Viral Kesaksian Warganet soal ‘Tentara Bernama Abu Janda’

Diposting pada 5.947 views

Ngelmu.co – Permadi Arya alias Abu Janda, seolah tak mengenal kata cukup untuk terus melahirkan kontroversi ke tengah masyarakat. Namun, belum lama ini, ada seorang warganet yang membagikan cerita tentang pria berusia 43 tahun itu.

Adalah Erlangga Muhammad, yang menuliskan kisah bertajuk, ‘Tentara itu Bernama Abu Janda’, di media sosial Facebook, Ahad (1/12).

“Kebetulan pernah bertemu dan ngobrol panjang dengan Abu Janda, lengkap bersama gimmick botol bir yang di-pegangnya,” tulis Erlangga mengawali cerita.

Ia mengaku berdebar, saat berjalan menghampiri Abu Janda.

“Kok gue berasa deg-deg-an ya? Kayak orang lagi deketin gebetan. Iya, beneran deg-degan! Takut gak bisa atur EMOSI, bawaannya mau ngelitikin (pake jarum),” lanjut Erlangga.

Pada ceritanya itu, ia juga melampirkan dua video masing-masing berdurasi 8 dan 18 detik.

Dalam salah satu video, terlihat Abu Janda sedang memegang botol bir. Sedangkan pada video lainnya merekam percakapan dua orang itu dari kejauhan.

Erlangga membahas celotehan konyol Abu Janda, yang menyebut teroris itu punya agama, dan agamanya Islam. Cadar adalah budaya Yahudi. Hingga bendera Panji Rasulullah berwarna merah dan kuning.

“Begini jadinya ketika ada satu ‘tentara’ bernama Permadi Arya alias Abu Janda, bicara soal Islam, tanpa kecukupan dan kecakapan ilmu, dengan pendekatan ‘populer’, untuk tujuan-tujuan tertentu,” tutur Erlangga.

Ia menyebut Abu Janda sebagai ‘tentara’, karena pria kelahiran Serang itu sendiri yang menyebut dirinya tentara.

“Di suatu kesempatan, saya sempat menghampiri Abu Janda yang sedang sibuk membicarakan tentang botol bir yang dipegangnya,” aku Erlangga.

“Dari percakapan tersebut, dia mengakui bahwa dirinya adalah ‘tentara’, dari kelompok tertentu (saya gak bisa sebut). Kemudian saya tanya, kenapa memilih diksi ‘tentara’?” lanjutnya.

Namun, sebelum Abu Janda sempat menjawab, Founder Thepotomoto itu, lebih dulu meneruskan pertanyaannya.

“Kalau lo ‘tentara’, berarti ada garis komando dong? Siapa komandannya?” tanya Erlangga.

Abu Janda pun menjawab satu nama, yang merupakan salah satu petinggi dari kelompok yang disebutkan sebelumnya, tetapi tak dibeberkan oleh Erlangga.

“Sebelum dia melanjutkan, saya tanya lagi: Kalau tentara itu ‘kan ‘alat’ negara. Nah, lo ini ‘alat’ siapa? Tujuannya apa? Dibayar dong?” kata Erlangga.

Abu Janda terdiam. Tak bisa menjawab.

Melalui percakapan panjang itu, pada akhirnya, Abu Janda kembali membahas isu yang biasa ia mainkan.

“Lo gak tau sih, Bro. Ini ada orang-orang yang mau ganti ideologi Pancasila! Bla bla bla … kesebutlah nama Ustadz Felix Siauw,” ungkap Erlangga.

“Saya tanya (makin semangat), ‘Terus menurut lo, beliau dan lingkarannya otomatis radikal? Lo udah tabayun? Lo udah duduk bareng beliau bahas soal ini?’,” lanjutnya bertanya pada Abu Janda.

Pemilik akun Twitter @permadiaktivis itu pun menjawab, kata Erlangga, dengan nada lesu, “Belum”.

Erlangga pun menjawab:

“Lo mau gak gue temuin sama Ustadz Felix? Kita duduk bareng, ngobrol santai, tukar pikiran, ngopi-ngopi-lah kita.

Biar lo gak nge-gas terus. By the way, gue ini ngaji sama Ustadz Felix, (mukanya shock), terus apa lo pikir gue radikal?

Booth bir tempat lo itu ‘kan ada depan mata gue, apa gue larang?

Ini anak-anak motor (kebetulan ketemu pas ada acara komunitas motor), kita happy-happy bareng, gak ada masalah.

Lo masih pikir gue radikal? Teman-teman gue, banyak yang non-Muslim, kita senang-senang bareng di sini.

Kita saling hormat, gak ada masalah sama sekali! Apa lo masih pikir gue radikal?

Justru, narasi-narasi yang lo bangun itu, bahaya buat kita-kita, Bro!” ujarnya bersemangat.

Hening. Abu Janda terdiam.

“Gimana? Mau ‘kan kita ngopi bareng Ustadz Felix?” tanya Erlangga lagi.

“Boleh, boleh banget,” jawab Abu Janda dengan gaya yang ‘antusias’.

Maka, mereka pun bertukar nomor telepon. Namun, sudah satu bulan berlalu, Erlangga mengaku, ajakannya via WhatsApp maupun telepon, sampai detik ini belum di-respons oleh Abu Janda.

“Tentara itu bernama Abu Janda. Teriak Pancasila, tapi justru merusak tatanan sosial bernegara,” tulis Erlangga menutup cerita.

Baca Juga: Geram, Pengacara Palestina Sebut Abu Janda Pengkhianat