“Maafkan Foto-foto Keluarga Kami”

Diposting pada 5.477 views

Ngelmu.co – Linimasa dipenuhi foto orang-orang yang tersenyum menghadap kamera. Di lapangan, Masjid, hingga ruang tamu yang penuh dengan toples. Tetapi satu-dua orang memilih berbeda. Isi statusnya berbentuk kritik kepada orang-orang yang tersenyum, memakai baju baru, dan kekenyangan karena ketupat itu. Mereka menganggapnya lebay, pamer, dan terlalu mainstream. Kalimat-kalimatnya sinis.

Perjuangan Para Pemudik untuk bisa Sampai di Kampung Halaman

Saya kira, itu dosa pertama dan sangat buruk bagi seseorang yang baru saja menuntaskan puasa dan tarawih selama sebulan penuh. Apalagi jika tidak? Sehebat apa pun Anda, sisakanlah empati untuk mereka yang sedang menunjukkan rasa syukur.

Iya, bagi saya, upload foto-foto itu lebih pada luapan kebahagiaan. Sebab saya tahu betul, banyak yang berjuang sangat keras untuk bisa satu frame dengan orang-orang terkasih.

Ada yang selama setahun ini babak belur di tanah rantau. Namun, memaksakan pulang meski harus menebus tiket pesawat yang mahalnya minta ampun.

Bahkan bukan tidak mungkin, seat di kabin kelas ekonomi baru didapat setelah menitip emas atau sertifikat rumah di Pegadaian.

Ada juga yang justru baru bisa pulang kampung setelah belasan jam naik sepeda motor. Menerobos macet dan hujan. Badan remuk, paru-paru penuh angin.

Beberapa teman saya mengaku, akhirnya bisa mudik setelah berupaya keras membujuk HRD kantornya. Itu pun cuma dapat izin sehari.

Pukul 10.00 teng di 1 Syawal, sudah harus masuk kantor lagi di kota. Mereka langsung berangkat setelah salat Id, menyalami Bapak dan Ibunya, hanya dengan makan dua lapis buras.

Lainnya adalah mereka yang pulang kampung setelah mengumpulkan pinjaman dari tetangga. Sebab perjalanan untuk berlebaran di tanah kelahiran sangat memakan ongkos.

Bensin, makan di warung, dan tiba di kampung harus membagi amplop kepada puluhan keponakan, atau bahkan om dan tante. Orang-orang yang tak tahu dompet kita sesungguhnya sangatlah tipis. Dan memang sebaiknya, mereka tidak tahu.

Maka, saat kemudian mereka melampiaskannya dengan foto bersama, terlalu jahat jika kita membuat penilaian buruk.

Apa salahnya jika mereka ingin satu bingkai dengan orangtua, saudara, dan anak-anaknya? Foto yang kelak akan mereka cetak 10 atau 15 R, untuk dipajang di ruang tamu.

Foto yang di kemudian hari tentu sangat berguna untuk dijadikan kenangan. Apalagi ketika tahun demi tahun berganti, satu-dua orang akan bergantian pergi menghadap Ilahi.

Itulah mengapa gambar yang diambil di lapangan, Masjid, hingga ruang tamu yang penuh dengan toples itu sangat berharga. Izinkanlah mereka menikmati kebersamaan, sekaligus mempersiapkan kenangannya.

Selamat Idul Fitri, ya. Maafkan segala khilaf kami, termasuk khilaf karena membanjiri beranda media sosial kalian dengan foto bersama orang-orang yang kami sayangi. Orang-orang yang mungkin tidak Anda kenal, tetapi sangat penting untuk kesehatan jiwa kami.

Biarkanlah kami makan-makan dan selfie-selfie, tolong jangan sinis. Kamu bisa menutup media sosialmu sementara saja, kalau memang masih sakit hati melihat postingan bahagia milik orang lain. Karena bahagia itu diciptakan sendiri, bukan berasal dari orang lain.

Ditulis Oleh: Imam Dzulkifli