Pahlawan Nasional Wanita di Indonesia

Pahlawan Nasional Wanita
Sumber : sangpencerah.id

Pahlawan Nasional Wanita dalam kenangan. Kata “Pahlawan” Secara etimologi berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Banyak dari Generasi Milenial yang hanya mengenal R.A Kartini dan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia. Padahal sesungguhnya masih banyak pejuang-pejuang wanita Indonesia yang membela negara Indonesia dari penjajahan.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala, dimana perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memberikan pengaruh pada tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Agar generasi milenial tidak melupakan jasa dan pengorbanan para Pahlawan Nasional Wanita dalam memperjuangkan negara Indonesia, Berikut Ngelmu tuliskan beberapa Profil Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang didapat dari berbagai sumber.

 

R.A Kartini

Sumber : Liputan6.com

Banyak yang sudah mengenal beliau. Raden Adjeng Kartini lahir pada 21 April 1979 di Jepara, Jawa Tengah. Beliau meninggal di Rembang, Jawa Tengah, pada 17 September 1904. Kartini adalah tokoh Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang setiap tanggal 21 April diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia setiap tahunnya. Kontribusinya membuka mata masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi kaum wanita Indonesia.

R.A Kartini lahir dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A Ngasirah. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang patih yang diangkat menjadi Bupati. M.A Ngasirah adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Berbekal keahliannya dalam berbahasa Belanda, kartini belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondesi yang berasal dari Belanda, Salah satunya adalah Rosa Abenanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita-wanita Eropa dan timbul keinginannya untuk memajukan perempuan Indonesia. Karena Kartini melihat perempuan Indonesia pada saat itu berada pada status sosial yang rendah.

 

Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang adalah Pahlawan Nasional Wanita Indonesia kelahiran Serang, Purwodadi, Jawa Tengah  pada tahun 1752. Pahlawan yang bernama asli Raden Ajeng Kustiy Wulaningsih Retno Edi ini meninggal di Yogyakarta pada tahun 1828. Beliay adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayh terpencil dari Kerajaan Mataram atau tepatnya di wilayah Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan – Sragen.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga dan Ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan Nasional yaitu Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Namanya kini Mulai Terlupakan karena mungkin namanya tak setenar Pahlawan Nasional Wanita lainnya seperti R.A Kartina atau Cut Nya Dien. Padahal tapi Ia sangat berjasa bagi negeri ini. Warga Kulon Progo mengabadikan dirinya dengan sebuah monumen ditengah kota Wates, dibuatkan patungnya yang sedang menunggang kuda dengan gagah berani membawa tombak.

 

 

Dewi Sartika

Sumber : Wikipedia

Dewi Sartika merupakan Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang lahir di kota Bandung, 4 Desember 1884. Beliau meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947. Dewi sartika merupakan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika merupakan putri dari pasangan Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas yang pada waktu itu menjadi patih di Bandung. Karena ayahnya pernah menantang Pemerintah Hindia Belanda, maka istrinya dibuang ke Ternate sementara Dewi Sartika dititipkan pada pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Pada tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata dan memiliki putra yang bernama R. Atot yang merupakan ketua umum BIVB, Sebuah klub sepakbola yang merupakan cikal bakal dari Persib Bandung.  Suaminya merupakan orang yang mempunyai visi-misi yang sama dalam memperjuangkan pendidikan. Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan, Sejak 1902. Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia Belanda

Ketertarikan beliau untuk menjadi seorang pendidik muncul sejak dirinya masih belia. Pahlawan Nasional Wanita yang satu ini, selalu menyempatkan diri untuk mengajari baca-tulis anak-anak pembantu di lingkungan kepatihan. Atas jasa-jasanya, Dewi Sartika dinyatakan sebagai pahlawan nasional lewat SK Nomor 252 Tahun 1966.

 

Maria Walanda Maramis

Sumber : kemdikbud.go.id

Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang satu ini merupakan Wanita kelahiran Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872. Maria Josephine Catherine Maramis, yang dikenal dengan Maria Walanda Maramis meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924. Maria menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda yang merupakan seorang guru bahasa pada tahun 1890.

