“PKS yang Santuy”

PKS

Ngelmu.co – Tak terpilih jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tetap santuy. Bahkan calon yang di-usung dari partai tersebut, mengucapkan selamat kepada calon dari Partai Gerindra, yang terpilih. Setidaknya, lewat media sosial.

Asyik. Mengucapkan selamat bekerja kepada Riza Patria, yang bakal mendampingi Gubernur Anies Baswedan.

Tak ada kehebohan, tak ada kegaduhan. Sementara, tokoh PKS lain, bilang “Dalam bahasa agama, itu sudah takdir”.

Benar-benar santuy menghadapi ‘Pengkhianatan’ Gerindra ini.

Baca Juga: Ucapkan ‘Selamat Tinggal Gerindra’, Terima Kasih Atas Kepalsuannya untuk DKI 2

Kalau PKS saja santuy, kenapa banyak yang sewot?

Misalnya, ada yang bilang PKS terlalu lugu (polos) dalam berpolitik, ada yang bilang lobi politik PKS payah, atau kena PHP, bahkan PKS disebut tak pernah belajar dari sejarah.

Selebihnya, banyak yang kemudian secara spontan mentertawakan realitas politik yang terjadi di DKI ini.

Bermunculan komentar nyinyir atas calon dari PKS, yang akhirnya gagal jadi Wagub DKI.

Satu renungan kecil. Bagaimana kita melihat dengan sudut pandang berbeda, realitas politik demikian?

Kita tahu, politik bagi kader Tarbiyah, hanya salah satu jalur dakwah (perjuangan).

Selain berjuang di parlemen dan ekskutif lewat jalur partai (PKS), masih banyak jalan lain bagi kader-kader Tarbiyah berkiprah.

Misalnya lewat jalur organisasi massa, ikatan pendakwah (penceramah), LSM, media, komunitas pengusaha, bahkan komunitas penulis.

Dengan begitu, kekuasaan memang penting, tapi bukan tujuan. Kekuasaan bagi PKS adalah semacam sarana saja, agar dakwah (perjuangan) bisa semakin terbuka.

Hasil akhirnya, syiar berkembang, umat maju, baik di segala bidang kehidupan.

Mungkin ini terkesan ngeles atau berapologi atas kelemahan PKS. Semacam sebuah usaha untuk sekadar menghibur diri.

Tetapi sebagai orang ‘luar’, saya melihatnya demikian. Jika yang terpenting bagi PKS adalah terus melayani.

Dengan terus melakukan pelayanan kepada masyarakat (umat), tanpa diminta sekalipun, orang akan memilih PKS dengan sukarela.

Benarkah demikian?

Saya kasih contoh, ada sebuah perkampungan padat penduduk di belakang Senayan City, Jakarta Selatan.

Pada suatu ketika, perkampungan itu kebakaran. Habis semua, tak tersisa, rata dengan tanah.

Di situlah PKS hadir, memberikan pelayanan. Membantu segala hal yang diperlukan, termasuk membantu pembangunan perkampungan itu lagi.

Hasilnya, tanpa diminta, dengan pelayanan nyata itu, mayoritas penduduk memilih PKS. Sesederhana itu.

Jadi, saya kira, mungkin dalam politik elite, komunikasi PKS dinilai kurang lihai. Sering ‘di-kibulin’, tapi, komunikasi pelayanan di tingkat akar rumput PKS, jaya.

Itu sebabnya, masuk akal kalau suara terus meningkat. Wakil di parlemen selalu dapat, dan signifikan jumlahnya.

Terlepas dari itu, saya memang cenderung setuju saja, PKS santuy terhadap beragam realitas politik yang di-hadapi.

Tapi kalau boleh sedikit memberikan saran, kalau bisa, jangan lagi terlalu sopan.

Khususnya kepada partai lain yang terang-terangan melakukan pengkhianatan.

Walau dengan sesumbar mengatakan tak ada pengkhianatan, semua terjadi karena dinamika politik, ditambah bumbu bualan retorika lain.

PKS, saya kira, perlu lebih galak lagi. Membangun sebuah posisi tawar yang bisa menekuk lawan politik sampai tak berkutik, dan tidak main-main pada sebuah komitmen.

Bagaimana caranya?

Saya tidak tahu. Tapi intinya seperti itu. Begitulah PKS, tetaplah santuy dan terus berikan pelayanan yang terbaik untuk umat.

Oleh: Pengamat Media Sosial, Praktisi Komunikasi, dan CEO Kanet Indonesia—Yons Achmad