Fakta dan Berbagai Peninggalan Sunan Muria

Fakta Sunan Muria

Ngelmu.co – Sunan Muria merupakan satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14.

Nama kesembilan wali ini dikenal sesuai dengan nama daerah tempat penyebaran agamanya.

Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.

Sunan Muria adalah salah satu anak dari Sunan Kalijaga dan putri dari Syekh Maulana Ishaq, Dewi Saroh.

Ia dikenal dengan cara berdakwahnya yang cukup unik, yakni menggunakan metode kursus gratis.

Tidak jauh dari ayahnya, Sunan Muria juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Meski tidak diketahui secara pasti, kapan Sunan Muria, lahir, tetapi dalam sejarah, tercatat ia wafat pada 1551.

Ia yang pandai berdakwah, memilih untuk mendatangi daerah-daerah pelosok daripada perkotaan.

Mengenal Sunan Muria

Mengapa Raden Umar Said, lebih dikenal dengan nama Sunan Muria?

Sebab, ia merupakan salah satu wali sanga yang tinggal di wilayah Gunung Muria.

Nama Muria ini diambil dari tempat tinggal terakhirnya, yakni di lereng Gunung Muria.

Tepatnya, 18 kilometer ke utara dari Kota Kudus.

Selain memiliki akhlak yang saleh, ia juga dikenal mempunyai kesaktian dalam pertarungan.

Ahli sejarah–A.M Noertjahjo dan Solihin Salam–yakin, Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, memiliki tiga anak:

  1. Sunan Muria,
  2. Dewi Rukayah, dan
  3. Dewi Sofiah.

Namun, ada versi lain yang mengungkapkan bahwa Sunan Muria merupakan putra dari Raden Usman Haji (Sunan Ngudung).

Karya R. Darmowasito, Pustoko Darah Agung, berisikan sejarah dan juga silsilah wali serta raja-raja Jawa.

Mengungkapkan bahwa Sunan Muria adalah putra dari Raden Usman Haji.

Sejauh ini, karya Usman Hasyim yang berjudul ‘Sunan Muria: Antara Fakta dan Legenda’ (1983), bisa digolongkan penelitian awal.

Penelitian awal yang mencoba untuk menelusuri silsilah Sunan Muria, secara lebih ilmiah.

Ia juga berupaya untuk membedakan cerita rakyat dengan fakta. Misalnya, tentang Sunan Muria sebagai keturunan Tionghoa.

Umar mencoba untuk mengumpulkan sejumlah pendapat ahli sejarah.

Ternyata, keabsahan naskah kuno tadi masih meragukan, karena sudah bercampur dengan dongeng rakyat.

Meski demikian, Umar mengaku, kadang terpaksa mengandalkan penafsirannya dalam menelusuri jejak Sunan Muria.

Hasilnya, Umar cenderung lebih percaya dengan versi bahwa Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga.

Cara Berdakwah Sunan Muria

Namun, dari berbagai macam versi, tidak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria, dalam berdakwah.

Gayanya moderat, mengikuti Sunan Kalijaga; menyusup melalui berbagai tradisi kebudayaan Jawa.

Misalnya, adat kenduri yang dilakukan di hari-hari tertentu setelah kematian seseorang.

Seperti nelung dino hingga nyewu yang tidak diharamkannya.

Namun, tradisi yang berbau klenik, seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji, diganti dengan berdoa ataupun selawat.

Selain itu, Sunan Muria juga berdakwah melalui berbagai macam kesenian Jawa.

Misalnya, menciptakan macapat, lagu Jawa, lagu sinom, dan juga kinanti yang dipercaya sebagai karya Sunan Muria, dan masih lestari hingga kini.

Melalui tembang-tembang tersebut, ia mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam.

Oleh karena itu, Sunan Muria lebih senang untuk berdakwah pada rakyat jelata daripada kaum bangsawan.

Itulah mengapa daerah dakwahnya cukup luas, dan tersebar ke berbagai wilayah.

Mulai dari lereng-lereng Gunung Muria, Kudus, pelosok Pati, Juana, hingga ke pesisir utara.

Cara dakwah itulah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli.

Artinya, dengan ‘menghanyutkan diri’ ke masyarakat.

Sasaran dakwah Sunan Muria adalah para nelayan, pedagang, pelaut, dan juga rakyat jelata lain.

Ia merupakan satu-satunya wali yang tetap mempertahankan gamelan dan juga wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam.

Berbagai keterampilan–bercocok tanam, berdagang, dan juga memalut merupakan kesukaannya.

Baca juga:

Sunan Muria dijadikan sebagai penengah dalam konflik internal yang ada di Kesultanan Demak (1518-1530).

Ia juga dikenal sebagai seseorang yang dapat memecahkan berbagai macam masalah, betapa pun rumitnya.

