Sindrom Abu Jahal, Penyakit Penghapus Berkah

  • Bagikan
Sindrom Abu Jahal

Ngelmu.co – Sindrom Abu Jahal, penyakit penghapus berkah … Penyakit ini bukan hanya bisa menghapus keberkahan, bahkan di level berikutnya, penyakit ini bisa menutup pertolongan Allah dalam hidup. Apa jadinya hidup ini ketika Allah sudah tidak mau lagi menolong kita? Adakah selain-Nya?

Sindrom Abu Jahal, Penyakit Penghapus Berkah

‘Warisan Abu Jahal…’, begitu saya menyebut penyakit ini. Sindrom yang betul-betul harus disadari, untuk kemudian kita buang jauh-jauh.

Allah menyebutkan penyakit ini dalam QS. Al Anfal (8) ayat 47.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya)…”

Ketika musyrikin Makkah bergerak ke lembah badr, dengan kekuatan 1.300 pasukan, persenjataan lengkap, dan persiapan sempurna.

Berbicaralah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal selaku komandan umum;

“Kita tidak akan pulang sebelum mengambil alih Badr, membinasakan Muhammad dan para sahabatnya, menetap di sana selama tiga hari sambil menyembelih unta, makan-makan, minum khamr, dan menikmati nyanyian dari para biduan, hingga bangsa Arab mendengar keberadaan dan cerita tentang kita, setelah itu untuk selamanya bangsa Arab akan segan terhadap kita.”

Sindrom Abu Jahal

Kita sudah tahu akhir cerita dari perang Badr, Abu Jahal terbunuh, pasukan musyrikin Makkah harus merasakan kekalahan telak, padahal dalam keadaan yang lebih siap, lebih banyak, dan lebih kuat.

Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah dua penyakit yang menjadi sumber kerugian dan kekalahan dalam hidup.

Dan dua hal itu terbaca dengan jelas dalam pidato Abu Jahal di atas.

1. Arogansi (Kesombongan)

Ini adalah satu hal pasti yang akan menghilangkan berkah dalam hidup, satu hal yang akan menutup pertolongan-Nya.

Sombong itu bukan tentang berpakaian bagus atau berkendaraan mahal, tapi kata Rasulullah ada dua indikator yang menjadi paramater bahwa kita sedang terjangkiti penyakit ini; menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Gejala penyakit:

  • Merasa lebih dari yang lain,
  • Memicingkan mata kepada orang lain,
  • Merendahkan sesama,
  • Berat menerima kritik,
  • ‘Tidak betah’ mendengarkan orang lain, lebih-lebih jika yang berbicara adalah orang levelnya lebih rendah dalam pandangan duniawi.

Dan turunan dari penyakit yang pertama ini adalah sindrom yang kedua.

2. Ingin Dilihat Orang Lain

Niat yang sempit, melakukan sesuatu hanya untuk dinilai manusia.

Berjuang untuk bisa sukses dalam hidup, berkarya, berupaya untuk bisa meraih pencapaian-pencapaian hebat dalam karir atau usaha, hanya untuk membuat orang lain kagum.

Jika sudah begitu, tak peduli sehebat apa pun; nol besar nilainya di sisi Allah.

Gejala pertama, ketika yang kita betul-betul pedulikan adalah “Apa kata orang?”

Khawatir sekali dengan “Apa kata orang”
Memutuskan sesuatu dengan pertimbangan “Apa kata orang”
Rela bayar cicilan seumur hidup, demi “Apa kata orang”

Kita letakkan kebahagiaan di mulut orang lain. Mati-matian melakukan apa pun demi mengesankan orang lain.

Ada rasa puas yang luar biasa ketika berhasil membuat orang lain terkesan.

Se-akan sudah tidak terlalu dihiraukan bagaimana Allah melihat, yang penting bagaimana orang lain melihat.

Gejala kedua:

Mudah tersinggung, mudah sakit hati,
Mudah sekali merasa diremehkan.

Betapa haus sekali akan penghargaan dan pengakuan dari orang lain.

Ingin selalu terlihat,
ingin selalu tampil,
ingin selalu dikenal,
ingin selalu disebut,
ingin selalu diketahui,
Ingin selalu dihargai.

Ini saya, ini saya…

Mudah kecewa,
Mudah marah,

Memang selalu begitulah akhir ceritanya bagi siapa saja yang menaruh harapan pada selain Allah.

Gejala ketiga:

Biasanya diikuti juga dengan gejala tambahan, yaitu kondisi perasaan yang amat bergemuruh untuk bersaing dengan orang lain dalam urusan dunia.

Seolah-olah hidup hanya tentang persaingan, untuk saling mengalahkan satu sama lain.

Hidup yang dipenuhi dengan ambisi-ambisi sempit, yang menjadi hobinya adalah membandingkan-bandingkan.

Jika tidak segera disadari, yang paling bahaya dari itu semua adalah puncak penyakit berupa hati yang penuh dengan kedengkian.

Susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah.

Tidak lelah kah hidup seperti ini?

Baca Juga: Pada Satu Titik, Ketika Kezaliman Melampaui Batasnya

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama, khususnya terutama untuk yang menulis tulisan ini, semoga menjadi cermin.

بارك الله فيكم

Oleh: Sonny Abi Kim

  • Bagikan