Kenapa Harus Pusing dengan Corona

Jawaban untuk Pertanyaan, “Kenapa Harus Pusing dengan Corona”

Diposting pada 330 views

Ngelmu.co – Meski sudah banyak yang peduli dan ‘menjaga’ diri sendiri pun orang-orang terkasih dari bahaya pandemi virus Corona (COVID-19), tak bisa dipungkiri jika masih ada pula yang ‘abai’. Sebagian karena kurang memahami dengan benar, tapi ada pula yang menyepelekan wabah ini.

Kenapa Harus Pusing dengan Corona?

Syukurnya, semakin banyak yang bersikap tak peduli, semakin banyak pula orang baik yang tak lelah menjelaskan panjang lebar. Salah satunya seorang epidemiologist dari Indonesia, yang kini menetap di Inggris.

Melalui jurnal pribadinya di dewinaisyah.wordpress.com, ia memberikan jawaban untuk ‘mereka’ yang selama ini bertanya, ‘Kenapa harus pusing dengan Corona?’

Tulisan dengan judul yang sama itu, Dewi rilis pada 20 Maret 2020 lalu, sebagaimana dikutip Ngelmu, Senin (23/3).

Lantas, Kenapa harus pusing dengan Corona? Kenapa tak sedikit orang yang heboh dibuatnya? Memang apa dampaknya untuk Indonesia?

“Tulisan ini saya buat dengan harapan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Corona. Mencoba memberikan pemahaman akan potensi dan bahayanya. Di masa-masa inilah kita perlu saling bahu-membahu dan saling menjaga,” ujar Dewi.

“Karena sikap kita di hari ini, akan menentukan keadaan di esok hari. Jika kita abai dengan kondisi saat ini, jangan salahkan jika puluhan ribu orang (bahkan mungkin keluarga dan saudara kita) akan menerima dampaknya tidak lama lagi,” sambungnya.

Jumlah Kasus Terus Bertambah

Jumlah kasus COVID-19, di dunia masih terus bertambah. Setidaknya, berdasarkan data yang terpantau di gisanddata.maps.arcgis.com, hingga Senin (23/3) sore, sudah tercatat 341,722 kasus positif.

Di mana 98,869 di antaranya berhasil disembuhkan. Namun, 14,765 lainnya meninggal dunia.

Indonesia? Melaporkan 579 kasus, dengan 49 kematian, dan 30 jiwa yang berhasil disembuhkan.

Kembali ke pertanyaan di awal, kenapa kita harus pusing dengan virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Hubei, Cina?

Pasalnya, dalam waktu dua bulan saja, virus ini sudah mampu menyebar ke 152 negara. Maka bisa dibayangkan, jika tak segera dituntaskan, angka itu akan terus bertambah.

Sebab, meski karakteristik virus ini memiliki patogenitas yang rendah—tingkat keparahan penyakit yang rendah—tetapi sangat mudah ditularkan.

“Menular dari orang yang satu ke orang yang lain, menginfeksi tubuh melalui permukaan mukosa wajah (mata, hidung, mulut). Sesederhana kita menghirup droplet orang yang bersin, batuk, atau kontak langsung dengan orang terinfeksi saat berjabat tangan, atau menyentuh barang di mana virus itu menempel, lalu kita mengusap bagian wajah kita yang dapat menjadi tempat masuknya virus ke dalam tubuh,” kata Dewi.

“Contoh sederhana kemungkinan penularan melalui barang adalah saat kita menyentuh tombol lift, pegangan tangga, gagang pintu, hand grip pada kereta, dan sebagainya, di mana ada banyak orang yang juga menyentuh barang tersebut, yang kita tidak tahu, apakah orang lain itu sehat atau telah terinfeksi COVID-19,” sambungnya.

Baca Juga: “Siapa yang Diam di Rumah saat Terjadi Wabah, Maka Dia Mendapat Pahala Seperti Orang yang Mati Syahid”

Belum lagi catatan tambahan, soal satu orang yang terinfeksi Corona, rata-rata dapat menularkan virus kepada 2-4 orang.

Maka sekalipun virus ini dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), jika pengidap memiliki daya tahan tubuh yang kuat, bukan berarti kita bisa mengabaikannya.

Pikirkan angka kematiannya yang berkisar 3.4 persen. Sederhananya, 3.4 persen dari 1 juta jiwa, sudah memakan 34 ribu orang.

“Kemungkinan besar 34 ribu itu adalah golongan rentan,” kata Dewi.

Walaupun angka kasus positif Corona di Indonesia di bawah negara lain, angka kematian di Tanah Air justru menjadi yang tertinggi, yakni 8.1 persen, jika dihitung per 19 Maret 2020, dengan rincian 309 kasus, 25 kematian, 15 kesembuhan.

“Lihat kondisi sekarang, hanya terdapat 37 persen kasus di Cina, sedangkan 63 persen kasus lainnya, tersebar di seluruh dunia,” tegas Dewi.

Pentingnya Social Distancing

Jadi tolong, jangan abaikan imbauan pemerintah, baik itu belajar, bekerja, beribadah di rumah, hingga menerapkan metode social distancing.

Jaga jarak sosial dan interaksi dengan tidak makan atau nongkrong di tempat-tempat umum seperti restoran, kafe.

Tidak berkumpul di keramaian seperti nonton konser, bioskop, dan menghadiri kajian-kajian umum. Upayakan juga untuk menghindari penggunaan transportasi publik.

Ini bukan waktunya untuk jalan-jalan, belanja, apalagi pulang kampung. Jangan bawa Corona ke tempat orang-orang terkasih kita.

Jika dapat bekerja dari rumah, lebih baik menerapkan work from home (WfH).

Jaga pula jarak dengan orang lain sekitar 1 meter (saat mengantre, duduk di bus atau kereta. Begitupun soal anak, untuk sementara waktu, sebaiknya bermain sendiri di rumah.

Tak terkecuali perihal ibadah (sebagaimana fatwa MUI di sini), lakukan di rumah, demi berakhirnya Corona lebih cepat, dan dunia bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Demi memutus rantai penularan COVID-19, social distancing ini penting.

“Cara paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan. Bentuk kontribusi terkecil sebagai bagian dari masyarakat dan kelompok sosial,” jelas Dewi.

Selain semua yang sudah dibahas ringkas di atas, apalagi yang perlu dan harus kita lakukan? Baca selengkapnya tulisan Dewi Nur Aisyah, di sini: Kenapa Harus Pusing dengan Corona?