Solusi pemecahannya juga selalu bisa diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Sunan Muria berdakwah dari Tayu, Jepara, Juana, sampai sekitar Kudus dan Pati.

Salah satu hasil dari dakwahnya melalui media seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Tempat dakwahnya sendiri ada di sekitar Gunung Muria, kemudian diperluas hingga ke Tayu, Kudus, Juana, dan lereng Gunung Muria.

Ia dikenal dengan sebutan Sunan Muria, karena memang tinggal di Gunung Muria.

Sampai sekarang, kompleks makam Sunan Muria yang berada di Desa Colo, tidak pernah sepi dari peziarah.

Dalam sehari, tempat tersebut bisa dikunjungi oleh 15.000 peziarah yang datang dari berbagai daerah.

Fakta tentang Sunan Muria

Berikut ini adalah beberapa fakta menarik tentang Sunan Muria, semasa hidupnya:

Senang Tinggal di Pedalaman

Meski namanya sangat dikenal dan menjadi sosok yang sangat berpengaruh di Kesultanan Demak, tetapi Sunan Muria, lebih suka tinggal di daerah terpencil dan jauh dari kehidupan pusat kota.

Ia juga memutuskan untuk tinggal dan menetap di Gunung Muria.

Gunung Muria ini merupakan salah satu gunung yang berada di pantai utara Jawa Tengah; sebelah timur laut Kota Semarang.

Gunung Muria masuk ke tiga wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan juga Kabupaten Pati.

Konon, salah satu alasan kenapa Sunan Muria, lebih memilih untuk berdakwa di pedalaman adalah karena ia merasa bahwa masyarakat yang ada di pelosok desa, tidak mendapat pengetahuan mengenai ajaran Islam.

Belum lagi, kondisi ekonomi masyarakat di sana yang tergolong kurang mampu.

Itu mengapa, Sunan Muria lebih ingin berdakwah sekaligus memajukan kehidupan ekonomi yang ada di sana.

Walaupun pusat berdakwahnya adalah di Gunung Muria, tetapi pengaruh Sunan Muria, sangat luas.

Bahkan, dakwahnya bisa mencapai daerah Tayu, Jepara, Juwana, dan juga sekitar Kudus.

Memodifikasi Tradisi Budaya

Saat itu, masyarakat Jawa, mempunyai tradisi budaya yang cukup kental, hingga membuat ajaran Islam, sulit diterima.

Itu mengapa, Sunan Muria yang juga mempunyai toleransi tinggi, memodifikasi tradisi lama Jawa Kuno dengan ajaran Islam.

Jadi, dapat dikatakan jika Sunan Muria, tidak berdakwah secara hitam putih.

Ia melakukan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam. Salah satu strateginya adalah dengan memodifikasi tradisi sesajen.

Masyarakat Jawa yang pada waktu itu kebanyakan menganut agama Hindu, Buddha, dan juga animisme, diajarkan untuk tidak lagi mempersembahkan makanan kepada roh para leluhurnya.

Namun, membagikan makanan kepada tetangga yang ada di sekitar mereka.

Maka jika ada orang yang punya hajat, mereka dapat mengumpulkan tetangga, dan mendoakan para leluhur bersama dengan cara Islam.

Pada saat itu, masyarakat setempat menamainya dengan tradisi kenduri.

Tradisi tersebut sekarang lebih dikenal dengan istilah kirim doa yang dilakukan sebelum bulan Ramadan, sebelum pernikahan, ataupun sebelum melakukan acara besar lainnya.

Tujuannya masih sama, mendoakan para leluhur atau sanak saudara yang telah meninggal.

Namun, tidak menyajikan sesajen, melainkan mengirimkan doa dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga selawat.

Kursus Keterampilan Gratis

Sunan Muria juga memilih metode berdakwah dengan memberikan kursus gratis kepada masyarakat setempat.

Sebab, masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman, mempunyai pengetahuan dan juga keterampilan yang kurang.

Maka Sunan Muria, kemudian menyediakan kursus keterampilan yang khusus diselenggarakan untuk para petani, pedagang, pelaut, dan juga nelayan.

Di kursus itulah, nantinya masyarakat akan diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara bercocok tanam, berdagang, menangkap ikan, membuat perahu, dan lainnya.

Setelah mengajarkan kursus secara gratis mengenai keterampilan tersebut, Sunan Muria kemudian akan mengajarkan ajaran Islam kepada mereka.

Dengan membangun kepercayaan dari masyarakat, Sunan Muria dapat lebih mudah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di sana.

Bukan cuma masyarakat yang tinggal di Gunung Muria dan sekitarnya.

Namun, masyarakat dari luar kota hingga luar Pulau Jawa juga datang menemui Sunan Muria untuk mendapat kursus gratis tersebut.

Itulah yang kemudian membuat Sunan Muria, dikenal oleh masyarakat dari luar Jawa Tengah.