Setiap tanggal 1 Desember, Masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan. Untuk mengenang jasa-jasanya, telah dibangun Patung Walanda Maramis di daerah Komo Luar, Kecamatan Wenang, sekitar 15 menit dari kota Manado yang dapat ditempuh dengan angkutan darat.

 

Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien, Pahlawan nasional Wanita yang lahir Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848. Beliau meninggal di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908. Kebenciannya pada pasukan kolonial Belanda mulai timbul semenjak Belanda menyerang Aceh untuk pertama kalinya pada 26 Maret 1873. Suaminya, Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Namun Ibrahim Lamnga tewas di Gie Tarumpada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah menghancurkan Belanda.

Teuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda, memberanikan diri untuk melamar Cut Nyak Dhien. Walaupun diawali dengan penolakan, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka berdua bertempur bersama melawan Belanda. Teuku Umar gugur terlebih dahulu saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Pahlawan Nasional Wanita ini pun harus berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya.

Karena sudah berusia tua, gerakannya menjadi lambat, Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Namun ternyata Keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Hal itu membuat penjajah memutuskan untuk membuang Cut Nyak Dhien ke Sumedang, hingga akhirnya meninggal.

 

Martha Christina Tiahahu

Sumber : indonesiaexpat.biz

Pahlawan Nasional Wanita yang satu ini merupakan  kelahiran Nusalaut, Maluku, 4 Januari 1800. Martha Chirtina Tiahahu meninggal di Laut Banda, Maluku, pada 2 Januari 1818. Beliau tercatat sebagai seorang Pahlawan Nasional Wanita yang unik, karena merupakan seorang putri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam Perang Pattimura tahun 1817. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu dan juga membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina Tiahahu bertempur melawan Belanda demi mempertahankan tanah Maluku yang kaya hasil bumi.

Pada pertempuran di Desa Ouw, Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua, tampak hebatnya Chirtina Tiahahu saat menggempur musuh. Sayangnya, karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman. Ada yang harus mati di gantung dan ada yang di buang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu di vonis hukum mati tembak, Martha Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati. Namun Ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilya ke hutan. Namun akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Martha Christina Tiahahu ditetapkan sebagai pahlawan nasional lewat SK Nomor 012/TK/1969.

 

Cut Nyak Meutia

Sumber : ipji.org

Cut Nyak Meutia adalah Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari daerah Aceh. Beliau lahir pada tahun 1970 di Keureutoe, Pirak Aceh Utara. Beliau dimakamkan di Alue Kurieng, pada 24 Oktober 1910. Ia menjadi Pahlwan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Bersama suaminya, Teuku Tjik Tunong, ia memimpin perang di daerah Pasai. Untuk menghadapi pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap, pasangan suami-istri itu menggunakan taktik gerilya. Cut Nyak Meutia juga kehilangan suaminya, Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong, yang merupakan teman perjuangan melawan penjajah. Pada Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap oleh Belanda dan di hukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Tjik Tunong, Sebelum meninggal, berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Mengikuti pesan suami terdahulunya, Cut Nyak Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Namun, Cut Nyak Meutia  harus kehilangan lagi suaminya pada tanggal 26 september 1910, saat berlangsung pertempuran dengan Korps Marechausee di Paya Cicem. Pang Nagroe melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas, sedangkan Cut Nyak Meutia dan wanita lainnya diungsikan ke dalam hutan.

Kejadian tersebut tidak menyurutkan perjuangannya. Beliau bangkit dan terus berjuang melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya. Hingga akhirnya pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Nyak Meutia bersama pasukannya bentrok dengan Marechausee di Alue Kurieng yang dalam pertempuran tersebut Cut Nyak Meutia gugur.

 

Hj. R. Rasuna Said

Sumber : pinkkorset.com

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 14 September 1910. Beliau meninggal di Jakarta, 2 November 1965. Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dan pantas dikenang akan jasanya oleh generasi muda Indonesia. Beliau memulai aktivitasnya di organisasi Sarekat Rakyat. Setelah itu ia ikut dalam berbagai gerakan pemuda dan mengungkapkan keresahan-keresahannya dalam pidatonya yang berisi. Ia meninggal pada tahun 1965 dan dinobatkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Wanita Indonesia.

