Saya Ibu Indonesia

SAYA IBU INDONESIA, Puisi Jawaban dari IBU INDONESIA

Saya Ibu Indonesia, begitulah judul puisi yang ditulis oleh Dewi nur aisyah, seorang Mahasiswa S3 di University College London dengan fokus infectious disease epidemiology and population health. Sosoknya sungguh membanggakan karena studinya dan penelitinya di Eropa. Dikutip dari BBC, Dewi Aisyah, bersama rekan-rekan mahasiswa Doktoral lain meluncurkan alat pemeriksa kasus TBC yang dinamakan TB DeCare. Alat untuk memeriksa dahak penderita TBC yang membawa tim Garuda45 mendapatkan penghargaan Imagine Cup Student Competition oleh Microsoft. Alat tersebut segera dapat digunakan dan dimulai di Surabaya, Jawa Timur dengan dukungan pemerintah kota.

Walaupun tidak tertulis dalam unggahan dewi di akun Instagramnya, namun banyak netizen yang mengetahui bahwa Puisi Saya Ibu Indonesia merupakan balasan dari puisi Ibu Indonesia yang menyinggung banyak pihak, terutama muslimah yang mengenakan Jilbab.

Dalam Puisi “SAYA IBU INDONESIA”, dewi seakan ingin mengatakan bahwa jilbab bukanlah penghalang untuk menjadi seorang IBU INDONESIA. Apalagi bila bisa memberikan kebermanfaatan yang banyak bagi dunia. Kebanggaan atas Indonesia juga dimiliki oleh muslimah yang dengan sadar mengenakan jilbab. Kita juga mengetahui bahwa banyak Pahlawan Wanita yang mengenakan Jilbab berjuang untuk kemerdekaan dan mengisinya.

 

Berikut Puisi yang dituliskan oleh Dewi nur aisyah :

 

SAYA IBU INDONESIA

Saya adalah ibu Indonesia,
terlahir dari rahim wanita Indonesia,
tumbuh besar dan mengenyam pendidikan di Indonesia.

Saya adalah ibu Indonesia,
terlahir dari ibunda berdarah Jawa,
Namun bisa jadi,
ibu Indonesia kita berbeda definisi.

Dari ibunda, yang saya ingat adalah sejuknya ibadah dlm selembar mukena putih suci,
Yang saya ingat wajah teduhnya dalam percik air wudhu pagi, 
Tekunnya mengaji, mengeja lantunan ayat-ayat suci,
Saya mendengar kidung shalawat dan doa terbaik untuk anaknya ini,
Pun ajarannya untuk mengenakan hijab, mempelajari agama dan syariat Ilahi.

Dari rahim ibu Indonesia, saya mulai menemukan makna,
Bagaimana menjadi Ibu Indonesia yang sebenarnya,
Bagaimana menjadi seorang muslimah taat tanpa mengenyampingkan identitas saya sebagai seorang putri bangsa.

Maka menjadilah saya,
Yang kemanapun pergi, kecintaan kpd tanah air tak pernah hilang dr hati,
Yang tak malu utk mengenakan hijab sbg identitas diri,
Yang terbiasa menjadi peserta muslimah Indonesia seorang diri,
Tak enggan mengenakan pakaian taqwa, dan menjawab bangga saat ditanya,
Where do you come from? Indonesia…

Maka menjadilah saya, 
Yang tak enggan utk menunjukkan eksistensi di tengah keterasingan kolega dari Inggris atau Eropa,
Membawa nama bangsa di kancah internasional dgn semangat merah putih dlm dada,
Mengenakan batik, lengkap dgn hijab syar’i, dan menjawab bangga saat ditanya,
Where do you come from?

Indonesia…

Saya adalah Ibu Indonesia,
Yang mengejahwantahkan makna tetap dalam syariat agama,
Membawa identitas bangsa dimanapun berada,
Lengkap dgn identitas taqwa yg melekat sbg seorang hamba,
Dan saya tetap bangga saat selalu ditanya,
Where do you come from?

INDONESIA!

 

 