Berdakwah dengan Kesenian

Bentuk perjuangan dari Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran agama Islam adalah dengan berdakwah dan mengombinasikannya dengan kesenian.

Tidak berbeda jauh dengan sang ayah–sekaligus gurunya–yakni Sunan Kalijaga.

Sunan Muria juga mempunyai kemampuan untuk mendalang.

Salah satu kisah pewayangan yang kerap dilakukan oleh Sunan Muria adalah Topo Ngeli.

Di dalam kisah, Topo Ngeli mempunyai tokoh utama yang bernama Dewa Ruci.

Dewa Ruci merupakan empu dari Kerajaan Majapahit yang dikisahkan berbaur dengan masyarakat setempat; terlebih rakyat jelata.

Dengan berbaur bersama dengan rakyat jelata, Dewa Ruci kemudian menjalin hubungan kekerabatan, dan meniadakan status sosial.

Sebenarnya, Sunan Muria juga sering menggelar pertunjukan wayang hasil dari gubahan ayahnya.

Seperti Dewi Ruci, Semar Ambarang, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, dan masih banyak lagi.

Saat mendalang, ia akan memasukkan unsur-unsur Islami ke pertunjukan wayang tersebut.

Dengan demikian, masyarakat yang menonton pertunjukan dapat memperoleh pelajaran mengenai agama Islam.

Meninggalnya Sunan Muria

Belum ditemukan informasi yang terpercaya, mengenai kapan meninggalnya Sunan Muria.

Namun, beberapa data menyebutkan bahwa Sunan Muria, meninggal dunia pada tahun 1560 M.

Ia dimakamkan di Desa Celo, Kecamatan Dawe, Kudus.

Saat ini, tempat pemakamannya itu terletak di puncak Gunung Muria.

Pengunjung yang ingin ke pemakaman tersebut, harus mendaki ratusan anak tangga untuk bisa sampai ke kompleks makam.

Peninggalan Sunan Muria

Sebagai salah satu sosok yang sangat berpengaruh, Sunan Muria, mempunyai begitu banyak peninggalan. Berikut di antaranya:

Masjid

Masjid ini terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut.

Di dalam masjid ini terdapat beberapa benda yang pernah digunakan oleh Sunan Muria, semasa hidupnya.

Pengunjung yang ingin ke masjid ini harus berjalan kaki sejauh 3 km.

Masjid ini sudah mengalami perubahan berkali-kali, tetapi beberapa bagiannya masih dipertahankan hingga saat ini.

Salah satu bagian yang dipertahankan adalah tempat imam.

Sebab, posisinya yang mempunyai makna bahwa umat Islam, harus mementingkan kepentingan akhirat dibandingkan urusan dunia.

Susunan bangunan juga masih sama seperti kondisi asli masjid.

Adapun benda lain yang masih dipertahankan yaitu beduk yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran naga dan ayam jantan.

Situs Air Gentong Keramat

Situs air gentong ini berada di dekat kompleks pemakaman Sunan Muria.

Biasanya, situs ini dikunjungi saat para pengunjung sudah selesai berziarah.

Air dari situs ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit aneh yang secara medis tidak dapat disembuhkan.

Parijoto

Parijoto adalah buah yang mempunyai ukuran sebesar kacang tanah.

Berwarna merah muda saat masih mentah, dan akan berwarna hitam jika sudah matang, serta mempunyai rasa yang asam.

Buah ini mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, dan cocok untuk ibu hamil.

Selain itu, buah ini juga dikatakan sebagai salah satu warisan Sunan Muria.

Ibu yang sedang mengandung kerap mencari parijoto, karena dipercaya bisa memberikan kebaikan untuk bayi yang masih ada di kandungan.

Pakis Haji

Pakis Haji merupakan tumbuhan yang dipercaya berasal dari kesaktian Sunan Muria.

Secara umum, tumbuhan yang satu ini digunakan untuk mengusir tikus.

Saat sedang mengunjungi daerah makam, para pengunjung bisa melihat tanaman pakis haji yang dijual di sana.

Pakis haji mempunyai motif batik jajar genjang yang berwarna cokelat.

Namun, bagian dasarnya berwarna putih tulang, agak kecokelatan.

Jika digambarkan, tumbuhan ini sekilas mirip dengan ular piton.

Masyarakat percaya bahwa pakis haji dapat menyelamatkan sawah yang terancam gagal panen, karena wabah tikus.

Pada zaman dahulu, tikus-tikus memakan padi yang ada di sawah, kemudian para petani mengadu kepada Sunan Muria.

Lalu, Sunan Muria memberikan ide untuk menggunakan pakis haji sebagai cara melawan hama tikus tersebut.

Baca juga:

Demikian penjelasan Ngelmu mengenai sejarah Sunan Muria, dan beberapa fakta menarik tentangnya.

Semoga bermanfaat, ya!