Beda antara Ma’ruf Saksi Ahok dengan Suteki Saksi Ahli HTI

Diposting pada 755 views

Ngelmu.co – Cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin, dengan mantan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Profesor Suteki, S.H., M.Hum. pernah sama-sama menjadi saksi dalam persidangan. Namun, di antara keduanya terdapat perbedaan.

Apa yang membedakan antara Ma’ruf AMin dengan Prof. Suteki?

Diketahui bahwa Ma’ruf menjadi saksi yang memberatkan bagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terpidana penistaan agama, pada 27 September 2016. Sedangkan Profesor Suteki pernah menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan terhadap Perppu Ormas yang digelar di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Saat ini, Ma’ruf menyatakan dirinya menyesal telah bersaksi yang memberatkan sehingga membuat Ahok dipenjara. Ma’ruf pun mengklaim bahwa dirinya menjadi saksi karena terpaksa.

Sementara itu, Profesor Suteki tak pernah menyesali dirinya pernah menjadi saksi ahli. Walaupun akibat dari kesaksiannya itu, ia harus dinonaktifkan atau dipecat dari jabatannya. Prof. Suteki menyatakan bahwa kesaksiannya di MK merupakan kepedulian dirinya terhadap hak-hak konstitusional warga negara. Oleh karena itu, ia bersedia menjadi ahli dalam sidang di MK dan PTUN.

Pihak Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, memberhentikan Profesor Suteki sebagai Kepala Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) Pascasarjana Undip berdasarkan SK Rektor No 223/UN7.P/KP/2018 tertanggal 6 Juni 2018. Profesor Suteki juga diberhentikan dari Ketua Senat FH dan anggota Senat Undip.

Sikap yang berbeda antara Ma’ruf Amin dengan Profesor Suteki, mendapatkan respon dari netizen. Banyak dari netizen yang menyayangkan sikap dari Ma’ruf Amin.

Berikut adalah beberapa komentar netizen atas perbedaan sikap antara Ma’ruf Amin dengan Profesor Suteki:

Meta Effendi: “Sedih banget, أستغفر الله semoga hidayah masih bisa menghampirimu ya Pak Ma’ruf Amin…”

Jamilah Kusuma Wardani: “Menyedihkan .. astaghfirullah.”

Aseptiana Edip: “Dunia..jabatan.. sdh menggelapkan mata pak tua.”

Nur Nurhayati: “Astaqfirullah pak kiyai dulunya islam kaffah ..sekarang jadi begini …aduh gak jadi deh dapat istana di Surga….semoga bisa dpt hidayah lagi.”

Muhammad Benny Baskara: “Demi sebuah posisi, harus minta maaf kepada pendukung penista agama, biar diterima …. Kasian bapak satu ini..”

Ifat Fajar: “Inkonsistensi….. Demi jabatan dan kekuasaan…”

Sugiharto: “Bravo Prof Suteki.”

Porwaning: “JANGAN PERNAH menyesal pak Prof.. Karena pak Prof sudah disediakan ganti jannahNYA. Biarlah simbah itu mengotori jalan menuju yaumil akhirnya sendiri.”