Viral Tiup Lilin dan Suap-suapan di Acara PDIP Bali, Ini Kata Koster dan Dokter

  • Bagikan
PDIP Bali Tiup Lilin Suap-suapan

Ngelmuco – Acara PDIP [Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan] yang berlangsung di Bali, Sabtu (23/1) lalu, menjadi viral karena dari video yang beredar luas di media sosial, setidaknya terekam Gubernur I Wayan Koster, hanya menggunakan satu sendok untuk menyuapi dua orang berbeda.

Peristiwa itu telanjur memanen kritik dari berbagai pihak, mengingat bersalaman saja, tidak dianjurkan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Merespons hal tersebut, Koster yang juga merupakan Ketua DPD PDIP Bali, pun buka suara.

“Karena kecepatan, satu sendok dipakai dua orang, setelah itu yang lain, sembilan orang, pakai sendok berbeda,” tuturnya, mengutip Detik, Senin (25/1).

Koster bahkan menegaskan, tidak ada pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 di acara tersebut.

“Tiup lilin dalam rangka HUT Partai dan ulang tahun Ketua Umum PDI-Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri,” ujarnya.

“Saya pastikan, tidak ada yang dilanggar, protokol kesehatan dilaksanakan dengan sangat tertib,” sambung Koster.

Sebelum acara, lanjutnya, para peserta juga telah mengikuti rapid test antigen sebelum acara.

“Acara dilaksanakan di aula kantor DPD PDI-Perjuangan, dengan jumlah peserta sekitar 25 orang,” jelas Koster.

“Menjaga jarak, memakai masker, dan telah mengikuti rapid tes antigen dengan hasil negatif,” imbuhnya.

“Hanya pada saat tiup lilin saja masker dibuka, sebelum dan sesudahnya, masker tetap dipakai,” lanjutnya lagi.

Dalam video yang beredar, nampak sekitar belasan orang berdiri di panggung acara, menggunakan masker dan udeng.

Sementara di atas meja, terdapat tumpeng dengan lilin yang kemudian ditiup oleh Koster dan dua orang lainnya.

Baca Juga: Respons PDIP Usai Ribka Tjiptaning Tolak Vaksin COVID-19

Pengurus Pusat PDPI [Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia], dr Erlang Samoedro, SpP(K), pun ikut berkomentar.

Ia menjelaskan, penularan COVID-19 yang dapat terjadi saat batuk, sama seperti risiko tiup lilin bersama.

“Sama saja, berisiko tinggi terinfeksi, sama seperti batuk ‘kan,” tegas Erlang, Senin (25/1).

Meskipun sekumpulan orang yang ada di acara tersebut sudah menjalani tes COVID-19 dengan hasil negatif, risiko penularan tetap ada.

“Iya, gimana risiko tertular COVID-19 dari asimtomatik, bisa saja terpapar saat dia enggak menunjukkan gejala,” jelas Erlang.

“Sudah dites, bukan berarti bebas Corona. Tesnya juga pakai tes apa dulu,” imbaunya.

Berkaca pula dari penjelasan professor of population and family health di Universitas Columbia, Patrick Kachur.

Ia menjelaskan, kegiatan seperti itu risikonya bisa lebih tinggi dari seseorang yang berbicara biasa.

Maka akan jauh lebih baik, jika menghindari hal-hal tersebut di masa pandemi COVID-19.

“Meniup lilin dapat mengeluarkan partikel virus, sama seperti bernapas, berbicara, bernyanyi, berteriak, batuk, dan bersin,” jelas Kachur.

“Dan risiko penularan COVID-19 menjadi tinggi, jika orang tersebut terinfeksi,” sambungnya.

Begitu pun dengan orang yang menggunakan alat makan bersama, dapat tertular dari virus yang bisa menempel di peralatan makan.

Berdasarkan studi [Organisasi Kesehatan Dunia] WHO, COVID-19 dapat bertahan di plastik dan baja tahan karat, hingga 72 jam.

Maka penting bagi siapa pun untuk selalu menjaga kebersihan pada alat makan, agar tidak tertular dari peralatan pun permukaan yang terkontaminasi virus Corona.

  • Bagikan
ngelmu.co