Steven Indra Wibowo: Bolak-Balik antara Katedral dan Masjid Istiqlal

Ngelmu.co – Berikut adalah kisah datangnya hidayah atas diri seorang laki-laki Tiongkok, Steven Indra Wibowo. Awalnya Steven beragama Katholik. Steven juga merupakan pengabdi di Gereja Katedral.

Diakui oleh Steven, Islam dulu bukanlah pilihan pria ini. Pilihannya dulu malah cenderung ke Budha. Karena dua generasi di atasnya pun tidak sedikit yang beragama Budha.

“Kita orang Tiongkok, kita ditancapin di kepala, lahir dimanapun di penjuru dunia kita tetap orang Tiongkok. ‘Kayaknya saya balik ke Budha deh’ karena jenuh aja dengan Katholik,” tutur Steven.

Steven merasakan kejenuhan dengan proses pembaptisan, kasih sakramen minyak dan katekisasi yang hampir setiap hari dilakukannya sebagai pengabdi di Katedral.

Adalah diawali keisengan dirinya, Steven pertama kali mengenal Islam. Keisengan itu dia lakukan ketika ia bertanya kepada teman apakah ia bisa masuk agama Islam.

“Lu serius, gereja gimana?” Katanya menirukan omongan temannya.

Dengan enteng, Steven menjawab hal itu bisa dikondisikan. Akhirnya ia membaca kalimat syahadat yang dipandu oleh ustadz dari teman tersebut. Steven pun baru mengetahui ternyata masuk Islam tidak seribet baptis dalam Katholik baginya.

Uniknya, selepas masuk Islam Steven masih melayani di gereja. Sebab ia tidak tahu harus bagaimana karena sang teman tidak mengajarinya apa-apa. Namun ia mencoba mencari-cari, menyeberang dari Katedral ke Istiqlal.

Waktu Dhuhur tiba, ia membuka jubahnya di gereja. Membuka semua perangkat ibadah kekatholikan. Hanya tersisa kalung rosario, kalung salib yang ia sembunyikan di balik bajunya.

Steven tidak bisa melepas kalung rosario tersebut karena sarung rosario itu merupakan pemberian kardinal yang tidak pernah ia lepas sebelumnya. Dengan kalung rosario, ia pun ke masjid Istiqlal untuk shalat.

Suatu saat kalung rosario yang ia kenakan ketahuan oleh seorang muslim. Muslim tersebut melihat kalungnya menyembul dari baju, di sela-sela kancing.

“Taruh di loker saja,” kata muslim tersebut yang tidak lain adalah marbot masjid.

Bapak marbot itulah yang pada akhirnya mengajarinya tentang Islam. Tentang wudhunya yang salah, hanya mengikuti orang-orang saja dan sebagainya. Sebab selama ini ia hanya observer, memperhatikan muslim lain bagaimana caranya beribadah.

Pagi ia melakukan ibadat ekaristi, lalu siangnya sholat Dhuhur, sore sholat Ashar, habis itu melayani lagi di gereja.

“Hidup saya ketika itu aneh. Serius! Hidup saya bolak-balik (dari Katedral ke Istiqlal). Oh sholat Dhuhur kayak gini, sholat Ashar kayak gini. Tapi saya nyaman dengan Islam,” kata dia.

Bolak-balik gereja masjid. Ke masjid sholat, di gereja baptis orang. Pernah ia agak terganggu dengan ibu yang mau proses katekisasi karena berbarengan dengan waktu Dhuhur.

“Nanti saja Bu. Saya mau nyeberang (Istiqlal),” kisahnya. Ia pun keluar dari pintu belakang agar tidak ketahuan ibu tersebut.

“Bapak darimana basah-basah?” tanya ibu tersebut seusai Steven sholat Dhuhur.

Steven menjelaskan bahwa ia sedang ada kerjaan kecil yang memakan keringat.

Steven pun memutuskan ketidaklaziman tersebut setelah enam bulan kemudian. Pada akhirnya Steven memutuskan untuk resign dari gereja. Seharusnya sebagai pengabdi gereja tidak ada kata resign kecuali kecuali kematian.

Papanya pun sempat heran saat Steven bilang resign.

“Ada masalah dengan iman?” tanya papanya.

Ia menjawab tidak ada. “Masalahnya saya tidak lagi di iman Katholik, Pa!¬†Saya sudah Islam,” cerita Steven

Steven saat itu menyadari ada kesalahan dalam penyampaian sehingga harus beradu fisik dengan ayahnya. Hingga akhirnya ia masuk rumah sakit. Saat masih dirawat, tidak lama kemudian datang advokat keluarga membawa beberapa lembar surat ke rumah sakit.

Steven diminta tanda tangan, “Pelepasan hak waris,” kata advokat itu. Steven pasrah saja dan sudah tahu sedari awal.

Steven pun pergi dari rumah dan menghadapi kehidupan yang lebih menantang. Alhamdulillah, hingga kini ia masih istiqomah berislam dan aktif berdakwah di Muallaf Center.