SAYA IBU.INDONESIA . Saya adalah ibu Indonesia, terlahir dari rahim wanita Indonesia, tumbuh besar dan mengenyam pendidikan di Indonesia. . Saya adalah ibu Indonesia, terlahir dari ibunda berdarah Jawa, Namun bisa jadi, ibu Indonesia kita berbeda definisi. . Dari ibunda, yang saya ingat adalah sejuknya ibadah dlm selembar mukena putih suci, Yang saya ingat wajah teduhnya dalam percik air wudhu pagi, Tekunnya mengaji, mengeja lantunan ayat-ayat suci, Saya mendengar kidung shalawat dan doa terbaik untuk anaknya ini, Pun ajarannya untuk mengenakan hijab, mempelajari agama dan syariat Ilahi. . Dari rahim ibu Indonesia, saya mulai menemukan makna, Bagaimana menjadi Ibu Indonesia yang sebenarnya, Bagaimana menjadi seorang muslimah taat tanpa mengenyampingkan identitas saya sebagai seorang putri bangsa. . Maka menjadilah saya, Yang kemanapun pergi, kecintaan kpd tanah air tak pernah hilang dr hati, Yang tak malu utk mengenakan hijab sbg identitas diri, Yang terbiasa menjadi peserta muslimah Indonesia seorang diri, Tak enggan mengenakan pakaian taqwa, dan menjawab bangga saat ditanya, Where do you come from? Indonesia… . Maka menjadilah saya, Yang tak enggan utk menunjukkan eksistensi di tengah keterasingan kolega dari Inggris atau Eropa, Membawa nama bangsa di kancah internasional dgn semangat merah putih dlm dada, Mengenakan batik, lengkap dgn hijab syar’i, dan menjawab bangga saat ditanya, Where do you come from? Indonesia… . Saya adalah Ibu Indonesia, Yang mengejahwantahkan makna tetap dalam syariat agama, Membawa identitas bangsa dimanapun berada, Lengkap dgn identitas taqwa yg melekat sbg seorang hamba, Dan saya tetap bangga saat selalu ditanya, Where do you come from? INDONESIA! . #IbuIndonesia #MuslimahIndonesia

A post shared by Dewi Nur Aisyah (@dewi.n.aisyah) on

 

Banyak netizen yang mengomentari puisi “Saya Ibu Indonesia” dalam laman Instagramnya. Semua sudah tahu sama tahu bahwa ini adalah respon dari Puisi Ibu Indonesia yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri pada Pagelaran Busana 29 Tahun Anne Avantie. Dalam acara yang dihelat di Jakarta Convention Center, Kamis (29/3/2018) itu, Sukmawati membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia yang melecehkan syariat Islam dan suara azan. Berikut beberapa komentar Netizen:

@violitasinda MasyaAllah kaka 💙 dan semua perempuan indonesia kelak kan menjadi ibu Indonesia

@evaanrhsnh Adem bacanya. Sgt menyentuh. masyaaAllah :”))

@Isnanistiyana Merinding bacanyaa… apakah yg mempuisikan ibu indonesia dg makna yg amat menyudutkan kita itu telah mengharumkan nama bangsa seperti mbak @dewi.n.aisyah ini.. sungguh dia mengikuti ajakan syaithon

@mis_ariskaa Teh dewi..💕💖💖 semoga kita bnyk mengambil pelajaran dari hal yang terjadi terutama muslimah, tau akan posisi dan kewajibannya😭

@sumarnisura Subhanaullah’ puisi ini patas di bacakan oleh seorang ibu yg benar2 ibu n dia adalah orang indonesia’

@mardiahfebriyanti Subhanallah salut tuk km @dewi.n.aisyah semoga Allah selalu melindungi km Dan keluarga 😇😊

@meylinasuherdanti Puisi ini yang seharusnya dibacakan oleh seorang yg notabene negarawan… sedih rasanya dengan ramainya berita tersebut.. Tabarakallah u Mba Dewi dan keluarga.. indahnya tulisan2 Mba 😘😍

 

Dikutip dari dewinaisyah.wordpress.com, Dewi Nur Aisyah adalah salah seorang epidemiologist dari Indonesia sekaligus ibu muda yang lahir dan besar di Jakarta. Menjalani studi S1 nya selama 3,5 tahun di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, lulus dengan IPK cumlaude serta mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi utama FKM UI tahun 2009.

Dewi melanjutkan studi S2 Imperial College London, universitas peringkat ke-3 terbaik di dunia pada tahun 2011, berbekal Beasiswa Unggulan dari DIKTI. Lalu melanjutkan studi S3 di University College London dengan fokus infectious disease epidemiology and population health. Ia mendapatkan beasiswa prestisius dari Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI), lolos seleksi dari ribuan calon pendaftar lainnya dan dilantik langsung oleh Presiden RI, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2014.

Dewi pernah menjabat sebagai Program Development Manager di INDOHUN (Indonesia One Health University Network) kini masih aktif membantu kegiatan penelitian di Emerging Zoonotic and Infectious Disease – Health Policy Research Group, Universitas Indonesia. Dewi memiliki kapasitas penelitian yang bagus, jaringan riset yang luas, sukses membangun kolaborasi internasional di wilayah Asia Tenggara dan Eropa. Aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, social project dan kompetisi-kompetisi internasional. Dewi juga membentuk Team Garuda45 yang ingin ‘selamatkan ratusan ribu penderita TBC’.