Kemampuan Sebelum Nasab Keturunan

Diposting pada 42 views

Oleh Ustadz Aunur Rafiq

Ngelmu.co – Di salah satu pasar New York ada seorang penjual balon yang berfikir untuk menarik perhatian para pembeli. Ia menemukan ide dengan cara melepas banyak balon di udara untuk menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Ia mengambil balon putih dan mengisinya dengan gas kemudian melepaskannya. Setelah itu ia mulai mengisi balon merah, biru dan kuning.

Melihat pemandangan yang menarik tersebut, anak-anak mulai berkumpul di sekitar penjual balon untuk membeli balon. Tiba-tiba datang seorang anak berkulit hitam sambil mengamati balon-balon tersebut. Tidak lama kemudian anak kecil ini menarik ujung jaket penjual balon sambil melihat ke arahnya dan bertanya: Bang, kalau abang melepas balon berwarna hitam bisa terbang ke atas tidak?

Penjual balon pun mengangguk dengan lembut sambil menatap ke arah kedua mata anak itu dan berkata: Pasti nak, balon itu akan terbang. Karena yang membuatnya bisa terbang itu bukan warna tetapi apa yang ada di dalamnya.

Pesan: Percayalah bahwa penggerak utama menuju kesuksesan, keunggulan dan prestasi adalah keimanan, ketaatan, akhlak, mentalitas, kemampuan, kemauan, dan tekad yang kuat, bukan nasab keturunan, warna kulit, harta, atau rupa.

Nabi saw mengajari kita agar setiap pagi dan sore berdoa memohon perlindungan dari sejumlah mentalitas negatif yang menjadi penghalang kesuksesan:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gelisah dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dominasi orang (Bukhari 6369)

Al-Hammu (gelisah) adalah kerisauam yang disebabkan oleh faktor internal (dari dalam diri kita sendiri), seperti fikiran-fikiran dan perasaan-perasaan yang salah dan negatif. Misalnya berfikir selalu gagal, tidak mampu, tidak layak, buruk sangka, atau selalu berfikir duniawi, karena dunia makin dipikirkan makin membuat sedih dan galau. Atau perasaan negatif seperti merasa dipinggirkan atau disingkirkan, merasa sial, merasa tidak berguna, merasa tidak dilibatkan, merasa tidak dihargai, dan lainnya. Semua fikiran dan perasaan negatif ini bisa menimbulkan kegelisahan dan pada gilirannya membuat seseorang kehilangan semangat dan energi.

Al-Hazan (sedih) adalah kegalauan yang disebabkan oleh faktor eksternal seperti musibah, cobaan, kegagalan dan lainnya. Bila salah menyikapinya maka hal tersebut bisa memunculkan kesedihan berlarut dan pada gilirannya bisa membuat seseorang lesu dan tidak punya gairah hidup, karena selalu murung.

Al-Ajzu (kelemahan), lemah mental dan semangat, akibat tidak mau belajar, berjuang, berlatih, dan melewati hambatan. Kalau lemah fisik biasanya dingkapkan dengan adh-dha’fu . Banyak orang yang secara fisik lemah atau tidak sempurna tetapi kelemahannya itu tidak menghalanginya untuk berprestasi dan sukses, karena punya mental yang kuat dan semangat tinggi. Sekalipun berbadan kuat dan sehat tetapi jika lemah mental dan semangat biasanya tidak sukses.

Al-Kasal (kemalasan). Kemalasan adalah rukun utama kegagalan, karena Allah menciptakan kehidupan dunia sebagai tempat berjuang keras. Karena itu, Allah mewajibkan kita usaha untuk mendapatkan rezki-Nya dan tidak hanya berpangku tangan mengharapkan datangnya rezki. Allah Maha Kuasa mengirim buah kurma yang masak kepada Maryam tanpa usaha apa pun darinya, karena Maryam dalam keadaan lemah setelah melahirkan. Tetapi Allah tetap menyuruhnya melakukan usaha sekalipun hanya dengan menggoyang-goyang pohon kurma, lalu pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak kepadanya (Maryam: 25).

Al-Jubnu (sifat pengecut) yaitu rasa takut yang berlebihan sehingga membuat seseorang tidak berani berjihad karena takut mati, tidak berani berbisnis karena takut rugi, tidak berani mencoba karena takut gagal, tidak berani berdakwah karena takut menghambat karir, jabatan, bisnis atau pekerjaan, tidak berani berinfaq karena takut miskin, tidak berani bertarung karena takut luka, tidak berani bepergian karena takut kecelakaan, tidak berani naik karena takut jatuh, tidak berani belajar karena takut ujian, tidak berani menunjukkan identitas Islam karena takut celaan, tidak berani menyampaikan kebenaran karena takut diputus bantuan, hingga akhirnya nenjadi orang yang tidak berdaya guna.

Al-Bukhlu (kikir), sifat ini menghambat seseorang dari berkontribusi moril dan materil, sehingga dalam perjuangan bersama ia sekalu berfikir saya dapat apa. Jika tidak mendapat apa-apa, ia tidak mau bergerak memberikan kontribusi untuk Islam dan kaum muslimin. Karena itu, Allah menyebut orang yang terhindar dari sifat ini sebagai orang yang sukses (al-Hasyr: 9). Bahkan sifat kikir merugikan diri sendiri. Di rumah sakit banyak orang kaya dirawat karena kekuranfan gizi. Karena itu, Allah mengajari orang-orang bertakwa agar membiasakan betinfaq dan berkontribusi sejak dari sebelum berpunya (karena kikir bukan monopoli orang kaya saja) dan setelah berpunya (Ali Imran: 134) agar terhindar dari penyakit ini.

Ghalabatid-dain. (lilitan hutang), termasuk hutang budi karena terlalu banyak menerima pemberian sehingga tidak mandiri dalam berpendapat dan bersikap. Kemerdekaannya tergadai oleh pemberian yang diterimanya. Ini bisa menghambat kreatifitas, kemandirian, dan kesuksesan.

Qahrir-rijal (dominasi orang), apalagi jika dia hanya menjadi single fighter, tidak mau bergabung bersama jama’ah kaum muslimin hingga ia tidak mampu menghadapi bujukan, godaan atau ancaman. Nabi saw mengingatkan:

“Kalian harus berjama’ah dan jangan berpecah belah, karena setan bersama orang yang sendirian, dan dari dua orang lebih jauh. Siapa yang ingin tinggal di tengah surga maka ia harus komit dengan jama’ah” (SubanTirmidzi 2165)