Opini  

PKS Menuju Partai Terbesar 2024

 

PKS yang saat ini berusia 20 tahun seperti layaknya seorang “pemuda” yang sangat diperhitungkan di jagat perpolitikan di Indonesia, walau hasil suaranya masih pada kisaran 7%. PKS bukan lagi seperti anak kecil yang lucu dan mudah dipermainkan.

Laju PKS yang diprediksi akan menguasai gedung parlemen tahun 2024, mulai dihambat pada Pemilu 2014 malalui isu partai korupsi sapi dengan harapan tidak masuk parliementary threshold, namun rencana itu kandas.

Saat menjelang pemilu 2019 ini, PKS diterjang issue yang sangat krusial yaitu perpecahan internal dengan target PKS mati muda pada usia yang ke-20 tahun. Presiden PKS saat ini di-issue-kan “under capacity” dan arah PKS telah salah dalam menapaki jalan dakwah, sehingga MSI harus diganti agar PKS tidak mati muda.

Namun demikian, jajaran DPP PKS saat ini mempunyai keyakinan sangat kuat bahwa pada Pemilu 2019 akan memperoleh suara signifikan yaitu 12% suara di parlemen. Keyakinan ini didasarkan tumbuhnya kesadaran yang meluas di tengah-tengah masyarakat untuk memilih Partai Islam setelah momentum 212.

Lantas apakah prediksi PKS akan mati muda pada usia 20 tahun ini terbukti atau PKS akan terus tumbuh melaju menuju partai terbesar pada Pemilu 2024 ? hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui.

PKS akan memperoleh suara 12% pada Pemilu 2019 dan menjadi partai terbesar pada 2024 indikasinya lebih kuat daripada PKS akan mati muda pada usia 20 tahun. Selain adanya kesadaran masyarakat untuk memilih Partai Islam pada Pemilu 2019, juga mesin politik PKS terlihat sangat solid dan efektif dalam pemenangan Pilkada serentak 2018 yang lalu.

Kaderisasi Partai juga berjalan dengan baik dan alami, tumbuh agak lambat tapi pasti. Kader-kader baru PKS tumbuh di tengah-tengah masyarakat kecil (petani, nelayan, buruh) melalui pembinaan oleh struktur partai dan lembaga underbow Partai.

Kader-kader PKS juga tumbuh dengan baik di kalangan profesional (dokter dan tenaga kesehatan lainnya, guru dan dosen, advokat, pekerjaan sosial, artis/budayawan, dll).

Dan yang paling masif pertumbuhan kader PKS adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa walaupun dihadang dengan adanya issue radikalisme di sekolah dan kampus.

Mengenai adanya issue perpecahan di PKS ini sifatnya sementara, karena kader yang tidak puas terhadap kepemimpinan MSI ternyata jumlahnya relatif kecil, sehingga tidak mengganggu soliditas partai secara keseluruhan dalam menghadapi Pemilu 2019.

Issue perpecahan internal ini muncul dengan latar belakang sangat pribadi yang kemudian dicoba untuk diperluas ekskalasinya melalui liputan medsos, sehingga terkesan benar-benar terjadi perpecahan yang sangat luas di tengah-tengah kader.

Kaderisasi yang telah mapan di PKS yaitu melalui sarana-sarana pembinaan yg intensif dan berkelanjutan akan mampu menjaga soliditas kader secara keseluruhan. Doktrin “taat pada pimpinan resmi” hasil persidangan Majelis Syuro (MS) sepertinya telah terinternalisasi di kalangan Kader Inti di PKS, sehingga dapat mengeliminir perpecahan yang meluas di kalangan kader PKS.

 

A.T. Suwardi
Direktur Eksekutif National Election Institute (NEI)