yaitu kesabaran, iman, dan pengorbanan.

 

Abu Zahwa