 

Opu Daeng Risadju

Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Opu Daeng Risadju merupakan Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Sulawesi Selatan. Opu Daeng Risadju berani memimpin pemberontakan untuk melawan tentara NICA, Meskipun perempuan, yang datang ke Sulawesi Selatan. Sayangnya, Ia berhasil di tangkap dan disiksa oleh para penjajah. Pemerintah Republik Indonesia menobatkan Opu Daeng Risadju sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia pada tahun 2006, Atas jasa dan keberaniannya melawan penjajah Belanda.

 

Siti Manggopoh

Siti Manggopoh merupakan Pahlawan Nasional Wanita dari Manggopoh, Agam, Sumatera Barat. Pada tahun 1908 mulai melakukan perlawanan terhadap kebikjakan ekonomi Belanda melalui Pajak Uang (Belasting) yang disebut dengan Perang Belasting. Peraturan Belasting dianggap bertentangan dengan dengan Adat Minangkabau.

Penjajah Belanda sangat kewalahan menghadapi perjuangan tokoh pejuang perempuan Minangkabau ini. Sehingga Pada tanggal 16 Juni 1908, Belanda meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh.

Beliau pernah merasa bimbang saat akan melakukan penyerangan ke benteng Belanda. Dia terhimpit atas rasa keibuan terhadap anaknya yang erat menyusu, sedangkan disatu sisi ada panggilan jiwa ia ingin melepaskan rakyat dari penjajahan Belanda. Dengan tekadnya yang kuat, akhirnya dia memilih untuk untuk membantu rakyat, dengan tetap memperhatikan tanggung jawabnya sebagai ibu. Anaknya yang bernama Dalima, ia bawa melarikan diri ke hutan selama 17 hari dan juga dibawa bersama ketika harus tertangkap dan dipenjara selama 14 bulan di Lubuk Basum, Agam, Sumatera Barat.

 

Nyai Ahmad Dahlan

Pahlawan Nasional Wanita
Sumber : sangpencerah.id

Nyai Ahmad Dahlan dilahirkan dari keluarga pemuka agama Islam dan penghulu resmi Keraton Yogyakarta, Kyai Haji Fadhil. Beliau bernama asli Siti Walidah. Dia hanya mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya dan tak pernah mengenyam pendidikan umum. Hingga akhirnya Siti Walidah menikah dengan sepupunya, yang menjadi pendiri organisasi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Keterlibatannya dalam Muhammadiyah dimulai saat dirinya ikut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno (Siapa Cinta) pada 1914. Dalam pengajian itu, suami-istri tersebut ikut menyampaikan kajian-kajian agama secara bergantian. Nyai Ahmad Dahlan, mengembangkan Sopo Tresno menjadi organisasi kewanitaan berbasis agama Islam, Aisyah. Setelah organisasi tersebut mapan, dibukalah asrama dan sekolah putri. Nyai Ahmad Dahlan melakukan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan dan mengadakan kursus agama Islam.

 

Malahayati

Sumber : Wikipedia

Malahayati merupakan Pahlawan Nasional Wanita yang berasal dari Kesultanan Aceh. Mempunyai nama asli, Keumalahayati. Beliau mempunyai ayah yang bernama Laksamana Mahmud Syah, Kakek dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, Putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530 – 1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah, pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Pada tahun 1585-1604, Malahayati memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada tanggal 11 September 1599. Dia juga berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Atas keberaniannya ini Ia mendapat gelar Laksamana sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan Laksamana Malahayati.  Laksamana Malahayati pun akhirnya dijadikan nama Pelabuhan Laut di Aceh.

 

Nah itulah beberapa profil singkat dari Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang telah berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Marilah kita mengenang jasa dan pengorbanannya dengan cara meneruskan perjuangan mereka untuk tetap membangun negara yang kita cintai ini. Kids Zaman Now  juga bisa jadi Pahlawan dengan cara yang berbeda. Jangan sampai negara kita dijajah kembali atau malah kita dijajah oleh bangsa kita sendiri baik yang pribumi maupun non pribumi.