DKI Liverpool

Wagub DKI, Liverpool, dan Demokrasi yang Berjarak

Diposting pada 153 views

Ngelmu.co – Ada kesamaan antara warga DKI Jakarta dan pendukung Liverpool. Keduanya sedang menanti-nanti sesuatu yang diidamkan, juga memiliki kesabaran yang hampir tanpa batas.

Antara DKI, Liverpool, dan Demokrasi yang Berjarak

Tak percaya? Mari kita lihat Liverpool terlebih dulu. Sambil saya memohon maaf kepada para pembaca yang jadi pendukung MU, Manchester City, hingga Arsenal.

Ini adalah hari-hari membahagiakan bagi fans The Reds, julukan Liverpool. Musim 2019-2020 berjalan sempurna sejauh ini. Bahkan terlalu sempurna.

Sudah 25 kali bertanding, Liverpool menang 24 kali, seri satu kali, dan tidak pernah kalah. Selisih poinnya pun 22, dari peringkat kedua, Manchester City. Wow!

Banyak pihak menyatakan, Liverpool sudah pasti juara. Tinggal menunggu waktu. Diprediksi, Mohamed Salah dan kawan-kawan akan juara, paling cepat di awal Maret. Rekor tercepat dalam sejarah Liga Inggris.

Jika juara, maka ini adalah kali pertama Liverpool melakukannya di era Premiere League.

Terakhir mereka jadi kampiun, pada 1989-1990, saat masih menggunakan format lama.

Ada rentang waktu 30 tahun. Berjarak tiga dekade. Sangat lama. Bahkan teramat lama bagi ukuran klub sehebat Liverpool, yang merajai Inggris dan Eropa, pada era 1970-1980-an.

Tapi pendukung Liverpool begitu sabar. Tetap setia mendukung tim kesayangannya.

‘You are Never Walk Alone’, terus mereka kumandangkan, meski Liverpool terpuruk, dan jadi bahan ejekan fans kesebelasan lain.

Buah kesabaran mereka kini tinggal menanti manisnya. Tropi Liga Inggris hanya menunggu waktu, di-angkat oleh Jordan Henderson dkk.

Plus berbagai rekor yang sudah dan akan mereka pecahkan. Jurgen Klopp dianggap sebagai faktor penting di balik kedigdayaan Liverpool saat ini.

Klopp tidak seperti pelatih kebanyakan. Anti mainstream. Tengok saja penampilannya di tepi lapangan.

Hampir atau bahkan tak pernah berjas dan berdasi. Topi pet dan jaket tebal yang selalu menemaninya.

Gayanya pun ekspresif. Sangat eskresif pada momen-momen tertentu. Seperti ketika merayakan gol telat Divock Origi ke gawang Everton, pada musim 2018-2019.

Dia langsung berlari ke lapangan, dan memeluk para pemainnya.

Baca Juga: Cawagub DKI Nurmansjah Lubis Berusaha Menangi Pilwagub di DPRD dengan ‘Duit’

Di luar soal itu, yang paling penting adalah skema permainan yang Klopp bawa dari Jerman. Gegenpressing namanya, atau sepakbola ‘heavy metal’.

Menghentak-hentak. Mengejutkan lawan, dan membuatnya tak bernapas.

Bola akan dikejar, di manapun berada, oleh anak asuhan Klopp. Bahkan ketika Si Kulit Bundar masih di kotak penalti lawan.

Hampir 2 Tahun Tanpa Wagub

Setali tiga uang dengan pendukung Liverpool. Begitu pula warga DKI Jakarta. Sudah hampir dua tahun tak memiliki wakil gubernur, tapi mereka bersabar, dan terus bersabar.

Mereka tetap menanti hadirnya pendamping Anies Baswedan. Meski bisa jadi, mereka muak dengan pola tingkah elite politik di ibu kota.

Sebab, masalah yang sebenarnya mudah, tapi dibuat rumit. Berkelok-kelok.

Publik Jakarta kadung paham, posisi DKI-2 seharusnya milik PKS, pasca Sandiaga Uno mundur, karena maju dalam Pilpres 2019.

Prabowo sendiri yang menjanjikan itu, sebagai komitmen politik kepada PKS.

Tapi manuver Elite, membuat proses pemilihan tak kunjung usai. Hingga Pilpres selesai, Prabowo jadi menteri, dan terpilihnya anggota DPRD DKI yang baru. Nir etika.

Pekan-pekan ini, Wagub DKI akan dipilih dari dua nama: Nurmansjah Lubis dari PKS, dan Ahmad Riza Patria dari Gerindra. Peluangnya boleh dikatakan 50-50.

Baca Juga: Dulu Sandi Sebut Wagub DKI Jatah PKS, Sekarang Ajak Menangkan Kader Gerindra

Namun, potensi tidak terpilihnya jagoan dari PKS terbuka lebar. Jika ini terjadi, maka buah kesabaran warga DKI tak lagi manis.

Sebab, ini membuat sosok yang terpilih jadi Wagub, semakin membuat jarak dari warga Jakarta.

Mengapa? Karena ketika Pilkada DKI 2017, ada semangat perlawanan dari publik yang mengusung Anies-Sandi.

Mereka ingin melawan hegemoni kekuasaan yang berkelindan dengan pemodal besar dan media arus utama.

Kalau yang dipilih oleh DPRD DKI bukan dari PKS, maka sosok tersebut sudah tak lagi mewakili ruh perjuangan warga saat Pilkada.

Sebab, Gerindra saat ini tak lagi oposisi. Sudah masuk dalam pemerintahan.

Akankah ini terjadi? Kalau ya, sangat disayangkan. Ironis, dan nasib warga DKI dengan pendukung Liverpool, menjadi berbeda di ujung kesabarannya. Demokrasi, pada akhirnya kian berjarak dengan rakyat.

Semoga tidak terjadi.

 

Erwyn Kurniawan