Pleidoi

Setnov Baca Pleidoi: Semoga Bisa Mengurangi Cacian kepada Saya

Ngelmu.co – Terdakwa kasus e-KTP, Setya Novanto, membacakan pleidoi atau pembelaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jumat (13/4). Sidang dimulai sekitar pukul 09.45 WIB di Pengadilan Tipikor Jakarta. Setnov mengenakan batik lengan panjang berwarna merah. Pledoi diawali dengan permintaan maaf dari Setnov.

Selain meminta maaf kepada hakim dan jaksa, Setya Novanto menceritakan tentang perjalanan hidupnya dari orang biasa hingga sampai pada jabatan tertinggi yang pernah diraihnya. Setya Novanto mengungkapkan bahwa dirinya tidak kuasa melihat dan mendengar caci maki yang datang begitu deras kepadanya sejak dirinya menjadi tersangka hingga duduk di kursi pesakitan. Setnov berharap, dengan perjuangan dan prestasi yang diraihnya bisa mengurangi makian yang ditujukan kepadanya.

Baca juga: Duh Papa! Lengkap, Setnov Dituntut 16 Tahun dan Dicabut Hak Politik

“Pekerjaan kasar telah saya lakukan, pasca SMA, saya di Surabaya bertahan hidup untuk kuliah. Berbagai macam pekerjaan saya lakukan, berjualan beras dan madu di pasar, jadi model, sales mobil,” cerita Setnov.

Usai di Surabaya, Setya Novanto kemudian berpindah ke Jakarta. Di Ibu Kota, ia mengatakan awalnya ditolong oleh keluarga mantan Menpora Hayono Isman.

“Keluarga beliau jadi saksi bagaimana saya menggantungkan hidup, saya rela jadi pembantu, nyuci, ngepel, jadi sopir. Dan bangun pagi untuk antar sekolah anak-anaknya, supaya bisa lanjutkan kuliah saya,” kata Setya Novanto.

Dalam perjalanan itu, Setya Novanto kemudian bertemu dengan beberapa tokoh Golkar, seperti Akbar Tandjung hingga Aburizal Bakrie. Ia kemudian memulai karier politiknya melalui Golkar.

“Saya menceritakan semua ini karena terpaksa, bukan untuk pamrih, apalagi membanggakan diri. Saya tidak ingin cacian dan celaan yang kejam terus bertubi-tubi dialamatkan pada saya. Saya hanya ingin masyarakat melihat secercah cahaya dalam gelapnya pemberitaan dalam diri saya semala ini hingga sudi kiranya mengurangi celaan dan cacian yang kelam itu,” kata Setya Novanto, seperti yang dikutip oleh Viva.

Saat menyampaikan harapannya agar dirinya tidak terus dicaci ini, tangan Setnov bergetar. Kata-katanya juga mendadak terbata-bata. Lembar pleidoi yang dia pegang terlihat sangat berguncang.

Setya Novanto mengatakan bahwa cita-citanya yang ingin membangun Indonesia sudah terwujud. Setnov juga mengatakan bahwa selama 20 tahun dia berkiprah di dunia politik bersama Golkar hingga menjadi Ketua DPR. Namun, hal itu tidak lebih penting dari kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat.

“Apalah arti sebuah jabatan yang paling penting bagi saya adalah amanah dan kepercayaan banyak orang,” tutur Setya Novanto.

Setnov juga meminta maaf kepada hakim dan jaksa di awal pleidoi in dan berharap bahwa segala kebaikan yang pernah dilakukan tidak terhapus karena kasus ini.

“Semoga ikhlas, perjuangan saya ada pahala dan kebaikan, semoga Allah tidak menghapusnya,” ucap Setnov.

Setnov dituntut 16 tahun hukuman penjara karena dinilai berperan penting dalam kasus korupsi proyek e-KTP. Selain itu, Setnov juga dituntut membayarkan denda Rp 1 miliar.

JPU juga menuntut hukuman tambahan yakni, Setnov harus membayarkan uang pengganti kepada negara USD 7,3 juta yang dikurangi oleh uang yang sudah dikembalikan sebesar Rp 5 miliar. Hak politik Setnov juga dicabut selama lima tahun.