Berita  

Jajal Tol Layang Japek II, Netizen: Serasa Off Road

Tol Layang Japek II

Ngelmu.co – Beberapa pengendara mobil yang menjajal Jalan Tol Layang Japek II, di Bekasi, Jawa Barat, mengaku tak nyaman, bahkan ada yang menyamakan pengalamannya dengan kegiatan off road.

“Mencoba #tol_elevated_Japek, serasa off road. Jalannya mentul-mentul, enggak nyaman dan berbahaya jika kecepatan tinggi,” tulis pengguna media sosial Twitter, @ikaagung.

Komentar Warga Usai Jajal Tol Layang Japek II

Pernyataan itu pun di-amini oleh netizen lainnya, yang juga mengaku telah memiliki pengalaman pribadi, saat melewati Tol Layang Jakarta-Cikampek II.

Docfun: “Saya menahan komentar soal tol Japek yang bergelombang, sebelum buktikan sendiri. Ternyata benar. Serasa menyeberang ke pulau Tidung, yang mabokan siap-siap bawa kresek 🙏

Barusan saya lewat ke arah Cikampek. Sama saja. Bergelombang. Apa karena jarak antara sambungannya terlalu rapat?

Gak ngerti, yang jelas tidak nyaman. Coba deh bandingkan dengan tol layang lingkar Jakarta. Nyinyir tol bergelora ini moga dibaca pemerintah.

Bahwa memang ada yang belum beres. Kita senang ada tol Japek, tapi lebih senang juga yang berkualitas dan aman. Bukan twit-twit justifikasi ala bajer nganu itu lho.”

Sami Aji: Tol layang Japek, 15 Desember 2019. Kualitas permukaan jalan pada sambungan mengganggu kenyamanan.

Akbar Kiahaly: Kesan awal naik tol Japek 2, jalan kurang mulus, khususnya pada sambungan tol, masih sangat kasar. Berasa banget kalo pakai mobil kecil.

Selain menyampaikan kritik serius, ada pula warganet lain yang memberikan masukan lewat kelakar.

Deni Sutamsah: “Bagi yang nyinyirin tol Japek dibangun asal karena bergelombang, gw kasih tips.

Dengerin dangdut koplo yang kenceng pas lewat di atasnya, dan perbanyak bersyukur. Selamat berlibur sobat NKRI.”

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah meresmikan Jalan Tol Layang Japek II elevated, yang menghubungkan Cikunir hingga Karawang Timur, Kamis (12/12) lalu.

Para pengemudi pun sudah bisa melintas jalan layang sepanjang 36,4 kilometer, yang mana tarif atas tol baru akan ditentukan pemerintah pada Januari atau awal Februari 2020.

Pakar Manajemen Ikut Beri Tanggapan

Namun, terkait berbagai keluhan yang muncul, pakar manajemen konstruksi dari Universitas Pelita Harapan, Manlian Ronald Simanjuntak memberikan tanggapan.

Menurutnya, jarak sambungan jalan di tol layang Japek II, memang terlalu lebar, sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan pengguna jalan.

“Antar bentang jalan itu kok begitu jauh, expansion joint. Itu saya pikir menjadi kegagalan. Kegagalan sistem struktur adalah antara expansion joint itu terlalu besar, sehingga terjadi ketidaknyamanan ketika pengendara lewat,” kata Manlian.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan, jika dalam sistem konstruksi jalan layang, dibutuhkan jarak antar satu bentangan jalan dengan jalan lainnya.

Tujuannya, agar jika ada beban horizontal seperti gempa, maka jalan akan lentur dan tidak roboh. Namun, menurut Manlian, jarak itu pun tak boleh terlalu lebar.

“(Tol layang lainnya) seperti Priok paling hanya beberapa sentimeter. Nah, ini ‘kan begitu besar, sehingga harus penambahan karet yang begitu besar,” tuturnya.

“Level terhadap aspal yang juga begitu maksimal. Kemudian perawatannya, semakin besar celahnya akan semakin besar upaya perawatan,” sambung Manlian.

Baca Juga: Singgung Lutfi Pengangguran Nyamar Pakai Seragam, Jubir PSI Dikritik Netizen

Penggunaan material baja yang dominan, sebutnya, juga menjadi penyebab jalan bergelombang.

Padahal, seperti dilansir Viva News, Senin (23/12), jika jalan tol layang itu dibangun dari beton, menurut Manlian, lengkungan jalan bisa diminimalisir.

“Kalau baja itu dia lebih lentur, maka dari itu, karena penggunaan baja yang besar, sehingga lengkungan itu menjadi dominan,” ujarnya.

“Itu pertanyaan saya, siapa yang pilih baja? Dan siapa yang memastikan baja menjadi penggunaan bahan dominan?” pungkas Manlian.

Tetapi secara umum, dari aspek keamanan, Jalan Tol Layang Japek II dianggap telah memenuhi semua kriteria, dan aman untuk digunakan.