Cak Nun Memandang Gus Sholah Sebagai Mujahid yang Rasional dan Jernih

  • Bagikan
Mujahid yang Rasional dan Jernih

Ngelmu.co – Turut berduka atas kepergian KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), sastrawan dan budayawan, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), memandang almarhum sebagai mujahid yang rasional dan jernih. Sosok yang berjuang dengan akal pikiran.

Mujahid yang Rasional dan Jernih

“Beliau memikirkan negara dan bangsa. Beliau itu seorang mujahid yang berjuang secara akal pikiran, dan alhamdulillah, beliau sudah mempersiapkan buat generasi di Pesantren Tebuireng,” kata Cak Nun, di rumah duka, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Senin (3/2) dini hari.

“Beliau lebih rasional dan lebih punya pilihan yang jernih,” imbuhnya, seperti dilansir Kumparan.

Pemikiran rasional itu, kata Cak Nun, ditunjukkan oleh Gus Sholah pada Pilpres 2019 lalu.

Pasalnya menurut Cak Nun, pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu, cenderung berbeda dengan ulama-ulama lainnya.

Cak Nun menilai, insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, sebagai seorang ulama yang modern.

“Jadi beliau ini belajarnya modern. Sehingga Gus Sholah berusaha merasionalkan semuanya,” pungkas Cak Nun.

Baca Juga: Gus A’am: 3 Tugas dari Gus Sholah, Amanah yang Perlu Diperjuangkan

Gus Sholah tutup usia di umur 77 tahun, setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita, selama dua pekan, karena gangguan ritme jantung.

Adik kandung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga sempat menjalani operasi pemasangan kateter di katup jantung.

Sempat membaik, kondisi Gus Sholah menurun, pada Jumat (31/1), hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir, Ahad (2/2) malam, sekitar pukul 20.55 WIB.

Ada satu pernyataannya yang begitu penuh makna, yakni terkait dirinya yang enggan terlibat dalam politik uang.

“Jarak antara kamar tidur saya dengan tempat tidur saya yang akan datang di makam pesantren Tebuireng itu, hanya berjarak 40 meter. Maka saya tidak akan pernah melakukan politik uang,” tegas Gus Sholah kala itu.

  • Bagikan