Air Mata Salah, Air Mata Umat

  • Bagikan

 

Mohamed Salah membetot publik sepakbola dunia tadi malam. Bukan karena mencetak gol dan membawa Liverpool juara Liga Champions, tapi tersebab air matanya yang tumpah membasahi rumput hijau Stadion NSC Olimpiyskiy, Ukraina.

Hanya sekitar 27 menit Salah di atas lapangan. Tercatat, durasi selama itu ada sembilan tembakan para pemain Liverpool ke arah gawang Real Madrid. Lalu, usai Salah keluar, sepanjang sisa babak pertama sama sekali tak ada shot on goal dari punggawa The Reds.

Liverpool limbung sepeninggal Salah yang akhirnya berujung kekalahan. Suporter fanatik Liverpool tak bisa menyembunyikan raut kesedihannya kala Salah dipastikan tak bisa melanjutkan permainan. Mereka merasa di ambang kekalahan dan terbukti.

Tak cuma fans Liverpool yang sedih. Puluhan juta penikmat sepakbola, apalagi yang beragama Islam juga kehilangan. Mereka terkejut. Tak menduga secepat itu Salah bermain.

“Gak seru gak ada Salah,” kata seorang rekan saat menyaksikan pertandingan di sebelah saya.

“Ramos Jahat. Kita tidak bisa menyaksikan sujud pertama di final Liga Champions,”tulis status seorang sahabat di akun faceboooknya.

Sergio Ramos pun banjir hujatan. Kapten Real Madrid itu dianggap sengaja mencederai Salah. Bahkan menyamakan aksinya dengan smack down sehingga bahu Salah mengalami dislokasi.

Salah memang terlanjur menjadi harapan umat Islam di penjuru dunia. Aksi gemilangnya bersama Liverpool di musim debutnya 2017/2018 membuat Salah dielu-elukan.

Pemain Mesir itu mencetak 44 gol di seluruh ajang kompetisi. Dia juga menjadi top skor Liga Inggris dengan torehan 33 gol dan mencetak rekor gol terbanyak sepanjang sejarah. Berbagai penghargaan diraihnya atas kegemilangannya itu.

Fans Liverpool bahkan membuat lagu atau chant khusus bagi Salah. Isinya menarik karena menyinggung soal Islam.

Mohamed Salah adalah karunia dari Allah
Dia datang dari Roma ke Liverpool
Dia selalu mencetak gol, itu hampir membosankan
Jadi jangan biarkan Mohamed pergi

Ada pula chant lainnya yang lebih panjang yang berisikan keinginan suporter Liverpool menjejaki keimanan Salah.

Mo Salah-lah-lah-lah, Mo Salah-lah-lah-lah.

Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Jika dia mencetak beberapa gol lagi, maka aku akan menjadi seorang muslim juga.

Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Duduk di Masjid, itulah tempat di mana aku ingin berada.

Masjid Sheikh Abdullah Quilliam terkena dampak dari prestasi Salah. Masjid yang terletak di 8- 10 Brougham Terrace, Liverpool, itu semakin banyak dikunjungi jemaah.

“Semakin banyak pemuda mengunjungi masjid ini dan datang salat Jumat, karena faktor Mo Salah berada di sini (Liverpool),”ungkap pengurus Masjid Sheikh Abdullah Quilliam, Dr Abdul Hamid.

Salah pun kadung dianggap sebagai duta umat yang pas di saat Islamophobia terus terjadi di Inggris dan belahan dunia lainnya. Aksinya di lapangan dan selebrasi Salah yang kerap bersujud usai mencetak gol dianggap dakwah yang efektif untuk menegaskan bahwa Islam bukan agama kekerasan dan identik dengan terorisme.

Banyak orang berkata kekalahan Liverpool dan cederanya Salah jangan diratapi berlebihan oleh umat Islam. Sebab, di pihak Real Madrid juga ada Zinedine Zidane dan Karim Benzema yang muslim. Mereka juga layak jadi duta umat Islam di kancah sepakbola.

Tapi mengapa justru Salah yang membetot perhatian umat Islam? Pertama, karena Salah asli dari Tanah Arab yakni Mesir. Berbeda dengan Zidane dan Benzema yang keturunan Aljazair dan berwarga negara Prancis.

Kedua, karena Salah selalu sujud syukur usai mencetak gol. Hal yang rasanya hampit tidak pernah dilakukan Zidane saat masih jadi pemain dan juga Benzema.

Ketiga, sikap dan perilaku Salah yang religius. Foto-fotonya saat membaca Al Quran viral di media sosial. Istrinya pun berhijab.

Keempat, karena Salah hadir ketika Islam begitu disudutkan dengan isu terorisme. Dulu, saat Zidane gemilang, isu ini masih belum massif. Belakangan, aksi terorisme kerap dilekatkan kepada umat. Islamophobia pun merebak dimana-mana.

Tak mengherankan jika Salah dijadikan ikon umat Islam. Namanya tak hanya wangi di Mesir, tapi juga di negeri-negeri muslim lainnya termasuk Indonesia. Karena itu, ketika Salah begitu sedih meninggalkan lapangan, umat juga mengalami kesedihan yang serupa. Air mata Salah juga air mata umat.

 

Erwyn Kurniawan

  • Bagikan