Ustaz Abdul Shomad, Alhamdulillah Anda Telah Mencerahkan Menghadapi Pilkada Serentak

  • Bagikan
pilkada serentak
Ibnu Aqil D. Ghani

Ngelmu.co – Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada serentak telah diujung mata. Tinggal hitungan hari menuju 27 Juni 2018, perhelatan pilkada serentak di sejumlah daerah di Indonesia akan digelar.

Dalam suatu perhelatan pemilihan seperti pilkada serentak ini, tentunya berbagai pihak akan berkompetisi sengit untuk dapat menjadi orang nomor satu di daerahnya masing-masing. Hal itu telah dibuktikan dengan gencarnya semua paslon dalam berkampanye.

Setelah kampanye, saatnya waktu tenang. Waktu untuk masyarakat membuka mata dan hatinya untuk menentukan pilihan pada pilkada serentak untuk masa depan mereka sendiri. Karena sesungguhnya pemimpin yang akan terpilih nanti merupakan pilihan masyarakat sebagian besar di wilayahnya masing-masing.

Maka, sangatlah layak menyimak tulisan satu ini agar proses berpikir dan menetapkan hati dalam memilih nanti bisa sesuai dengan hati nurani serta tidak bertentangan dengan agama. Pilihan apapun dari kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Termasuk golput merupakan pilihan yang sebaiknya sangat dihindari.

Pilihlah pemimpin yang mudhorotnya lebih sedikit. Pada pilkada serentak ini, pilihlah pemimpin yang ke depannya bisa adil, mengayomi, membela rakyatnya, dan mensejahterakan rakyatnya.

Baca juga: Ini Pesan Ustadz Abdul Somad Untuk Pilkada 27 Juni 2018 dan Pilpres 2019

Ustaz Shomad, Alhamdulillah Anda Telah Mencerahkan

Oleh Ibnu Aqil D. Ghani

“Menjelang Pilkada serentak, Pileg dan Pilpres suara umnat Islam itu manis, buktinya mereka datang ke Pesantren dan ke Masjid untuk meraup suara Ummat Islam. Anehnya mereka berkata, jangan jadikan agama sebagai alat politik, jangan berpolitik di masjid, pada hal merekalah yang melakukan politik di Masjid. Mereka datang ke madjid atau ke Pesantren memakai pakaian ustaz, pakai peci, sorban, gayanya lebih ustaz dari ustaz. Pada hal mereka bukan ustaz, hanya ustaz gadungan”. Kata Ust Abdul Shamad berapi-api di Masjid Raya Sumbar tadi pagi (Kamis, 21 Juni 2018).

Politik, katanya jangan dipisahkan dari ummat. Jika ummat dipisahkan dari politik maka yang terjadi adalah pembodohan. Akan sia-sia saja berdakwah, berdemo untuk amar makruf dan nahi mungkar kalau pemegang kekuasaan adalah mereka yang selama ini tak peduli dengan ajaran Allah dan RasulNya. Karena itu, para ulama atau tokoh umat Islam harus maju membela Islam melalui perjuangan politik.

Pilihlah calon pemimpin 2018 dan 2019 yang membela Islam, membela agama Allah. Karena itu, pergunakanlah sebaik-baiknya telinga, mata dan hati untuk mendapatkan pemimpin yang baik itu.

Karena di Indonesia memakai sistem demokrasi, dan pemimpin dipilih sekali lima tahun, maka salah memilih pemimpin akibatnya sangat dahsyat dan lama menanggungnya yaitu lima tahun pula.

Setelah itu, untuk mendapatkan pemimpin yang baik lakukan istikharoh politik. Tapi jangan diterima bantuan apapun dari caleg atau calon gubernur, calon walikota dan calon presiden sekalipun. Jika anda telah menerimanya, maka istikharoh anda sudah rusak dan tak akan dapat hidayah Allah.

Misalnya, seorang calon membagikan buat anda Jilbab harganya 10.000. Sedang jumlah jilbab 100.000 helai jilbab maka angkanya besar sekali yakni Rp 1 milyar, itu bsru satu macam bantuan. Karena itu, tahun pertama dia akan kuras uang negara untuk balik modal, bayar utangnya. Tahun kedua, dia ngumpulin uang untuk dirinya, tahun ketiga dan keempat cari uang untuk nyalon priode berikutnya, tahun kelima membagi-bagi uang untuk membeli suara anda. Nah,kalau begitu kapan berfikir untuk ummat?

Karena itu, anda diberi tangan yang berkuasa untuk memilih pemimpin yang baik, yang memperjuangkan Islam, maka pergunakan tangan anda itu untuk memilih pemimpin yang menegakkan Islam itu, jangan sampai salah.

Demikianlah, beberapa point yang disampaikan Ust Abdul Shamad dalam Tabligh Akbar bertema Menjaga Ukhuwah Di Tahun Politik yang tersimpan di memory saya. Semoga ada manfaatnya.

Padang, 21 Juni 2018
Wassalam
Ibnu Aqil D. Ghani

  • Bagikan
ngelmu.co